
Angelo memasuki kediamannya dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya. Dia tak pernah sebahagia ini ketika pulang bekerja. Pernyataan Fania pagi itu ternyata membawa pengaruh baik untuk dirinya. Dengan langkah lebar dia menuju kamar wanita yang akan menjadi calon istrinya.
Para pelayan yang melihat pancaran kebahagiaan di wajah sang tuan pun turut merasakan bahagia, terutama Ina. Sudah lama wanita baya itu tak melihat tuannya sebahagia itu. Dan kini, Fania telah berhasil mengembalikan tuannya yang dulu. Dia sangat bersyukur tuannya bisa bertemu dengan gadis itu, meskipun pertemuan mereka sebuah kesalahan.
Gustav berdehem keras karena merasa diabaikan oleh putranya. Bukan tidak bahagia, tetapi hanya ingin menyadarkan jika dirinya juga berada di ruangan itu.
''Jatuh cinta bisa membuat orang lupa dengan segalanya, yang ada dipikirannya hanya sang kekasih hati."
Angelo yang hendak membuka kenop pintu terpaksa urung ketika mendengar sindiran ayahnya.
''Kau menyindirku."
''Tidak! Siapa yang menyindirmu? Aku hanya menggoda Ina. Dia jatuh cinta sama sopir pribadimu." Pria baya itu mengelak, sedangkan Ina yang berada tak jauh darinya mendelik kesal karena dijadikan kambing hitam.
''Benar begitu, Ina?" Ello meminta penjelasan.
''Ten-tentu saja tidak. Jangan dengarkan mulut lemes-nya," jawab Ina dengan sinis.
''Iya juga tidak apa-apa. Kalau mau titip salam, silahkan! Nanti pasti ku sampaikan." Angelo pun turut menggoda wanita berumur 50 tahun itu.
''Sudahlah! Aku ingin menemui ibu dari anakku. Kalian menghalangi jalanku saja."
Angelo segera membuka pintu kamar. Namun, baru beberapa menit memasuki ruangan itu, dia kembali keluar dengan wajah paniknya ketika tak mendapati calon istrinya berada di tempat. Pikiran buruk mulai merasukinya, takut jika kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu terulang kembali.
''Fania! Di mana kamu?"
''Fania!"
Semua orang yang ada di sana hanya menatap heran melihat kepanikan tuannya. Pasalnya, baru beberapa menit yang lalu dia masuk dengan senyum merekah. Namun, belum sampai satu menit, dia keluar dengan berteriak seperti orang gila.
''Kenapa kalian diam saja?! Cepat cari calon istriku, aku tidak mau dia kabur lagi!" Angelo berteriak memarahi semua pelayan yang masih menyelesaikan pekerjaannya, bahkan para anak buah yang berjaga pun ikut terkena imbasnya.
''Lihatlah, Gustav! Lama-kelamaan anak angkatmu itu gila karena cinta." Ina berkomentar.
''Diamlah! Kuadukan padanya tau rasa kamu," ancam Gustav, "daripada kau diam disini, sebaiknya kau beritahu keberadaan Fania. Sebelum dia menghancurkan isi rumah ini."
Ina yang tengah menyiapkan makan malam terpaksa menghentikan kegiatannya, lalu bergegas menghampiri Angelo untuk memberitahu.
''Nona Fania ada di taman, Tuan. Katanya suntuk di kamar ingin mencari udara segar."
''Kenapa tidak bilang dari tadi?!" bentak pria itu.
Ina hanya bisa mengusap dadanya pelan, beruntung tidak memiliki riwayat penyakit jantung, pikirnya.
__ADS_1
...----------------...
Fania yang tengah menikmati udara malam tiba-tiba dikejutkan dengan belitan tangan kekar dari arah belakang. Tanpa menoleh pun ia paham dengan si pemilik tangan kekar, siapa lagi disini yang berani menyentuhnya jika buka pria tua yang akan menjadi calon suaminya. Terpaan nafas hangat pria sangat terasa menyapu permukaan lehernya.
''Aku kalut saat kau tidak ada di kamarmu. Aku takut kau pergi lagi," bisiknya seraya mengeratkan pelukan.
''Aku tidak akan lari, kau memperketat penjagaanku," ujarnya jengah dengan menggerakkan dagu, menunjuk dua orang pria berbadan besar berada tak jauh darinya.
Angelo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malu sendiri bagaimana mungkin dia bisa lupa akan hal itu.
''Aku melupakannya."
''Dasar pikun!"
Pria itu mendelik tajam. "Apa katamu?"
''Pikun, kenapa? Kau mau marah? Silahkan! Itu artinya kau tidak sadar diri jika dirimu tua."
Dua penjaga yang mendengar itupun tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, tetapi mereka hanya bisa tertawa pelan. Mereka salut atas keberanian wanita muda itu. Dia orang pertama yang berani menghina bos-nya.
Angelo yang menyadari tingkah laku kedua anak buahnya sontak melayangkan tatapan tajam ke arah mereka. Yang membuat mereka terbungkam seketika.
''Bagaimana mungkin aku marah dengan calon istriku? Hina aku sesuka hatimu asal kau tetap di sisiku. Jangan pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranmu untuk pergi dariku. Kau dan anak ini sangat berarti untukku." Pria itu mengecup berulang-ulang puncak kepala wanita itu.
''Aku gak mempan gombalan."
Angelo langsung menghadapkan tubuh mungil itu kearahnya, lalu menatap lekat wajahnya.
''Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, aku tidak pernah jatuh cinta. Dulu, itu bukan prioritas dalam hidupku, melainkan ada tujuan lain."
''Apa itu?" tanya Fania dengan mata memicing, berharap bisa menemukan jawaban atas rasa penasarannya.
Angelo terbungkam seribu bahasa. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya mengenai dendam masa lalunya. Lagipula, itu sudah terselesaikan, tidak perlu diungkit kembali.
''Ah, sudahlah! Itu sudah berlalu. Tidak penting untuk dibahas lagi," dalihnya.
Fania mendesah kecewa, harapannya pupus untuk mengetahui sesuatu tentang calon suaminya. Dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya secara langsung.
''Aku sudah menghubungi pihak WO yang kau minta. Mereka akan datang besok pagi, temuilah mereka. Susun pernikahan impianmu, aku akan mewujudkan."
''Ap-apa, besok? Secepat itu?''
Fania tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Ello benar-benar mempercepat pernikahan mereka. Di sisi lain, dia belum siap bertemu teman-temannya dengan kondisi yang seperti ini. Perutnya sudah sedikit membuncit, padahal kandungannya baru berusia 12 minggu.
__ADS_1
''Iya, kapan lagi, jika tidak dipercepat. Perutmu sudah mulai terlihat, jika ditunda-tunda aku takut perutmu keburu membesar. Aku tidak ingin membuatmu malu.''
''Ya sudahlah! Terserahmu saja," jawab Fania lesu.
''Apa kau masih meragukanku?"
Fania tidak menjawab hanya senyum lembut yang ia tunjukkan.
''Jika kau minta aku jujur, maka jawabanku iya. Tapi aku berusaha meyakinkan diriku. Demi bayi ini...." Fania menuntun tangan kekar itu menyentuh perutnya.
''Aku akan selalu berusaha memperkuat keyakinanmu padaku."
''Terima kasih." Fania langsung memeluk erat tubuh kekar itu, menelusupkan wajahnya pada dada bidang itu. Menghirup dalam aroma maskulin yang membuatnya tenang.
''Boleh aku meminta sesuatu?" tanya Fania mendongak menatap manik hazel itu.
''Katakanlah! Aku akan menuruti."
''Aku ingin keluargaku hadir di acara nanti, apa bisa?"
Angelo terdiam sejenak, bingung harus menjawab apa. Fania belum mengetahui kondisi keluarganya, terlebih kondisi ibunya. Ello belum siap melihat kesedihan wanita itu.
''Aku akan mengurusnya."
''Aku juga ingin mengunjungi mereka...."
''Kau tenanglah aku akan mengurusnya."
Fania mengembangkan senyumnya. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar itu.
''Terima kasih."
''Sekarang kita masuk, waktunya makan malam. Aku akan menyuapimu.''
Fania berbinar mendengarnya.
''Iya, ayo...," sahutnya antusias.
Mereka melangkah beriringan dengan tangan saling bertaut. Sungguh, dunia serasa milik berdua, sedangkan yang lain ngontrak.
''Tidurlah di kamarku,'' pinta Ello
''Jangan macam-macam, kita belum menikah!"
__ADS_1