My Blacklist Man

My Blacklist Man
Pernikahan


__ADS_3

''Apa pekerjaan kalian sudah selesai?" Angelo menatap dingin para perias yang bertugas mempercantik pengantinnya.


''Sudah, Tuan," jawab salah seorang dari mereka.


''Kalian bisa keluar, aku ingin bersama pengantinku."


Ketiga wanita yang berada di sana menunduk hormat, lalu bergegas meninggalkan sepasang pengantin tersebut.


Dengan langkah pelan, Angelo mendekati wanita yang tengah mematut dirinya di depan cermin. Matanya sejak tadi tak pernah berkedip memandangi penampilan Fania yang terlihat menawan. Alis on point dan riasan yang glamour sangat serasi dipadukan dengan gaun ala putri negeri dongeng yang dikenakan, ditambah aksen mahkota yang bertengger di kepalanya semakin mempercantik penampilan wanita itu.


''Kenapa kamu memandangku seperti itu? Apa aku tidak cocok dengan riasan ini? Aku hapus aja kalo gitu, ganti natural aja."


Angelo segera menghentikan tangan Fania yang ingin menyentuh wajahnya. Dia menatap lekat wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya.


''Kamu cantik, tapi aku gak rela jika kecantikanmu harus dinikmati banyak mata."


Semburat merah tercetak jelas di wajah wanita itu saat mendengar pujian yang terlontar. Ingin rasanya dia menyembunyikan wajahnya dimanapun tempatnya, meski di lubang semut sekalipun.


''Hentikan semburat kemerahan ini! Cukup wajah cantikmu saja yang dipertontonkan. Jangan wajah menggemaskan ini!"


Tangan Fania refleks memukul pelan dada bidang pria itu. Dia tidak menyangka jika calon suaminya ini pandai merayu.


''Kamu belajar gombal dari mana?"


''Itu nyata, Fania."


Fania hanya mencebikkan bibirnya.


''Tuan, Nona, sudah waktunya untuk—''


''Fania! Astaga ... Ini Fania Larissa, ‘kan? Ini beneran loe." Emma nyelonong masuk begitu saja, bahkan menggeser tubuh kekar yang sejak tadi berdiri tegak di depan Fania.


''I-iya...."


''Astaga ... Jadi, dugaan gue waktu itu bener. Asli sih, gue udah curiga, tapi gue gak berani bilang."


Fania hanya menunjukkan deretan giginya. Dia sendiri bingung harus memberi tanggapan seperti apa.


''Wah, loe ketiban durian runtuh, Fan."


''Mati, dong," celetuk Fania.


Suara deheman keras membuyarkan acara temu kangen rekan lama tersebut. Emma yang sadar akan posisinya segera meminta maaf, lalu melaksanakan kembali tugasnya dengan profesional.

__ADS_1


''Sudah waktunya tuan dan nona untuk keluar. Para tamu sudah menunggu."


''Baik, kami akan segera kesana," tukas Angelo dengan nada dinginnya.


Dia segera meraih tangan calon istrinya, lalu mengamit mesra tangan lembut tersebut. Keduanya berjalan beriringan keluar ruangan itu menuju tempat acara dengan Emma mengekor di belakang mereka.


''Untung milih gaun ala princess, jadi perut gue ketutupan. Kalau gak bisa berabe gue, jadi bahan gosip mingguan mereka."


...----------------...


Sepasang pengantin memasuki ruang acara dengan disambut para tamu undangan yang sudah berjajar rapi membelah jalan untuk raja ratu sehari itu. Tidak ada seorangpun yang tidak berdecak kagum melihat keserasian calon pengantin, terutama melihat kecantikan Fania, bahkan banyak kaum adam yang tak berkedip memandangi wajah ayu wanita itu.


''Dia bisa kujadikan umpan," batin seseorang yang berada diantara kerumunan itu. Seringai sinis tersungging di bibir tebalnya.


Di sebrang sana, telah berdiri seorang pria yang bertugas untuk memandu prosesi pernikahan.


Kini, Angelo dan Fania sudah berdiri di depan pria tersebut. Acara pun dimulai dengan khidmat, hingga berapa lama kemudian....


''Baiklah, Tuan Angelo Nikki Hayden dan Nona Fania Larissa ... Kalian telah resmi menjadi pasangan suami-istri. Semoga pernikahan kalian diberkati hingga maut memisahkan."


Suara riuh tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Angelo segera menyematkan sebuah cincin bertahtakan berlian kecil di tengah ke jari manis Fania, tak lupa memberikan sebuah kecupan lembut. Disusul dengan Fania yang melakukan hal sama.


''Cium.''


''Cium....''


Suara riuh tamu undangan kembali membahana. Fania tampak menggeleng pelan sebagai isyarat agar Angelo tidak menuruti permintaan mereka. Namun, pria itu hanya menyunggingkan senyum misteriusnya .


Tanpa aba-aba, dia segera menarik pinggang wanita itu hingga merapat tak berjarak dengan tubuhnya. Bola mata Fania bergerak gelisah kesana-kemari, kegugupan melanda hebat dirinya.


''Tolong, jangan lak— hemmppt...."


Wanita itu melotot tak percaya, bibirnya telah dibungkam dengan serangan suaminya, semakin dia berusaha melepaskan semakin erat belitan itu. Lama-kelamaan, Fania ikut terhanyut dengan permainannya. Dia mulai memejamkan mata menikmati permainan itu.


''Buka matamu, kita bisa lanjutkan nanti," bisik Ello dengan menyatukan kening.


Fania kembali membuka matanya. Dia bisa melihat tatapan berbeda dari suaminya.


Suara riuh tepuk tangan kembali terdengar menyadarkan keduanya, bahkan suara suitan saling bersahutan seolah menggoda mereka.


''Kakak mata adikmu ternoda." Teriakan yang berasal dari mulut Fena.


''Ulangi lagi." Berganti Ferry yang berteriak.

__ADS_1


Dan masih banyak lagi teriakan bernada godaan dari penonton yang lain. Sungguh, Fania merasa malu luar biasa. Sebab baru kali ini, dia mendapat ciuman yang disaksikan banyak orang.


...----------------...


Acara inti sudah terlaksana, berlanjut acara resepsi yang dilakukan waktu yang sama pula. Angelo sengaja menyatukan acara agar Fania tidak kelelahan. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandungan istrinya.


Hampir satu jam sepasang mempelai berdiri di tempat pelaminan, selama itu pula keduanya selalu menebar senyum menyalami para tamu. Kondisi Fania yang sedang hamil membuatnya mudah merasa lelah. Dia mendudukkan tubuhnya pada kursi ketika merasakan kram pada perutnya.


''Kamu kenapa?" tanya Angelo yang menyadari raut tak biasa dari istrinya.


''Perutku kram tapi tidak terlalu," jawab Fania dengan nada berbisik.


''Kalau begitu kita ke kamar saja," ucap Ello yang tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.


''Tidak usah, gak enak sama para tamu. Lagian ini sudah mendingan, sungguh!"


''Beneran?"


''Iya, udah mendingan kok."


''Ya sudah, kamu duduk saja."


Fania mengangguk menanggapi.


...----------------...


Tak jauh dari tempat pelaminan, seorang pria tengah menatap tajam ke arah sepasang pengantin. Tangan terkepal kuat dan gigi bergemelutuk menandakan jika dia tengah mati-matian menahan gejolak amarah yang bersarang dalam dada. Sorot matanya memancarkan dendam mendalam, seandainya ada yang menyadari tingkah lakunya. Namun sayangnya tidak ada, teman-teman semejanya sibuk dengan obrolan mereka.


''Nikmatilah! Kebahagiaanmu yang hanya sekejap ini. Aku pastikan dalam waktu dekat kau akan merasakan apa yang ‘ku rasakan. Nyawa harus dibalas nyawa.''


''Hei, kau ingin seperti mereka?" Senggolan keras pada lengannya seakan menarik paksa kesadaran pria itu.


Dia segera merubah ekspresi wajahnya seperti sedia kala, seolah tidak terjadi apa-apa. Dia memaksakan senyum berusaha untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya.


''Lupakanlah!"


''Makanya cepat cari ... Tuh, banyak cewek-cewek cantik tinggal comot satu," celetuk teman yang lain.


''Lu kira bakwan," sahut pria itu kesal.


Sontak wajah keruhnya menjadi bahan tertawaan ketiga teman yang lain.


''Ingat, umur makin tua. Apa kau tidak ingin merasakan perkikukan? Rugi punya senjata cuma buat ke*c**g doang." Teman yang menyenggol lengannya tadi berseloroh.

__ADS_1


Pria itu tak lagi menanggapi ocehan mereka. Dia memilih meminum wine di hadapannya dengan pandangan tertuju pada tempat pelaminan.


"Tunggu tanggal mainnya."


__ADS_2