
"Bagaimana keadaan ibu saya? Apa ibu saya bisa sembuh?" Fania menghadang seorang pria yang baru saja keluar dari kamar ibunya.
"Keadaan ibu Asih tidak terlalu parah masih bisa diatasi dengan obat-obatan. Saran saya tolong kelola stress beliau, sering-sering ajak dia bicara. Jangan menyinggung mengenai hal-hal yang membuatnya berpikir berat."
''Dan tolong obatnya diminum secara teratur. Jangan hentikan atau tambah dosisnya tanpa ada instruksi dari saya," sambung pria itu dengan menyodorkan beberapa jenis obat pada Fania.
''Tapi sampai kapan ibu saya harus meminum semua obat ini, Dok?" tanya Fania.
''Kita lihat perkembangannya sampai enam bulan ke depan."
''Selama itu?" tanya wanita itu memastikan.
Dia tidak bisa membayangkan jika ibunya harus meminum obat-obatan sebanyak itu.
''Semua tergantung dari kondisi dan semangat Ibu Asih serta dukungan keluarga terdekat. Karena itulah yang terpenting."
''Baik, Dok. Saya paham."
''Kalau begitu saya permisi. Jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi saya," pungkas pria itu.
''Baik, Dok. Terima kasih."
Pria itupun segera berlalu dari hadapan Fania.
Langkah Fania yang hendak memasuki kamar ibunya terpaksa terhenti ketika melihat salah seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh menuju pintu utama. Karena merasa penasaran, wanita itu bergegas mengikuti dari arah belakang.
Ketika hampir sampai pada pintu, wanita itu segera menyembunyikan diri di balik sebuah pilar saat melihat siluet dua orang polisi tampak berbicara dengan pelayan tersebut. Dia berusaha menajamkan pendengaran demi mencuri dengar pembicaraan itu. Namun, nihil dia tidak bisa mendengar apa-apa karena terhalang jarak.
''Ada apa polisi-polisi itu datang kemari? Apa Tuan El bermasalah dengan hukum?" batinnya bertanya-tanya.
"Begitu banyak yang tidak aku ketahui tentangnya. Sepertinya, aku harus mencari tahu," gumamnya.
Dengan mengendap-endap, Fania mengikuti langkah pelayan itu menuju ruang kerja Angelo. Dia bergerak sepelan mungkin, sesekali menengok ke belakang agar aksinya tidak ketahuan.
Sesampainya di ruangan yang dimaksud, Fania segera mencari tempat persembunyian yang aman sekira dia bisa mencuri dengar pembicaraan yang ada di dalam sana. Dia juga bisa melihat pelayan tadi keluar ruangan sesaat setelah memasuki ruangan.
''Kurang ajar!"
''Wanita tak tau diuntung, sudah ditolong malah menjerumuskan. Jadi, ini balasanmu, Nenek Peyot."
''Kau sudah menabuh genderang perang, maka bersiaplah dengan serangan balasan dariku."
''Ramon."
__ADS_1
''Saya, Tuan."
''Aku ada tugas untukmu."
''Lakukan secepatnya!"
''Baik, Tuan."
Fania bisa mendengar jelas kemarahan Angelo dari dalam sana, bahkan sempat terkejut. Teriakannya terdengar sangat jelas dari tempatnya berdiri yang membuat rasa penasaran Fania semakin menjadi.
''Apa yang mereka rencanakan?''
''Siapa nenek peyot yang dimaksud? Pria itu menyimpan banyak rahasia. Sepertinya aku harus bergerak sendiri. Ya ... Aku harus cari tahu."
Dia segera beranjak dari tempat itu sebelum ada yang mengetahui keberadaannya. Dia akan memikirkan langkah selanjutnya untuk mencari tahu semuanya.
...----------------...
Fania berusaha mengajak ibunya berbicara banyak hal, meski tidak terlalu mendapat banyak respon. Dia sengaja melakukan hal itu sebagai pengalihan dari rasa penasarannya. Disela-sela kegiatannya, tiba-tiba Angelo masuk dengan senyum manisnya.
Fania bukan tidak menyadari kedatangan calon suaminya, dia sangat sadar. Hanya saja, dia berpura-pura tidak tahu. Berusaha bersikap seolah tidak mengetahui apa-apa.
''Bagaimana hasil pemeriksaannya?"
''Oh, ya tadi sepertinya ada tamu...."
''Apa kau yang membuka pintunya?" Ello menyela cepat dengan wajah tegangnya.
Fania memicing tajam melihat ketegangan pria itu. Dia semakin yakin jika ada sesuatu yang serius yang sengaja disembunyikan darinya.
''Haish, jangan disela dulu! Aku belum selesai bicara," protesnya, "Aku udah niat mau bukain pintu tapi ibu keburu manggil jadi aku urungkan. Entah siapa yang buka."
Wanita itu bisa melihat dengan jelas raut kelegaan di wajah calon suaminya. Meskipun ada rasa kecewa, tetapi dia akan mengesampingkan perasaan itu terlebih dulu.
''Memang siapa sih? Aku tadi juga sempat lihat pelayan terburu-buru menuju ruang kerjamu pas aku mau ambilin minum buat ibu. Apa ada masalah serius?" Fania berusaha berlagak seolah tidak mengetahui apapun.
''Tidak ada apa-apa. Sudahlah! Jangan pikirkan itu. Meskipun ada masalah serius biar itu menjadi urusanku. Aku tidak ingin kau stress, lalu berdampak pada mereka," ujarnya dengan mengusap perut Fania yang mulai menyembul di balik dress-nya.
Fania membalas dengan senyum manisnya. Dia akan memperlihatkan kepatuhan di depan calon suaminya. Namun, saat di belakangnya, dia akan bertindak.
''Siapa dia?"
Suara Asih mengalihkan perhatian kedua orang itu.
__ADS_1
''Ibu ingin mengenalmu," bisik Fania.
''Dia ayah dari bayi yang aku kandung, Bu. Aku berhasil bertemu dengannya. Dia sangat baik, dia juga akan bertanggung jawab. Kita akan menikah setelah keadaan ibu membaik." Fania menjelaskan dengan penuh kehati-hatian.
Wajah Asih yang semula datar tanpa ekspresi tiba-tiba berubah menjadi cerah. Seutas senyum tertampak di bibir pucatnya setelah mendengar penjelasan putrinya.
''Menikah?"
Fania mengangguk penuh antusias.
''Kamu tidak bohong?"
''Tidak, Bu. Ibu harus cepat pulih. Ibu mau ‘kan menyaksikan pernikahan Fania? Apa ibu gak mau ikut mendampingi kehamilan Fania? Apa ibu gak pengen lihat dan gendong cucu ibu nanti?"
Fania terus mengucapkan kalimat-kalimat penyemangat untuk ibunya. Dengan penuh antusias pula Asih menanggapi. Yang mana membuat Fania merasa bahagia melihatnya. Keyakinannya semakin kuat jika ibunya bisa pulih dalam waktu dekat.
Tangan Asih tampak berusaha menggapai tangan pria yang ada di sisi putrinya. Angelo yang memahami hal itupun berinisiatif mendekat. Dan benar dugaannya, wanita paruh baya itu segera menggenggam kuat tangannya.
Dengan mata berkaca-kaca dia berkata, ''Jaga dia. Dia bukan seperti wanita yang mereka katakan. Dia korban, dia bukan wanita buruk. Jaga dia, aku mohon...."
''Jangan dengarkan mereka. Dia baik. Jangan dengarkan mereka. Dia korban...."
''Dia baik, dia korban. Jaga dia....''
Asih berulang-ulang mengucap kalimat yang sama. Fania yang tidak tahan lagi mendengar hal itupun segera memeluk erat tubuh ibunya.
''Sudah, Bu. Dia percaya," ucap wanita itu diiringi isak tangisnya.
Asih sudah tidak mendengar ucapan putrinya. Dia tetap mengulang kalimat yang sama dengan pandangan lurus ke depan.
''Iya, Bu. Saya akan menjaganya. Saya percaya, dia wanita baik. Saya percaya...," ujar Angelo penuh kelembutan. Dia pun membalas lembut genggaman tangan calon ibu mertuanya.
''Ibu, istirahat ya ... Dia sudah percaya. Ibu tenang ya...." Fania segera memposisikan ibunya untuk berbaring. Dia segera menyelimuti tubuh ibunya.
Asih menurut tanpa memberontak, meski bibirnya masih mengucapkan kata yang sama. Namun, lama-kelamaan suaranya melemah seiring mata yang terpejam.
''Aku tidak tega melihat ibu. Aku ingin Ibu seperti dulu. Dia sangat tertekan gara-gara aku." Fania meratapi keadaan ibunya.
Angelo yang merasa tidak tega segera merangkul tubuh calon istrinya dari arah samping. Dia juga merasa iba melihat pemandangan itu.
Ada sesal mendalam yang merasuk dalam hatinya. Dia tidak menyangka jika rencananya waktu itu berakibat seperti ini terhadap jiwa seorang ibu.
Tanpa sadar dia telah berniat menghancurkan mental seorang wanita. Seandainya misinya waktu itu berhasil, mungkin target incarannya juga mengalami guncangan mental yang sama seperti yang dialami Fania kemarin. Terlebih targetnya waktu itu adalah calon istri adik angkatnya, bahkan sampai saat ini pun Adrian masih enggan berbicara dengannya.
__ADS_1
''Meskipun dendamku sudah terbalas ternyata masih menimbulkan masalah."