
''Tu-tuan," cicit Mila seraya beringsut mundur.
Dia meneguk ludah kasar saat melihat tatapan tajam sang tuan yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Siapa kau?!" Angelo mengulang pertanyaan dengan nada yang lebih dingin dari sebelumnya.
''Katakan! Siapa kau sebenarnya?"
Mila tidak tahu lagi harus menjawab apa antara jujur dan tidak, dirinya sudah tertangkap. Padahal baru satu menit lalu dia memperingatkan partner-nya, tetapi sekarang seolah senjata makan tuan. Dia terperosok ke dalam lubang yang dia gali sendiri.
"Sa-saya—''
Wanita itu tampak memilin ujung seragam pelayan sebagai pelampiasan rasa takut. Dia masih ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.
''Katakan atau peluru ini menembus kepalamu!"
Mila menegang saat merasakan sebuah benda menempel tepat pada dahinya, bahkan sampai harus menahan nafas. Dia tidak ingin mati konyol, matanya bergerak gelisah mencari alasan.
''Ba-baik, sa-saya akan mengatakan semuanya. Tap-tapi singkirkan benda ini dulu!" ucapnya dengan suara bergetar.
''Cepat katakan!" sentak Angelo semakin menekan senjatanya.
''Iya, saya mengaku! Tapi tolong, singkirkan dulu benda ini." Mila berkata panik kala benda itu semakin menempel pada tulang dahinya.
"Penjaga! Aku butuh dua orang kemari." Teriakan kemarahan Angelo menggema di tempat itu.
Para penjaga yang mendengar segera menghadap.
''Kami, Tuan."
''Pegangi wanita ini!"
Mila tampak menggeleng keras. Secepat kilat dia berusaha kabur. Namun gagal. Kedua pria bertubuh kekar itu langsung mencengkeram kuat kedua lengannya. Mereka segera menempatkan posisi di sisi kiri dan kanan wanita itu.
''Katakan yang sebenarnya! Kalau sampai kau berbohong, siap-siap tubuhmu dinikmati gratis oleh kedua pria ini."
''Tidak! Saya mohon jangan lakukan itu," pinta Mila dengan mata berkaca-kaca.
Meskipun di luar sana ia terkenal sebagai gangster. Dia tetaplah seorang wanita yang akan panik saat kondisi terjepit seperti sekarang ini, terlebih dia seorang diri. Biasanya dia menghadapi para musuh dengan dibantu anak buahnya.
__ADS_1
''Lepaskan saya!"
Mila terus memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman dua pria itu. Dia mengerahkan seluruh tenaga untuk menumbangkan keduanya, bahkan menendang aset berharga milik mereka. Tanpa memedulikan erangan kesakitan mereka, Mila bergegas melarikan diri.
''Hey, berhenti!"
DOR!
Angelo segera melesatkan timah panasnya hingga mengenai kaki wanita itu. Rupanya wanita itu terlalu tangguh. Dia tidak ingin menyerah begitu saja meskipun di kaki terkena luka tembak. Mila terus berlari dengan langkah terseok-seok dengan sesekali menahan sakit tak tertahan. Dalam kondisi seperti itu, dia masih sempat melawan anak buah Angelo yang berusaha menghadang.
Angelo menyeringai melihat ketangguhan wanita itu.
''Cukup lihai juga kau ya ... Sepertinya, kau bukan wanita biasa."
Pria itu mengarahkan kembali bidikannya. Tak berselang lama terdengar suara tembakan yang berhasil menumbangkan wanita itu. Timah panas melesat tepat pada kaki satunya lagi.
''Seret dia ke gudang bawah tanah!" Angelo berteriak anak buahnya.
Mila yang sudah tak berdaya hanya bisa pasrah saat kedua tangannya diseret paksa layaknya barang bekas tak berguna.
...----------------...
Angelo sendiri mengitari tubuh itu masih dengan tatapan tajamnya.
''Kau pikir bisa memata-mataiku dengan mudah? Kau pikir aku tidak mengtahui kelakuanmu? Kau salah besar!"
Pasalnya, beberapa kali pria itu memergoki Mila tengah menguping setiap kebersamaannya bersama sang istri, bahkan ketika mereka bertengkar. Tidak hanya itu, dia juga sering mendapat laporan dari para penjaga dan pelayan yang sering memergoki Mila tengah bertelepon dengan seseorang dengan gelagat mencurigakan. Bahkan hari ini, dia mendengar dan melihat pelayan baru itu tengah mengumpat sembari memegang ponsel.
''Kau hanya seekor kucing kecil. Berani-beraninya si kucing kecil mendatangi sarang singa."
Wanita itu tak menjawab apapun. Dia hanya fokus pada rasa sakitnya. Sungguh, posisi ini terasa sangat menyiksanya. Kedua kaki yang terluka harus menumpu tubuhnya, sehingga sakit yang dirasakan menjadi berkali-kali lipat.
''Ampun, Tuan ... Saya hanya menjalankan perintah seseorang," ucap Mila, suaranya terdengar seperti rintihan.
"Siapa yang menyuruhmu?" Angelo mencengkeram dagu wanita itu menggunakan satu tangannya.
''Ja-jason,'' jawabnya lirih nyaris berbisik.
Dia menghempaskan kasar wajah wanita itu, kemudian melangkah menjauh untuk memikirkan satu nama yang bisa dipastikan menyangkut keberadaan sang istri.
__ADS_1
''Di mana istriku?" tanya Angelo dengan tubuh membelakangi.
"Saya tidak tahu, Tuan!''
''Siram lukanya!"
Ello memerintahkan anak buahnya untuk menyiram lika wanita itu dengan air garam yang sudah dipersiapkan.
Seorang pria yang sudah siap dengan embernya pun mengangguk, lalu melaksanakan tugasnya.
''Akh! Ampun, Tuan!" Jeritan dari bibir pucat Kamila terdengar menyayat hati. Rasa perih pada lukanya terasa semakin menjadi hingga air mata mengucur deras ke pipi mulusnya. Wajahnya pun terlihat pucat karena kehilangan banyak darah.
''Aku tanya sekali lagi! Istriku ada di mana?!'' Angelo mengulang pertanyaan dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Aku tidak tahu, Tuan."
"Siram lagi!"
''Akh! Ampun! Sungguh, aku tidak tahu."
"Hentikan, akh!"
''Ampun!"
Jeritan beruntun dari bibir Kamila memenuhi ruangan gelap itu. Akan tetapi tidak ada satupun yang merasa iba. Angelo justru meminta anak buahnya menyiksa wanita itu berkali-kali sampai dia mengaku.
"Ampun, aku tidak kuat lagi. Sungguh, aku tidak tahu. Ampun, Tuan." Suara Kamila terdengar sangat lemah nyaris berbisik. Tatapan matanya tampak sayu meminta pengampunan. Bibirnya pun semakin memucat.
''Bohong! Kau pikir aku tidak tahu kau tadi habis menelpon pria itu."
''Sungguh! Aku tidak tahu, Tuan. Dia tidak mengaku."
Kini, keadaan wanita itu terlihat sangat menyedihkan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
''Gak berguna!" gumamnya menatap nyalang wanita itu.
''Obati lukanya! Saat sadar nanti tanyakan keberadaan pria bernama Jason itu. Jika masih tidak mau mengaku, cambuk dia!"
''Baik, Tuan.''
__ADS_1