
Suara ketukan keras dari arah luar berhasil mengusik seorang pria yang masih bergelung dalam selimutnya. Dia mengeram kesal sebab matanya masih terasa sangat berat untuk terbuka. Pukul tiga dini hari, dia baru bisa memejamkan mata dan kini pagi-pagi buta tidurnya ada yang mengganggu.
''Awas jika itu pelayan atau Ayah Gustav. Mereka akan menerima akibatnya," geramnya menahan kesal.
Dengan langkah berat seiring mata terpejam, Angelo melangkah menuju pintu.
Mulutnya sudah siap untuk memarahi si pembuat ulah. Namun, ketika melihat seorang wanita yang berdiri di depannya. Rasa kesalnya menguap begitu saja.
''Maaf ... Aku mengganggu ya," cicit gadis itu merasa bersalah.
Dia tampak memilin ujung bajunya untuk mengurangi rasa gugup yang melanda hebat.
''Ti-tidak, kebetulan aku memang sudah bangun sebelum kau mengetuk pintu." Angelo beralibi diiringi senyum lebarnya.
''Apa kau membutuhkan sesuatu? Sepagi ini sudah menemuiku," lanjut pria itu.
''A-aku—''
Angelo menatap lekat wanita di depannya. Dia tampak serius menantikan kelanjutan kalimat yang akan terucap dari bibir mungil itu.
''Aku apa? Katakanlah!" titahnya penuh kelembutan.
''A-aku bersedia menerimamu." Fania langsung memejamkan mata setelah mengatakan itu.
''Semoga aku tidak salah langkah," batinnya
''Apa? Aku tidak dengar suaramu terlalu rendah. Apa kau bisa mengulangnya?''
Tentu saja itu hanya pura-pura, dia bermaksud menjahili. Angelo berusaha merapatkan bibir agar tawanya tidak pecah. Sungguh, sangat menyenangkan bisa menggoda wanita itu.
Fania menghela nafas panjang, terpaksa dia harus mengulang kembali kalimat itu.
''Aku bersedia menerimamu, aku bersedia menjadi pendampingmu."
__ADS_1
Suara wanita itu terdengar sangat lantang, sehingga menarik perhatian para pelayan yang tengah bekerja. Para pelayan itu kompak mengalihkan pandangan ke asal suara.
Di balik sebuah pilar besar, dua orang paruh baya berusaha mencuri dengar dengan segala rasa penasarannya.
''Ina, apa kau mendengar ucapan gadis itu? Sepertinya dia berteriak," tanya Gustav yang memang sudah berkurang fungsi pendengarannya.
''Sangat jelas, Gustav," jawab Ina.
''Dia bilang apa?''
''Kau itu mulai tuli, tapi sok-sokan berlagak seperti anak muda. Kenapa tidak mendekat?" Ina menyahut berang.
Dia tengah berkonsentrasi penuh memerhatikan sejoli di depannya. Namun, harus terganggu karena pertanyaan pria yang seumuran dengannya.
''Tinggal menjawab, apa susahnya," sungut Gustav.
Beberapa saat kemudian, terdengar ringisan pelan dari bibir pria baya itu ketika merasa nyeri pada bagian pinggangnya akibat terlalu lama membungkuk, ditambah dengan beban tubuh Ina yang menimpa tubuhnya.
''Kau kenapa?"
"Dasar orang tua," cibir wanita itu seraya berlalu ke arah dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
''Hei, kau juga tua. Sama-sama tua dilarang saling mengejek," teriak Gustav seraya menjauh perlahan menggunakan tongkat setianya.
Para pelayan yang mendapat tatapan tajam sang majikan segera melanjutkan pekerjaannya sembari berpura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.
''Masuklah! Sebaiknya bicarakan di dalam."
Tanpa aba-aba, Angelo segera menarik tangan gadis itu untuk memasuki ruangan pribadinya.
''Katakan sekali lagi? Aku ingin mendengarnya lagi."
Fania mengerucutkan bibirnya. Dia sangat kesal karena merasa pria itu sedang mengerjai dirinya.
__ADS_1
''Apa perlu kubawa ke THT telingamu itu untuk diperiksa. Sepertinya kotoran di dalam sana menumpuk sampai pendengaranmu bermasalah," sindirnya.
Angelo hanya menunjukkan deretan gigi putihnya. Dia menggaruk kepala belakang yang sama sekali tidak gatal.
''Bukan begitu, aku sangat bahagia sampai aku ingin mendengarnya berkali-kali. Bila perlu aku akan merekamnya."
''Alasan!"
''Jadi, kapan kita menikah?" tanya Ello dengan antusias, ''aku akan mempersiapkan pernikahan megah dan meriah sesuai keinginanmu."
Terbesit dalam benak Fania untuk menyewa jasa Wedding Organizer di tempat kerjanya dulu, sekalian membalas perbuatan mantan atasannya. Selain itu, ada satu tema pernikahan impian rancangan mereka yang dia impikan sejak dulu.
''Terserahmu! Tapi aku ingin memakai jasa Sisca's Enterprise. Apa kau mau mewujudkan keinginanku?" tanya Fania dengan binar penuh harap.
Angelo menyunggingkan senyum tipis. Dia memahami niat terselubung calon istrinya ketika menyebut salah satu nama penyedia jasa tersebut.
''Dengan senang hati."
Senyum merekah terkembang di bibir wanita itu. Dia mengira pria itu akan keberatan, tetapi ternyata justru sebaliknya.
''Terima kasih."
''Aku tidak mau jika cuma melalui ucapan."
''Lalu?" Gadis itu memandang dengan kening berkerut.
Tanpa menjawab, Angelo merentangkan kedua tangannya. Namun, hal itu justru semakin menambah kebingungan Fania.
Pria itu menghela nafas panjang karena wanita di depannya tak kunjung memahami keinginannya.
''Peluk."
Fania mencebikkan bibirnya. "Modus."
__ADS_1
Angelo yang merasa gemas segera menarik tangan wanita itu, lalu membawa ke dalam dekapannya. Fania yang biasanya memberontak saat diperlukan seperti itu, kini hanya pasrah. Entah kenapa ada kenyamanan tersendiri berada dalam posisi seperti ini. Dia semakin menelusupkan wajahnya ke dalam dekapan dada bidang itu.
''Aku paham niatmu, Fania. Aku akan membantumu dengan caraku." bisiknya dalam hati seraya mengeratkan pelukannya.