My Blacklist Man

My Blacklist Man
Kakak Ipar?!


__ADS_3

Angelo yang baru saja mendapat kabar dari Fania pun segera menghubungi Bi Ina selaku kepala pelayan di rumahnya untuk mempersiapkan tiga kamar untuk keluarga calon istrinya. Tak lupa pula, dia juga meminta untuk memasak makanan spesial untuk menyambut kedatangan mereka.


Pria itu juga meminta sang asisten untuk mencarikan psikiater terbaik untuk calon ibu mertuanya.


''Ya, aku juga harus menghubungi Adrian. Sudah lama anak itu tidak berkunjung ke rumah. Hah, dasar anak itu, apa dia lupa jika masih punya satu orang tua?" gumamnya saat mengingat tentang adik angkatnya.


Angelo segera mencari kontak tersebut, lalu mendial-nya. Tak menunggu lama terdengar sebuah deheman pelan dari si pemilik nomor.


''Aku perintahkan kau untuk datang ke rumah siang ini. Apa kau melupakan ayahmu, Anak Nakal?" Angelo memerintah dengan nada datarnya.


''Aku sibuk."


''Kau pikir kau saja yang punya kesibukan, heh? Hargailah orang tuamu selagi masih ada. Keluarga calon istriku akan tiba. Aku memintamu dengan paksa dan tidak ada bantahan! Awas jika sampai tidak datang, aku akan meminta orang-orangku untuk menyeretmu."


''Iya-Iya."


Tut!


Ello mendengus kesal karena sambungan teleponnya diputus sepihak. Adrian berubah sejak peristiwa beberapa bulan lalu, lebih tepatnya setelah acara pernikahannya batal. Dia sangat paham dengan alasan Andrian yang jarang berkunjung ke rumah. Pria itu masih marah dan kecewa kepada dirinya setelah mengetahui keterlibatannya secara tidak langsung turut andil dalam peristiwa tersebut.


Tanpa sengaja, Andrian mendengar pembicaraannya dengan Gustav mengenai aksi dan rencananya. Andrian yang tidak pernah mengetahui dendam masa lalunya dibuat salah paham menganggap dirinya berkhianat, mengira Angelo juga menginginkan calon istrinya. Padahal tidak seperti itu kenyataannya, Angelo hanya berniat balas dendam, tidak lebih.


Berulang kali, pria itu berusaha menjelaskan. Namun, Andrian selalu menolak dengan mengatakan tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulutnya.


''Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini," desahnya pelan dengan menatap layar yang telah gelap.


''Semoga saja dengan alasan ini, kau tidak salah paham lagi denganku."


...----------------...


Hampir satu jam berkendara, pada akhirnya mobil yang ditumpangi Fania beserta keluarganya memasuki sebuah halaman luas yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Pilar-pilar besar yang menjulang tinggi mampu membuat sepasang remaja kembar berdecak kagum. Sebelumnya, mereka hanya melihat bangunan mewah seperti ini di acara-acara televisi. Tak pernah sedikitpun terbesit dalam benak mereka untuk memasukinya.


Namun, kini terasa seperti mimpi bagi keduanya.


''Kak, ini rumah siapa? Apa kakak mengajak kita berdarma wisata ke rumah presiden atau pejabat?" Ferry berceletuk masih menatap kagum bangunan yang ada di sekelilingnya.


''Fer, gak usah norak," sarkas Fena.

__ADS_1


''Diem lu! Gak bisa gitu liat orang seneng," balas pemuda itu tak kalah sarkas.


''Mulai lagi!" geram Fania.


Entah ini peringatan yang ke berapa kalinya. Yang jelas dia merasa jengah dengan tingkah kedua adiknya yang mirip kucing dan tikus, selalu bertengkar tidak mengenal tempat.


''Iya-Iya, enggak, Kak," sahut Fena dengan wajah masamnya.


''Emang enak kena sembur," ucap Ferry pelan, tetapi mampu didengar oleh semua orang yang ada di sana.


''Gak usah mulai ya lu." Fena sudah ancang-ancang mengangkat tangannya untuk memberi bogem mentah ke lengan kurus saudara kembarnya. Namun urung saat kembali mendengar teguran dari kakaknya. Alhasil, tangan lembut itu hanya berakhir menggantung di udara.


''Kita turun! Ingat, kalian harus jaga sikap. Biar ibu sama kakak."


''Iya, Kak," jawab keduanya bersamaan.


''Selamat datang...." Seorang pria berjas rapi dengan didampingi seorang pria baya bertongkat menyambut kedatangan mereka.


Bukan hanya Fena dan Ferry yang merasa terkejut, bahkan Fania juga merasakan hal yang sama saat melihat calon suaminya sudah berdiri di depan pintu dengan senyum manisnya.


''Why, not? This is my home," sahut Ello dengan santainya.


Fania merotasi kedua bola matanya. "Iya tau, bukannya kamu di kantor?"


''Kak, dia pejabatnya?" tanya Ferry dengan nada berbisik.


Angelo yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa menahan tawa.


''Diem! Nanti, kamu juga tau," jawab Fania tak kalah berbisik.


''Ello, tidak baik membiarkan tamu di depan pintu. Cepat suruh mereka masuk," titah Gustav.


Pria baya itu menatap iba keadaan keluarga Fania, terlebih pada ibunya yang hanya diam mematung tanpa ekspresi yang berada dibimbingan tangan Fania.


''Ayo, masuk. Jangan sungkan-sungkan di rumah calon kakak ipar kalian." Angelo mulai memperkenalkan diri.


''Apa?!''

__ADS_1


''Kakak ipar?"


Ferry dan Fena saling menatap satu sama lain. Keduanya tidak menyangka jika pria berpakaian rapi itu adalah calon kakak ipar mereka yang itu artinya....


''Iya, aku Angelo Nikki Hayden, calon suami kakak kalian. Itu artinya calon kakak ipar kalian juga, ‘kan?" Ello menjelaskan sejelas-jelasnya pada dua remaja serupa itu. " Panggil aku, Kak Ello, Kak El, atau Kak Angelo, terserah kalian," lanjutnya lagi.


''Fer, cubit gue, cubit." Perintah Fena yang masih belum mempercayai kenyataan yang ada.


Dengan senang hati Ferry menuruti, bahkan mencubitnya dengan sangat keras hingga gadis itu memekik kesakitan.


''Ya gak usah sekencang itu juga, Ferry," protesnya dengan kesal.


''Lah, katanya tadi disuruh nyubit, pas dicubit beneran malah marah." Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


''Kalian ini, semenit saja gak bertengkar apa gak bisa? Apa mulut kalian gatal, hah?!'' Fania berteriak kesal menegur adik-adiknya. Dia sudah tidak bisa lagi menahan kesabaran terlalu lama.


''Dan kamu! Apa tidak bisa gak tebar pesona pada pesona di depan mereka. Heran deh, udah tua juga, berlaga macam anak muda." Wanita itu berganti mengomeli calon suaminya.


Karena tidak ingin larut dalam kekesalan, Fania memilih mengantarkan ibunya ke kamar yang sudah disediakan.


''Nah ‘kan naga betina sudah menyemburkan apinya," ucap Ferry pelan.


Angelo yang mendengar hal itu hanya bisa menahan tawanya. Kini, dia bisa melihat sisi lain dari calon istrinya. Fania terlihat sangat menggemaskan ketika marah.


''Sebaiknya kalian istirahat, itu kamar kalian." Angelo menunjuk dua ruangan kosong yang berada tepat di sebelah ruangan yang ditempati ibu mertuanya.


''Nanti kalau sudah waktunya makan siang, kalian akan dipanggil."


''Iya, Kak...."


Dua remaja itu segera menuju ke tempat yang sudah ditunjukkan.


''Apa kau bahagia, El?" tanya Gustav tiba-tiba.


''Sangat, aku seperti menemukan hidupku yang baru."


Gustav tersenyum simpul. Dia pun turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan anak angkatnya.

__ADS_1


__ADS_2