
Angelo hanya diam membisu dengan pandangan tertuju ke depan. Sunyi dan dinginnya jeruji besi menjadi temannya malam ini.
Tangannya masih menggenggam erat kalung Fania. Dia memang terlihat sangat tenang, tetapi dalam hati dia merasakan resah luar biasa. Peristiwa yang dilihat beberapa waktu lalu masih membekas dalam benaknya. Dan semua itu bukanlah sesuatu yang baik, dia takut terjadi sesuatu pada anak dalam kandungan Fania, terutama keselamatan sang istri.
''Di mana kamu, Fan? Kenapa kamu pergi saat aku datang?"
Sekuat tenaga dia berusaha menahan tangis. Dia seorang pria yang dituntut untuk kuat. Akan tetapi, sekuat-kuatnya seorang pria, dia tetap manusia biasa yang mempunyai sisi rapuh. Sumber kekuatannya menghilang, mentarinya terenggut, kesuraman kembali menghampirinya.
''Kenapa kamu pergi membawa kesalahpahaman? Seharusnya kau masuk, lalu meminta penjelasanku. Bukan malah seperti ini!"
''Fania, aku tidak bisa kehilanganmu. Kau terlalu berharga untukku. Kau mentariku!"
Lolos sudah genangan kristal bening yang sejak tadi mengenang di pelupuk mata. Dia menangis sesegukan seorang diri. Di ruang sunyi nan sempit itu suaranya terdengar sangat nyaring.
Puluhan tahun, dia kuat menahan pilu atas kehilangan orang tua. Namun, ketika kehilangan Fania, entah kenapa Angelo begitu emosional. Dia tidak bisa mengendalikan diri seperti sebelumnya. Hidupnya seolah tiada arti. Semua yang ia miliki seolah tak berguna. Penyesalan telah membelenggu jiwanya.
Kata yang telah keluar tak bisa ditelan kembali. Dia menyesal telah mengatakan hal itu demi mengelabui lawan untuk mencapai tujuannya.
''Maafkan aku, Fania ... Kembalilah! Aku tidak tahu akan seperti apa hidupku jika tanpamu."
Pria.yang biasanya terlihat sangar itu, kini tak ubahnya seperti pengemis yang meminta belas kasihan. Siapapun akan iba jika melihat keadannya. Sayangnya, dia hanya sendirian.
Ruangan yang di tempati Angelo hanya di huni satu orang di setiap selnya. Meskipun jarak antara sel satu dengan sel lainnya berdekatan, tetapi ada dinding yang menjadi pelang halang mereka. Tidak celah secenti pun dibagian atas dinding tersebut untuk mereka berinteraksi, hanya barisan jeruji besi pada bagian depan yang menjadi ventilasi dan alat berkomunikasi dengan para petugas.
__ADS_1
Terdengar suara dentingan kunci yang beradu pada gembok, kemudian disusul suara salah satu sipir.
''Tuan, ada yang ingin menemuimu. Mari ikut saya!"
Dengan langkah gontai, Angelo mengikuti petugas tersebut hingga tiba di sebuah ruangan. Seorang pria baya tengah menunggu disertai wajah cemasnya.
''El, bagaimana kau bisa ada di sini? Kenapa kau tidak melawan? Padahal kau bisa memutar balikkan fakta. Kenapa kau diam saja diperlakukan seperti ini?"
''Aku sudah memeriksa semuanya. Bukti yang mereka miliki tidak cukup kuat. Seharusnya, kau mengelak! Astaga, El ... Ada apa denganmu?"
Gustav tidak habis pikir dengan anak angkatnya. Dia sangat terkejut ketika mendapat kabar mengenai penangkapan Angelo. Seketika itu pula, pria baya itu langsung menuju tempat ini tanpa memedulikan jika jam besuk telah habis. Dengan segala kekuasaan yang dimiliki, Gustav berhasil menemui putra angkatnya.
''Jawab, El! Kenapa kau diam saja?"
''Demi Fania aku ada di sini."
''Maksudmu Fania dijadikan tawanan si pria licik itu? Iya?" tanya Gustav meminta kepastian.
Amarah yang belum sempat mereda harus bangkit kembali ketika mendengar alasan putranya.
''Fania menghilang...."
Angelo pun menceritakan temuannya tadi sedetail mungkin tanpa terlewat satu apapun, bahkan dia juga menunjukkan kalung yang selalu tersemat di leher Fania.
__ADS_1
''Pikiranku kalut. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku memohon bantuan padanya. Tapi dia mengajukan syarat ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Dia berjanji membawa Fania dengan selamat ke hadapanku.''
Gustav memejamkan mata seraya mengepalkan tangan kuat mendengar penjelasan panjang lebar dari putranya. Dia tidak terima Angelo dipermainkan seperti ini. Menurutnya, yang dilakukan Angelo adalah sebuah kebenaran untuk menuntut keadilan. Meskipun dia juga mengetahui jika atasannya yang tidak lain ayah dari Angelo bersalah. Akan tetapi, dia seolah buta. Dan dia merahasiakan rapat-rapat akan kebenaran itu dari Angelo.
Biarlah Angelo mengetahui yang ia ketahui. Selebihnya, biarlah menjadi rahasia kelam yang hanya segelintir orang yang tahu, pikirnya.
Tanpa berucap sepatah katapun, Gustav bangkit dari posisi duduknya dengan kemarahan tergambar jelas dari sorot matanya. Dan semua itu disadari oleh Angelo. Seakan tahu gelagat ayah angkatnya, pria itu segera memberi peringatan.
''Jangan lakukan apapun tanpa perintahku! Aku tidak ingin keselamatan Fania terancam."
''Tapi, El—"
''Turuti saja perintahku!" titahnya dengan suara rendah.
Gustav menghembuskan nafas kuat. Perintah Angelo adalah hal mutlak yang harus dituruti. Meskipun dia ingin membalas, tetapi dia tidak bisa berbuat apapun. Dengan terpaksa Gustav berusaha meredam amarah itu seorang diri.
''Jaga keluarga Fania! Perlakukan mereka dengan baik seperti kalian memperlakukanku. Jangan sampai mereka tahu mengenai masalah ini, terutama ibu mertuaku. Jika dia bertanya, katakan saja! Aku ada kerjaan di luar negeri dengan Fania kubawa serta."
''Baik."
''Aku percayakan mereka padamu, Yah."
Hati Gustav terenyuh ketika mendengar Angelo memangilnya dengan sebutan 'Yah'. Ini adalah kali pertama Angelo kembali memangilnya seperti itu semenjak orang tuanya meninggal.
__ADS_1