
Fania mengernyit kala sebuah cahaya terang masuk ke retina matanya. Perlahan namun pasti, mata lentiknya mulai mengerjap hingga akhirnya terbuka. Netranya memindai tempat yang tampak asing baginya, banyak kayu-kayu bekas lemari usang ditumpuk asal. Tempat yang jauh dari kata layak huni karena banyak debu dan sarang laba-laba di setiap sudut ruangan.
''Tempat apa ini?"
Wanita itu hendak beranjak, tetapi tertahan karena tali yang mengikat ke seluruhan tubuhnya.
"Siapa yang melakukan ini?"
''Uh, kenapa kencang sekali ikatannya?" Fania berusaha menggerakkan tubuhnya berharap kursi yang di tempati mau bergeser.
Namun, kursi tersebut tidak bergerak secenti pun, bahkan bergeser pun tidak. Justru tubuhnya kian melemah karena terlalu banyak tenaga yang dia kerahkan, terlebih perutnya belum terisi apapun sejak siang tadi.
''Tolong ... Siapapun, tolong!" Fania berteriak sekuat tenaga berharap ada yang mendengar suaranya.
''Tolong ... Tolong saya!"
Wanita itu terus berteriak hingga suaranya serak. Namun, tidak ada seorang pun yang mendengar ataupun mendatangi tempatnya.
''Ya ampun ... Aku di mana ini? Kenapa tidak ada jendela atau apapun untuk mengintip area luar." Dia memerhatikan tempat sekeliling untuk mencari celah. Nihil, matanya tidak menangkap apapun kecuali sebuah pintu yang tertutup rapat yang berada agak jauh dari tempatnya terikat.
Suara deritan pintu menyapa indra pendengarannya, siluet sosok jangkung perlahan mendekat. Fania tidak bisa melihat sosok itu karena cahaya lampu hanya menyinari tempatnya, sedangkan tempat sosok itu berada di luar lampu yang gelap.
''Siapa kamu?"
''Kau sudah bangun rupanya. Nyenyak sekali tidurmu, Nona. Itu artinya kau betah berada di sini."
Terdengar suara bariton yang membuat Fania memicing untuk mengenali suara itu.
''Siapa kamu?!" Wanita itu mengulang pertanyaannya dengan berteriak karena sudah tersulut emosi.
Bukannya menjawab, pria itu justru tergelak kencang. Tawa yang sangat menyebalkan di telinga Fania.
''Ibu hamil tidak boleh marah-marah. Kau hanya kujadikan umpan untuk memancing Angelo si keparat itu."
__ADS_1
''Kenapa harus aku?" tanya Fania menahan geram disertai tatapan tajamnya.
''Karena kau istrinya, Nona."
Fania berdecih mendengarnya.
''Kau salah langkah, Tuan. Seharusnya kau tidak menjadikanku sebagai umpan. Usahamu akan sia-sia. Dia tidak akan datang sekalipun kau menghabisiku."
''Jika kau ingin memancingnya, rebut seluruh hartanya. Aku yakin dia akan datang dalam sekejap."
''Omong kosong macam apa itu," sahut pria itu.
Dia merasa sanksi dengan ucapan wanita ini. Dia berusaha menerka-nerka bisa jadi itu hanya taktik untuk lepas dari jeratnya.
''Sepertinya dia wanita cerdik, aku harus berhati-hati jika tidak ingin semua sia-sia."
"Terserah jika Anda menganggap semua ucapanku hanya omong kosong. Tapi memang itu kenyataannya, kehadiranku tidak lebih berharga daripada hartanya. Dia menikahiku hanya karena bayi yang ‘ku kandung."
"Hei, kau mau kemana? Lepaskan aku! Lepaskan ikatan ini!"
Teriakan Fania sia-sia belaka, pria itu tidak menggubris sama sekali justru terus melangkah dengan membanting pintu. Tak lama setelahnya terdengar suara kunci diputar sebagai tanda pintu terkunci dari luar.
"Bagaimana caranya keluar dari sini?"
Fania terus menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari belenggu ini.
...----------------...
Suara dentingan ponsel membuyarkan lamunan Angelo yang tengah menikmati udara malam di balkon kamar. Dia mengernyit ketika melihat nomor asing mengirim sebuah video. Didorong rasa penasaran, dia segera membuka pesan tersebut.
Matanya terbelalak sempurna kala melihat dengan jelas kondisi sang istri tengah terikat di sebuah kursi. Bukan hanya itu, dia juga bisa mendengar jelas percakapan di dalam video tersebut.
Ting!
__ADS_1
Sebuah pesan kembali masuk yang berbunyi.
[Dia meminta dihabisi. Apa aku harus melakukannya?]
"Kurang ajar!"
Tangan kekarnya segera mendial nomor tersebut hingga terdengar nada sambung. Angelo mengumpat kasar ketika panggilannya tak kunjung diangkat, bahkan hingga nada sambungnya berakhir. Dia mengulanginya kembali, tetapi hasilnya tetap sama panggilannya hanya berakhir dengan suara operator.
''Kurang ajar! Siapa yang berani bermain-main denganku."
Pria itu segera keluar kamar, lalu berteriak memanggil Ramon yang masih berada di sana.
''Ramon!"
"Ramon!"
"Kesini cepat! Aku ada tugas untukmu.''
" Ramon!"
Suara Angelo menggelegar ke seluruh ruangan yang membuat siapapun yang mendengar tergopoh-gopoh menghampiri.
"Saya, Tuan!" seru Ramon dari arah pintu belakang.
''Lacak keberadaan nomor yang ‘ku kirim! Istriku ada di tangannya."
''Baik, Tuan."
Ramon segera berlalu untuk mengerjakan tugas. Dia harus bergerak cepat sebelum si singa jantan kembali mengamuk.
Ya, setelah puas menyiksa salah satu pelayan yang ada di rumahnya. Amarah Angelo menjadi tak terkendali. Dia melempar semua yang dapat di jangkau tangannya. Pria itu marah dirinya sendiri karena tidak becus menjaga sang istri hingga kecolongan seperti ini. Dia bahkan membentak siapapun yang berani menegurnya tak terkecuali itu Gustav.
''Takkan ku biarkan dia menyakiti istri dan calon anakku."
__ADS_1