My Blacklist Man

My Blacklist Man
Keresahan Fania


__ADS_3

''Lo lama banget, sih, Fen, cuma nebus obat doang. Asal lo tau, sejak tadi ibu itu nyariin lo, gue gak mau ya ... Ibu teriak-teriak di tempat umum kek gini. Bikin malu tau gak?" Ferry mengomeli adik kembarnya yang baru saja memasuki mobil


Dia teramat kesal karena Asih tidak bisa tenang saat bersamanya, bahkan terus saja berteriak memanggil Fena ataupun Fania. Wanita paruh baya itu masih trauma saat bersama laki-laki, terlebih sifat Ferry sebelas dua belas dengan sang ayah.


''Gue tadi ‘kan udah nyuruh lu, Fer. Elu-nya gak mau milih disini aja jagain ibu. Lu kira gak pake antri apa, asal serobot, gitu? Gue bukan elu ya." Fena berbalik mengomel karena tidak mau disalahkan begitu saja.


''Banyak bacot lu!'' maki Feri kesal.


''Lu yang bacot! Mau enaknya doang, giliran susah dilimpahin ke gue."


''Lu—''


Ehem!


Suara deheman keras dari arah depan menghentikan pertengkaran mereka. Seorang pria yang tidak diketahui namanya itu merasa jengah mendengar perdebatan yang entah kapan akan berakhir.


''Kalian bisa keluar kalau mau lanjut debat," ujarnya dingin.


Sontak sepasang kakak beradik itu mengatupkan mulut rapat-rapat. Mereka merasa malu karena kebiasaan mereka di rumah terbawa hingga keluar, bahkan di depan orang asing.


''Ti-tidak, Tuan. Maaf...," ucap Fena merasa tidak enak.


''Kasihan ibu kalian, ketakutan menyaksikan pertengkaran kalian." Pria itu berucap lagi.


Sang ibu tampak menggerakkan mata gelisah dengan memeluk dirinya sendiri. Fena yang melihat hal itupun segera memeluk wanita yang telah melahirkannya untuk menenangkan.


''Ibu tenang ya ... Kita gak marah sama ibu kok, aku sama Ferry cuma bertengkar seperti biasa. Udah gak usah takut lagi."


Perlahan-lahan, tubuh Asih mulai tenang dalam dekapan putri bungsunya.


''Tuan, kita langsung pulang saja. Maaf sudah mengganggu kenyamanan Anda."


Pria itu membalas dengan deheman pelan. Dia segera menyalakan mesin mobil, lalu bergegas meninggalkan pelataran rumah sakit.


...----------------...


Fania termenung seribu bahasa semenjak pulang dari rumah sakit. Dia memikirkan kondisi sang ibu yang belum dia ketahui secara pasti. Dalam hati menerka-nerka, apa yang telah terjadi pada ibunya, hingga harus mengonsumsi obat-obatan seperti itu.


Angelo yang merasa aneh dengan perubahan sikap calon istrinya, tidak tahan untuk tidak bertanya. Dia takut ada sesuatu yang telah terjadi selama kepergiannya tadi.


''Ada apa, Fan? Kenapa mukamu murung seperti itu?"

__ADS_1


''Tadi, aku tidak sengaja bertemu adikku," jawab Fania lemah, "dia membeli obat anti-depresan untuk ibu."


"Aku kepikiran dengannya," sambung wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


Angelo hanya diam menyimak karena bingung harus memberi tanggapan seperti apa. Dia tidak tega melihat kesedihan Fania jika memberitahukan yang sebenarnya.


''Apa aku boleh mengunjungi ibuku? Hanya sekedar berkunjung, aku janji tidak akan kabur. Aku akan kembali ke rumah ini," pinta Fania dengan sorot penuh permohonan.


''Mungkin lebih baik jika dia mengetahui sendiri kondisi keluarganya," batin Ello.


''Boleh ya, Tuan El. Aku akan menepati janji, bila perlu seluruh penjaga yang ada di rumah ini akan kubawa serta." Fania menggoyangkan lengan kekar itu untuk meminta jawaban.


Angelo menghela nafas pelan.


''Baiklah. Tapi dengan syarat dua kacung itu ikut denganmu," ujarnya seraya menunjuk dua orang pria bertubuh kekar yang berada tak jauh darinya.


''Siap."


''Dan ini untukmu...." Pria itu menyodorkan sebuah kotak persegi panjang.


Fania yang melihat benda itu bisa menebak jika isinya adalah sebuah ponsel. Seketika dia teringat dengan ponsel miliknya yang sekarang berada entah di mana.


''Terus ponselku di mana?"


''Ya ini ponselmu." Angelo menunjuk menggunakan dagunya.


''Gak usah bikin orang naik darah. Kamu pikir aku gak tau kalo ini barang baru, hem? Yang kutanyakan punyaku sendiri," sahut wanita itu menahan gemas.


''Aku buang."


Fania hanya bisa menganga mendengarnya. Ponsel dari hasil jerih payahnya sudah tidak tampak bekasnya, semua hilang tak bersisa.


''Sudahlah! Tidak usah memikirkan barang bekas. Yang terpenting sekarang sudah kuganti dengan yang lebih mahal."


''Barang bekas gundulmu! Kamu gak tau itu ponsel hasil nabung nyisain gaji selama berbulan-bulan. Eh, malah seenak jidatmu dibuang gitu aja. Di sana banyak kenangannya," sahut Fania berapi-api, kemarahan tergambar jelas di wajahnya.


Angelo hanya bisa meringis mendapat semburan maut wanita itu.


''Ya sudahlah! Aku terima benda ini. Mau marah juga gak ada gunanya."


''Sebenarnya aku sangat ingin mengantarmu sekalian bertemu dengan calon mertuaku tapi pekerjaanku sudah menumpuk."

__ADS_1


''Iya, gak apa-apa. Kamu kerja saja, cari duit yang banyak. Kalau gak kerja dua anakmu ini mau dikasih makan apa." Fania menunjuk perutnya menggunakan isyarat mata.


...----------------...


''Ibu udah tidur?" Pertanyaan Ferry berhasil mengejutkan Fena yang tengah melamun sendirian di teras rumah.


''Astaga, Fer ... Lu bisa gak sih? Gak bikin orang kaget! Heran gue, demen banget bikin orang darah tinggi," sungut Fena dengan mengusap dadanya pelan.


''Bukan gue yang salah tapi elo. Salah sendiri bengong sendirian di depan rumah, malam-malam pula. Kesurupan tau rasa."


Fena memutar bola matanya jengah.


''Iya, entar bisa nyekik lo sekalian," balas Fena ketus.


Ferry menirukan ucapan adik kembarnya dengan mimik mengejek, yang membuat Fena ingin menampol mulut itu menggunakan sandalnya.


''Lo mikirin apa, sih, Fen? Sampai gak sadar gue datengin."


''Gue ketemu Kak Fania tadi."


Jawaban singkat yang mampu membuat Ferry terkejut.


''Seriusan loe!"


''Iya, Fer...."


Fena pun menceritakan kronologi kejadian mengenai kakaknya yang mencecar dirinya perihal sang ibu.


''Terus elo kasih gak tau?"


''Ya gak lah ... Gue juga gak mau nambah beban pikiran dia, terlebih dia lagi hamil begitu,'' tukas gadis itu.


''Eh, tapi ada yang aneh deh, Fer. Penampilan Kak Fania kelihatan beda banget. Dia pake pakaian bagus bermerek gitu," sambungnya.


''Ya itu mungkin aja. Bisa jadi Kak Fania jadi simpanan om-om," celetuk Ferry tanpa dosa.


Fena yang mendengar hal itupun segera melayangkan pukulan keras pada lengan tak berotot itu.


''Itu mulut apa gak bisa dijaga, hah! Gue yakin Kak Fania bukan wanita seperti yang bapak tuduhkan. Atau mungkin dia udah ketemu sama pria yang memperkosanya, ya...."


Ferry hanya menaikkan sebelah bahunya. Dia enggan berkomentar, tidak ingin lengannya menjadi sasaran empuk tangan mulus adik kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2