
Lenguhan pelan terdengar dari bibir pucat milik seorang wanita yang terbaring lemah di atas ranjang. Matanya memindai area sekitar, tampak sebuah ruangan luas dengan berbagai perabotan mewah di dalamnya. Selang infus yang terpasang membuat pergerakannya menjadi tidak leluasa.
''Aku di mana ini?"
''Akhirnya kau sadar juga."
Fania mengalihkan perhatian ke asal suara. Netranya terbelalak sempurna mendapati pria yang berusaha dihindari berada di tepat di hadapannya.
''Kamu! Mau apa kau kemari! Pergi!"
''Pergi! Aku gak mau melihatmu. Biarkan aku tenang ... Tolong, jangan ganggu aku."
''Pergi!"
Fania berteriak histeris dengan melempar bantal-bantal yang ada di dekatnya. Namun sayang, Angelo berhasil menghindar dari lemparan wanita itu. Pria itu justru melangkah tenang menghampiri ibu dari calon anaknya. Karena merasa kesal, Fania mencoba melepas paksa infus yang terpasang. Dengan sigap, Angelo menahan tindakannya.
''Oke-oke, aku pergi tapi tolong jangan lepaskan ini.''
Fania menatap dengan mata berkaca-kaca, tak lama setelahnya terdengar isakan pelan yang keluar dari mulutnya. Wanita itu menangis sejadi-jadinya dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan.
''Hei, ada apa?" tanya Ello penuh kelembutan.
Ingin rasanya, dia mendekap tubuh mungil itu. Namun, dia berusaha keras menahan diri takut jika gadis itu tidak nyaman dengan tindakannya.
''Tolong, menjauh dariku. Jangan ganggu aku lagi!" pinta Fania mengiba.
Angelo menggeleng keras, itu permintaan yang sangat sulit. Tentu saja, dia akan menolak dengan tegas.
''Aku tidak bisa," ucapnya dengan nada berat.
''Kenapa?"
Belum sempat, Ello menjawab wanita itu meringis kesakitan ketika merasakan nyeri tak tertahan pada perutnya.
''Ada apa? Apa yang sakit?" tanya pria itu dengan wajah paniknya.
''Awwsh, perutku nyeri," ringisnya sambil memegang perut bagian bawah.
Angelo segera menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh wanita itu. Dia takut terjadi pendarahan susulan. Hembusan nafas lega terdengar dari bibirnya ketika tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
''Apa masih sakit?"
Fania mengangguk pelan, bahkan sesekali menahan nafas demi meredam rasa sakitnya. Angelo segera memintanya berbaring. Dia sendiri bingung bagaimana cara meredam rasa sakit itu, karena semua obatnya dimasukkan melalui cairan infus.
Entah kenapa tiba-tiba tangannya terulur untuk mengusap lembut perut rata itu.
''Anak papa, tenang ya ... Mama tidak akan menyakitimu lagi."
Fania sedikit tersentak mendengarnya. Dia mengira janin yang bersemayam di dalam rahimnya sudah tiada, tetapi ternyata....
''Aku tidak keguguran," cicitnya nyaris tidak terdengar.
''He'em, karena aku tidak akan membiarkannya." Angelo menatap lekat wanita itu.
Fania mendesah kecewa, sirna sudah bayangan kehidupan tenang yang dia idam-idamkan. Dia memilih diam seribu bahasa, enggan memberi tanggapan. Rasa sakit pada perutnya berangsur mereda, berganti rasa nyaman akibat usapan lembut itu.
''Apa masih sakit?"
Gadis itu menggeleng lemah. Angelo tersenyum, lalu menghentikan kegiatannya.
''Istirahatlah! Jangan pikirkan apapun. Aku ada di rumah tekan tombol itu jika membutuhkan sesuatu.'' Dia menunjukkan sebuah tombol yang berada dalam jangkauan Fania.
Langkah pria itu harus berhenti ketika merasa ada tangan lembut menahan lengannya. Dilihatnya keringat sebesar biji jagung tampak membasahi dahi wanita itu. Raut wajahnya terlihat seperti menahan kesakitan.
''Nyerinya datang lagi," lirihnya menahan malu.
Dia merutuki janin yang ada di dalam perutnya seolah ingin bermanja-manja dengan sang ayah.
Angelo mengulas senyum tipis. Dia kembali mendudukkan tubuh ke tempat semula, kemudian mulai mengulang kegiatannya lagi. Beberapa saat kemudian, Fania tampak memejamkan mata ketika rasa kantuk mulai mendera.
''Anak pintar, tapi kasihan mamamu. Jangan siksa dia lagi ya," batinnya.
Gustav hanya tersenyum kecil melihat interaksi keduanya. Dia berharap wanita itu mampu mengembalikan senyum putra angkatnya yang sejak lama terenggut.
''Kuharap dialah kebahagiaanmu, El."
...----------------...
''El, lihatlah!" Perintah Gustav sambil menunjuk layar televisi.
__ADS_1
''Kabar duka ... Raja Bisnis negara ini—Bramasta Haidar, telah menghembuskan nafas terakhir sore tadi pukul 17.00 di Rumah Sakit Citra Medika. Jenazah akan dibawa ke rumah duka yang ada di kawasan komplek perumahan elit Jakarta Pusat—"
Angelo mengurungkan niatnya memasuki ruang kerja. Dia beralih mendaratkan bobot tubuhnya di samping sang ayah, menyimak berita itu dengan mimik serius.
Dia tersenyum penuh kepuasan karena rencana yang telah disusun beberapa hari yang lalu membuahkan hasil yang memuaskan.
''Rencana penculikanku mungkin gagal, tapi berita ini lebih dari cukup. Tidak sia-sia aku mengeluarkan uang banyak hanya untuk menjerat Divia," ujarnya dengan tatapan lurus ke depan.
''Apa kau puas, El?'' tanya Gustav.
''Sangat! Itu adalah pembalasan setimpal untuk orang yang telah merenggut kedua orang tuaku."
Gustav menghela nafas pelan.
''Aku harap kau menyudahi semuanya. Biarkan putri Bramasta Haydar bahagia. Dia tidak bersalah sama sekali. Sekarang, fokuslah pada wanita itu dan janinnya."
''Ya, dendamku sudah terbalas. Sekarang Fania yang menjadi prioritasku dan mengurus si pengkhianat itu. Dia salah satu ancaman bagiku," geram Ello dengan rahang mengeras.
''Apa kau yakin hanya dia?"
''Maksudnya?"
''Bagaimana dengan segerombolan preman yang kau sewa untuk menggagalkan pelarian Bram dan putrinya beberapa bulan lalu? Bahkan mereka berhasil mencelakai Bram. Ditambah sekarang mereka meringkuk di dalam penjara karena berhasil tertangkap anak buah Bram. Apa kau yakin jika mereka tidak akan menuntut balas? Dengan membongkar identitasmu juga, misalnya."
Pria itu terkekeh sinis. "Aku pastikan itu tidak akan terjadi karena aku merahasiakan jati diriku. Mereka hanya segerombolan orang yang haus uang. Aku sudah membayar mahal mereka semua."
''Aku hanya berpesan, mulai saat ini kau harus berhati-hati. Bahaya sedang mengintai, Jangan anggap remeh keponakan Bramasta Haydar. Dia memang terlihat seperti pria slengean. Tapi dibalik sikap itu, dia lebih kejam dibandingkan Bram jika ada yang berani mengusik keluarganya, terlebih kau telah merenggut nyawa om-nya."
''Yang harus kau waspadai bukanlah si pengkhianat itu, melainkan si Rayyan. Dia pasti sudah mengantongi namamu dan bersiap menyerang kapanpun," ujar pria baya itu penuh peringatan.
Angelo mengangguk paham sebelum berlalu memasuki ruang kerjanya.
''El."
''Ya."
''Segera nikahi wanita itu agar anakmu memiliki status yang jelas," tutur Gustav tanpa mengalihkan pandangan pada layar di depannya.
Lagi-lagi, hanya anggukan yang ditunjukkan. Tanpa diminta dia akan menikahi gadis itu, hanya saja bagaimana cara membujuknya, pikirnya.
__ADS_1