
Dengan langkah lebar, Angelo memasuki kediamannya. Ketegangan tergambar jelas di raut wajahnya. Pria itu tidak bisa lagi berpikir tenang saat mendapat laporan dari anak buahnya yang tidak bisa menemukan keberadaan Fania.
"Fania! Fania!"
"Apa kau di dalam?"
"Fania keluarlah sebentar!"
Ina berlari tergopoh-gopoh saat mendengar teriakan tuannya, begitupula dengan Gustav. Pria baya itu segera menghampiri sumber keributan.
"Ada apa, El? Kenapa kau berteriak seperti itu?'' tanya Gustav
''Nona Fania belum kembali, Tuan. Bukannya tadi ke kantor mengantar makan siang?''
Tak berselang lama, Ina ikut menyahut dari arah dapur.
''Sial! Aku kecolongan!"
''Apa maksudmu, El?" Gustav kembali bertanya karena belum memahami keadaan.
''Akh, sudahlah! Gak ada waktu buat menjelaskan. Yang terpenting aku harus bergerak cepat sebelum anak dan istriku kenapa-kenapa."
Angelo segera merogoh ponsel yang ada di saku celana berniat menghubungi seseorang. Namun, niatnya harus terhenti karena kedatangan Asih.
''Loh, Nak El. Kamu sudah pulang? Di mana Fania?"
Angelo mematung di tempat. Dia bingung harus menjawab apa, tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Takut mental Asih kembali terganggu karena terlalu memikirkan putri sulungnya.
__ADS_1
''Fania, ya? Dia—''
Gustav segera menyikut lengan Ina mengisyaratkan untuk membantu Angelo.
''Ibu Asih sudah minum obat belum? Ini sudah waktunya minum obat." Ina segera menyela pembicaraan mereka seraya mendekati wanita paruh baya itu.
Ina berusaha mengajak Asih kembali ke kamar dengan menarik tangannya. Namun, tertahan karena wanita itu tak ingin pergi sebelum mendapat jawaban.
''Sebentar, Bu Ina. Aku ingin tahu keberadaan putriku, kok tidak ikut pulang bersama suaminya." Asih bersikukuh dengan keinginannya.
Pikiran buruk mulai menghantui setelah mendengar aduan Fania tadi. Terlebih, sekarang menantunya pulang seorang diri. Dia khawatir putrinya melakukan aksi nekat.
"Fania saat ini ada di hotel, Bu. Kami berencana bulan madu," ucap Angelo. Alasan itu tiba-tiba muncul begitu saja di otaknya.
''Bulan madu? Jadi kalian sudah berdamai." Asih berucap dengan mata berbinar.
Angelo mengangguk pelan sebagai respon. Asih sudah mengetahui kalau dia dan sang sang istri tengah berseteru. Itu artinya Fania sudah bercerita banyak hal pada ibu mertuanya.
Pria itu tertohok mendengar celotehan panjang lebar ibu mertuanya.
''Kamu sudah dapat jawabannya, ‘kan? Sekarang ikut aku, minum obat dulu." Ina memaksa Asih untuk kembali ke kamarnya.
''Minum obat? Oke, ayo ... Bu Ina. Aku harus sembuh sebelum cucu-cucuku lahir."
Angelo masih termenung di tempat. Dia bahkan tidak peduli lagi dengan Asih yang masih membanggakan usahanya.
''Fania berniat pergi dariku? Apa aku keterlaluan? Jangan-Jangan dia benar-benar mewujudkan niatnya?"
__ADS_1
Angelo segera menepis kasar dugaan itu. Pasalnya, beberapa menit yang lalu ponsel Fania masih aktif sewaktu dia menghubunginya, panggilannya juga sempat sempat diangkat. Dia juga bisa mendengar dengan jelas suara pekikan tertahan sang istri sebelum panggilannya terputus. Sebab itulah, dia segera pulang ke rumah karena takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Ini pasti perbuatan wanita itu karena aku tidak mau memenuhi syaratnya."
Tanpa berpikir lama, pria itu segera menghubungi wanita yang beberapa menit lalu bertandang ke kantornya.
...----------------...
Jason menyeringai puas, selangkah demi selangkah rencananya telah berhasil. Target incaran sudah ada di genggaman, kini tinggal melaksanakan rencana kedua. Pria itu menyalakan cerutu sembari menatap wanita berperut buncit yang tak sadarkan diri yang ada di depannya.
''Pintar juga dia mencari pendamping. Wanita ini lumayan cantik," gumamnya seraya mengitari tubuh terikat itu.
''Harus ‘ku apakan kau, Nona? Haruskah aku melenyapkan bayi yang ada dalam kandunganmu? Atau sekalian dirimu?"
Jason berdecak kesal saat mendengar suara deringan keras dari ponselnya, terlebih saat membaca identitas si pemanggil.
''Ada apa?" tanyanya dengan malas.
''Kau sudah berhasil menangkapnya?"
''Bukan urusanmu!"
"Ck, berhati-hatilah! Dia sudah tau istrinya gak ada. Tadi aku sempat dengar dia marah-marah menelpon seseorang."
Hanya gumaman pelan sebagai jawaban.
"Gak usah ham-hem ham-hem. Aku peringatkan padamu, jangan ceroboh!"
__ADS_1
"Iya-Iya, ini yang membuatku malas kerjasama dengan wanita, terlalu cerewet," sahut Jason ketus. Setelah itu, dia memutus sepihak sambungan teleponnya.
"Jika saja Tuan Rayyan gak membatalkan tawarannya. Aku tidak akan pusing-pusing nyari partner."