My Blacklist Man

My Blacklist Man
Saran Rayyan.


__ADS_3

''Permisi, Tuan. Nona Maura dari perusahaan HDR corp. ingin bertemu Anda."


Angelo mengerutkan kening saat menerima telepon dari sekretari pribadi yang menyampaikan pesan bagian resepsionis. Dia berusaha mengingat-ingat apa ada janji temu yang terlewatkan. Akan tetapi, setelah diingat betul-betul ternyata tidak ada. Lalu ada perlu apa sampai Maura mendatangi kantornya, pikir pria itu.


''Bagaimana, Tuan? Apa diijinkan?"


Suara wanita di seberang berhasil menarik paksa kesadarannya.


''Baiklah, suruh dia masuk."


Tak sampai menunggu lama terdengar suara ketukan pintu, lalu pintu terbuka setelah mendapat ijin darinya. Tampak dua orang wanita muda dan seorang pria memasuki ruangan megah itu. Seketika Angelo menghunuskan tatapan tajam saat melihat seseorang yang paling dibenci memasuki ruangannya.


''Silahkan,Tuan, Nona. Permisi...."


Maura mengangguk diiringi senyum manisnya tanpa lupa berterima kasih pada perempuan muda yang bersedia mengantarnya ke ruangan ini.


''Mau apa kalian kemari?"


Kini, hanya ada tiga orang yang ada di ruangan itu. Hawa dingin semakin terasa karena tak ada kehangatan sedikitpun di dalamnya.


''Apa begini caramu menyambut tamu, Tuan Angelo Nikki Hayden? Sangat tidak sopan. Seperti orang tak berpendidikan." Rayyan mencibir.


''Ray." Maura melotot seolah meminta sepupunya untuk tidak membuka suara.


Akan tetapi, Rayyan hanya menganggap acuh peringatan itu.


''Tuan Angelo, kami kemari ingin turut membantu mencari keberadaan istri Anda," ucap Maura penuh kelembutan.


''Aku tidak sudi menerima bantuan dari kalian. Aku tidak akan terperangkap lagi dalam perangkap kalian," sahut Ello dengan tatapan tajamnya.


Maura hanya tersenyum tipis. Dia sudah mengira jika niat baiknya tidak mudah untuk diterima. Tetapi, bukan berarti dia akan menyerah begitu saja. Niatnya benar-benar tulus untuk membantu pencarian istri Angelo.


''Terserah Anda mau berpikiran buruk tentang kami. Kami tidak akan marah, karena kami tidak salah. Hilangnya istrimu tidak ada sangkut pautnya kami."

__ADS_1


Angelo berdecih. Dia memilih memalingkan muka, malas rasanya menatap topeng lugu wanita itu yang digunakan hanya demi menutupi kebusukannya. Rasa menyesal menelusup begitu saja dalam hatinya karena pernah ada niatan untuk memiliki wanita licik itu.


''Saya sengaja mengajak Rayyan karena dia yang mengetahui dalang di balik penculikan itu. Dia juga mengetahui dimana saja titik lokasi keberadaannya." Maura tetap melanjutkan ucapannya, meskipun tak mendapat tanggapan apapun dari pria itu.


''Sudah kuduga," ucap Angelo lirih.


Dia bangkit dari posisinya, lalu perlahan mendekat ke arah Rayyan. Tanpa banyak bicara lagi, Angelo segera melayangkan bogem mentah ke salah satu pipinya hingga membuat Rayyan tersungkur.


Maura sempat memekik karena terkejut melihat hal itu. Namun, dia segera membantu Rayyan untuk bangkit.


Rayyan mengeram kesal. Dia berniat membalas perbuatan Angelo. Namun, Maura dengan sigap menahan pria itu.


''Pria tak tau diuntung, niat kami baik! Tapi ini balasanmu," teriak Rayyan memaki-maki pria di depannya.


''Sudahlah, Ra! Kalau keparat ini gak mau nerima bantuan kita mending kita pulang. Gak guna juga ada di sini."


Pada akhirnya, Maura-lah yang menjadi sasaran empuk kemarahan Rayyan. Sejak awal dia memang tidak berniat membantu. Dia berada di tempat ini juga atas dasar paksaan sepupunya.


''Tapi, Ra—''


''Kau sudah janji, Ray!" sahut Maura diiringi tatapan tajamnya.


Rayyan mendengus kesal, terpaksa harus menuruti keinginan ibu hamil itu.


''Yang dikatakan dia benar," ucap Angelo seraya menunjuk tepat wajah Rayyan, ''tidak ada gunanya kau ada di sini. Aku tidak sudi menerima bantuan mu."


''Apa kau yakin bisa menemukan keberadaan istrimu?"


''Pria yang kau hadapi bukan penculik biasa. Dia seorang pembunuh bayaran yang mempunyai banyak markas."


Angelo terdiam mendengar perkataan Maura. Memang selama beberapa hari terakhir dia berusaha menemukan keberadaan sang istri, tetapi usahanya selalu berakhir mengecewakan. Nomor yang diacak malam itu sudah tidak digunakan lagi. Banyak nomor asing yang masuk ke ponsel miliknya yang mengirimkan ancaman untuk menghabisi Fania. Jujur, Ello sangat mengkhawatirkan istrinya yang tengah hamil besar.


''Apa kau masih menolak tawaran kami? Kami bahkan tak menuntut apapun darimu.''

__ADS_1


Maura sadar betul, pasti akan sangat sulit untuk meyakinkan Angelo karena perbuatannya tempo hari. Akan tetapi, dia punya alasan mengajukan syarat itu. Dia ingin mengetahui keadaan sebenarnya, mengingat Angelo adalah pria yang licik dan penuh taktik. Bisa jadi, pengajuannya ini hanyalah taktik untuk menjebaknya lagi seperti dulu.


Angelo masih terdiam memikirkan tawaran dua orang itu. Hingga beberapa menit kemudian....


''Baiklah, aku terima tawaranmu."


Rayyan menyeringai kala sebuah ide tiba-tiba terlintas dalam benaknya, tetapi itu bisa menjadi urusan nanti. Sekarang, dia ingin fokus membantu dahulu.


''Dia sudah melakukan apa saja? Tidak mungkin dia masih belum melakukan pergerakan." Rayyan menimpali.


Angelo menunjukkan semua pesan yang bernada ancaman kepada Rayyan, termasuk video rekaman yang dikirim malam itu. Rayyan dan Maura sama-sama melihat semua isi ponsel yang berada dalam genggaman Rayyan.


''Bodoh sekali kau! Kenapa kau tak pernah membalas pesan-pesan ini. Mestinya kau membalasnya."


Angelo harus menahan dongkol mendengar ucapan Rayyan. Pria ini selain menyebalkan, mulutnya juga tidak bisa dijaga.


''Aku memang tidak membalas tapi aku langsung menelponnya," sahutnya dengan ketus.


''Aku ada sebuah ide, tapi aku tidak yakin jika kau akan setuju."


''Katakanlah! Aku akan memikirkannya."


''Kau harus menuruti ucapan istrimu yang ada di video ini."


''Apa kau gila!" teriak Angelo yang merasa tidak terima.


Rayyan tak menanggapi lagi. Dia masih fokus membaca sederet pesan itu. Hingga tiba-tiba ponsel yang berada dalam genggamannya berdering keras tanda ada panggilan masuk.


''Angkatlah! Aktifkan pengerasnya."


Angelo pun mengangguk dan menuruti perintah Rayyan. Rupanya telpon dari orang yang sama dengan ancaman yang sama. Setelah berdebat beberapa menit dengan Angelo yang menyahut penuh emosi. Pada akhirnya, panggilan itupun berakhir.


''Tidak ada jalan lain selain saranku tadi." Rayyan berkomentar.

__ADS_1


__ADS_2