
''Bagi duit."
''Gak ada, Pak. Uangnya udah habis buat bayar sekolah kemarin." Fena menimpali tanpa mengalihkan perhatian dari peralatan dapurnya.
''Halah, alasan! Kamu kira bapak gak tau, kalian berdua baru gajian semalam," sahut Efendi menyangkal.
''Uangnya mau dipake buat berobat ibu, Pak. Kasihan ibu....'' Fena berusaha sabar menghadapi ayahnya.
''Halah, ibumu itu sudah gila. Orang gila gak mungkin bisa waras. Daripada uang itu terbuang sia-sia mending bapak yang pegang."
''Mana uangnya? Kamu yang berikan atau bapak geledah."
Pria paruh baya itu mendesak putri bungsunya, hingga membuat Fena geram, lalu menatap tajam sang ayah.
''Apa ada jaminan jika uang itu bapak yang pegang tidak akan berakhir sia-sia? Bapak pasti minta uang buat judi, ‘kan? Atau kalau gak gitu buat bayar hutang. Bapak pikir aku gak tau kelakuan bapak di luar sana?" Fena menatap berani ayahnya. Dia tidak terima ibunya dihina seperti itu, terlebih dari mulut sang ayah.
Suasana lingkungan sekitar masih pagi, bahkan matahari masih enggan menampakkan sinarnya. Namun, keributan sudah terjadi di rumah sederhana milik keluarga Fania.
Efendi langsung naik pitam karena keinginannya tidak terpenuhi. Dulu, sewaktu masih ada Fania, setiap kali meminta uang putri sulungnya itu selalu menuruti tanpa banyak memprotes. Kini, ladang uangnya sudah hilang, dia sendiri yang kebingungan ketika membutuhkan uang dikala mendesak seperti ini.
Sebelum pergi pria paruh baya itu menendang kursi yang ada di dekatnya hingga terjatuh ke lantai, menimbulkan suara nyaring yang menggema ke seluruh penjuru rumah.
Fena hanya bisa mengusap kasar dadanya. Hampir setiap pagi kejadian seperti itu terjadi. Sang ayah selalu meminta uang jika tidak diberi, dia akan mengamuk dengan membanting sesuatu setelah itu pergi entah kemana.
Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. Suasana rumah yang semula hangat menjadi dingin senyap layaknya rumah tak berpenghuni semenjak kepergian sang kakak.
Sejak saat itu pula, ibunya menjadi lebih pendiam disertai pandangan kosongnya. Wanita paruh baya itu sangat layak disebut mayat hidup. Tubuhnya kurus kering dengan cekungan mata yang terlihat jelas, terkadang juga menangis sendiri dengan menyebut nama Fania.
Tidak ada lagi teriakan sang ibu yang selalu menggema setiap kali membangunkan dirinya dan kakak kembarnya. Tidak ada lagi celotehan Fania setiap kali mereka membuat sang ibu marah. Mungkin jika dulu, Fena akan kesal mendengar semua itu, bahkan berniat mengirim kakaknya ke laut Antartika. Namun, sekarang dia merindukan masa-masa itu. Dia ingin kakaknya berada di sini. Sempat terbesit dalam hatinya untuk mencari keberadaan kakaknya. Namun, dia bingung harus mencari kemana. Puluhan kali berusaha menghubungi nomor Fania, tetapi selalu berakhir dengan jawaban operator.
''Kakak dimana? Fena rindu," ucapnya pelan.
__ADS_1
Dia segera menghapus sisa air matanya, kemudian bersiap untuk mengurus ibunya sebelum berangkat sekolah.
Gadis itu segera menata masakannya di meja makan, hanya dua piring untuk dirinya sendiri dan Ferry—kembarannya, lalu sepiring lagi dibawa ke kamar ibunya.
Ketika melintas di depan kamar kembarannya, Fena bisa melihat jika pemuda itu masih tertidur nyenyak dalam balutan selimut. Tangan lembutnya segera mengetuk pintu itu berulang-ulang untuk membangunkannya.
''Ferry, bangun! Aku udah masak, cepetan bersihin rumah udah siang. Nanti kita telat."
Fena mendengus kesal ketika tak mendapat respon sedikitpun dari pemuda itu. Dia mengeraskan ketukannya berharap itu bisa mengusik tidurnya.
''Ferry! Lo itu tidur apa mati sih? tangan gue sampai sakit gak bangun juga," teriaknya kesal.
''Iya-iya, lima menit lagi. Udah sana pergi dulu," usir Ferry dengan melempar gulingnya.
''Awas aja, aku selesai nyuapin ibu belum bangun juga, siap-siap kena banjir lokal," serunya dengan kaki menendang pintu.
...----------------...
Dilihatnya wanita itu masih berbaring dengan posisi membelakangi pintu. Dengan langkah pelan, Fena mendekat untuk memastikan. Dugaannya benar, ibunya sudah bangun. Namun, matanya terlihat memerah dan sembab seperti habis menangis.
''Ibu sarapan dulu, aku suapin. Setelah ini, aku mau berangkat sekolah."
Fena memperlakukan ibunya dengan sangat lembut, membantunya bangun dari posisi baringnya, kemudian menata bantal pada sandaran tempat tidur agar ibunya merasa nyaman.
''Makan dulu, ya ... Biar ibu gak sakit," ucapnya mulai menyuapkan sesendok nasi.
Asih menerima suapan tanpa banyak protes, hingga beberapa menit kemudian sepiring nasi yang ada di piring tandas tak bersisa. Fena segera membereskan bekas makan ibunya. Ketika hendak beranjak tiba-tiba tangannya ditahan sang ibu.
''Maaf." Hanya itu yang terucap dari bibir Asih.
Fena berusaha keras agar kristal bening di pelupuk matanya tidak terjatuh. Dia paham sebenarnya ibunya tidaklah gila seperti yang orang-orang katakan. Dia hanya tertekan atas kepergian kakaknya.
__ADS_1
Wanita itu memalingkan wajah ke arah lain guna menyeka air matanya, kemudian beralih menatap lembut ibunya.
''Iya, tidak apa-apa. Nanti, ke dokter ya ... Biar ibu cepat sembuh. Setelah sembuh kita cari Kak Fania."
Kata andalan yang selalu diucapkan Fena untuk menyemangati sang ibu.
Asih mengembangkan senyumnya, matanya berbinar-binar saat mendengar nama putri sulungnya.
''Fania," ucapnya antusias.
''Iya, mau ‘kan ke dokter."
''Mau. Ibu mau ketemu Fania," ujarnya penuh semangat.
''Ya sudah, aku sama Ferry sekolah dulu. Nanti sepulang sekolah kita berangkat."
...----------------...
''Fer, kamu udah naruh duit semalam ke tempat yang aman?" tanya Fena menghampiri kamar kembarannya.
''Udah," jawab pemuda itu sembari merapikan rambutnya.
''Beneran? Jangan sampai uang itu ditemukan bapak. Itu uang buat periksa ibu." Fena memperingatkan.
''Iya-iya, cerewet! Panas kuping gue. Lu mirip emak-emak gak dapet jatah bulanan."
Fena merotasi bola matanya, saudara kembarnya selalu membantah setiap kali diperingatkan. Dia selalu merasa benar sendiri padahal kenyataannya sangat ceroboh.
''Lu kalo gak diceramahi panjang lebar bakal ceroboh." Fena berucap seraya melenggang keluar rumah.
''Buruan! Malah bengong. Gue gak mau telat gara-gara loe lemot."
__ADS_1
Sungguh, Ferry merasa gemas dengan adiknya. Ingin rasanya ia meremas kuat mulut kecilnya. Mungkin jiwa ibunya berpindah pada gadis itu karena kecerewetannya mirip ibunya dulu.