
Fania merebahkan tubuhnya di pangkuan sang ibu, hatinya resah tak berkesudahan. Kalimat terakhir wanita tadi masih terngiang jelas di telinganya, bahkan nada kemarahan wanita itu seakan selalu menghantuinya.
''Bu, aku bingung. Aku seperti salah jalan." Fania mengadu pada ibunya, meskipun hanya kebisuan yang didapat tidak menyurutkan sedikitpun niatnya.
Asih masih dengan raut tanpa ekspresinya, pandangannya pun masih kosong ke depan.
''Aku bingung, Bu. Aku ragu untuk melanjutkan hubungan ini. Aku yakin ibu dengar, aku yakin ibu juga merasakan apa yang aku rasakan.''
''Aku tidak tahu apapun tentangnya. Dia menyimpan rahasia besar. Aku sudah mengatakan semuanya tentang diriku dengan harapan dia juga mau terbuka. Tapi apa yang kudapat? Apa aku gak berharga baginya, Bu?''
Setetes air mata lolos begitu saja ke pipi putihnya. Fania menelusupkan wajahnya lebih dalam ke area perut sang ibu. Dia sudah tidak peduli jika ibunya akan terganggu, lalu marah padanya. Dia hanya ingin mencari ketenangan, tidak apa tidak mendapat jawaban. Dengan mengutarakan semua isi hatinya sudah bisa mengurangi sedikit beban hatinya.
Fania mendongak saat merasakan sentuhan lembut pada surai panjangnya. Asih tengah menatap lekat ke arahnya.
''Kamu kenapa?"
Wanita itu bangun dari posisinya, lalu mengusap kasar air matanya. Dia berusaha memperlihatkan senyum terbaiknya, meski matanya masih terlihat memerah.
''Aku tidak apa-apa, Bu."
''Dia baik," ucap Asih masih dengan tatapan yang sama.
Fania menegang seketika, mungkinkah Asih merespon keluhannya, mungkinkah Asih mendengar semuanya, mungkinkah Asih memahaminya, banyak pertanyaan yang berkelebat dalam benaknya. Fania menatap sang ibu tak kalah lekat.
''Dia baik, dia tidak jahat. Dia baik."
__ADS_1
''Percayalah, dia baik."
Wanita paruh baya itu terus mengulangi ucapannya. Tatapannya kosong ke arah putri sulungnya. Lidah Fania kelu untuk sekedar menyangkal. Seandainya ibunya sadar dan menyaksikan apa yang dia lihat, pasti ibunya tidak akan bersikukuh mengucapkan itu.
''Percayalah, dia baik!"
Fania memilih mengangguk sambil berkata, "Iya, aku percaya, Bu. Yang dikatakan ibu tidak pernah salah. Dia memang baik."
Wanita segera memeluk erat tubuh sang ibu, perkataan Asih semakin terdengar jelas dalam jarak yang hanya sejengkal itu. Hatinya terasa teriris, ibunya begitu percaya dengan calon suaminya.
''Seandainya ibu tau," ratapnya dalam hati.
...----------------...
Semenjak aksi pembuntutan itu, Fania memilih menjaga jarak dari calon suaminya. Dia selalu menghindar ketika melihat pria itu berniat mendekat. Tak peduli ketika tengah berkumpul dengan si kembar ataupun keluarga yang lain, Fania akan melakukan hal yang sama. Angelo bukan tidak merasakan perubahan calon istrinya, dia sangat sadar. Pria itu sengaja membiarkan. Dia ingin melihat sampai kapan wanita itu akan terus seperti itu.
Di tengah kegiatannya, seperti biasa Angelo menyelinap masuk hanya untuk menyapa calon ibu mertuanya. Melihat kedatangan pria itu, Fania meletakkan begitu saja mangkok bubur yang sejak tadi berada di tangannya, lalu segera beranjak. Namun, baru beberapa langkah sebuah tangan kekar berhasil menahan lengannya.
''Mau kemana?" tanya Ello disertai tatapan tajamnya.
''Ambil minum buat ibu," balas Fania datar seraya melepas paksa genggaman tangan itu.
Bukannya melepaskan justru Angelo semakin mengeratkan genggamannya. Dia menyeret paksa tubuh mungil itu hingga keluar kamar. Pria itu menatap tajam calon istrinya, tatapan seakan mampu menguliti wanita itu hidup-hidup.
''Jelaskan! Kenapa kau menghindariku? Aku berusaha diam, Fania. Tapi semakin aku diam sikapmu semakin menjadi." Angelo berteriak marah hingga suaranya menggelegar ke seluruh penjuru rumah.
__ADS_1
Ina dan Gustav yang mendengar teriakan itupun bergegas menghampiri. Mereka tidak ingin Angelo bertindak di luar batas akibat amarahnya.
''Tidak ada penjelasan, puas!" Dengan berani, Fania menatap nyalang pria itu.
''Sudahlah! Aku tidak ingin ribut pagi-pagi. Aku harus mengurus ibuku." Fania berniat menghindar. Namun, dengan sigap Angelo kembali menahan lengannya.
''Jangan coba-coba menghindar! Kau pikir aku tidak tau kelakuanmu. Kau mencoba membuntutiku dengan mengkambing hitamkan kedua adikmu, bahkan kau menyogok sopir. Kau pikir aku tidak tau, hah!"
''Baguslah jika kau sudah tahu. Jadi, aku tidak perlu capek-capek memikirkan alasan untuk berkelit," jawabnya santai, bahkan tidak terpengaruh sedikitpun dengan kemarahan pria itu.
''Aku tidak suka ada yang ikut campur dengan urusanku," ucap Angelo pelan penuh penekanan seraya mengeratkan genggamannya hingga terdengar ringisan pelan dari bibir mungil Fania.
''Lepas! Kau menyakitiku."
Fania berusaha memberontak, tetapi semakin dia berusaha lepas, tangannya semakin merasa sakit.
''Jangan mentang-mentang kau calon istriku. Kau bisa bertindak sesuka hatimu, Fania. Kau harus tau batasanmu."
Dada Fania terasa sesak mendengarnya. Dia segera menggigit kuat tangan pria itu agar bisa terlepas. Terdengar erangan kesakitan dari mulut calon suaminya, yang otomatis membuat cekalan tangannya merenggang. Fania tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera berlari menuju kamarnya, lalu menguncinya dari dalam.
Fania menyadarkan tubuh pada daun pintu. Tubuhnya luruh ke lantai seiring dengan air mata yang membasahi kedua pipinya. Dari arah luar terdengar jelas suara gedoran diiringi teriakan nyaring calon suaminya. Fania menutup telinganya rapat-rapat berharap suara itu segera lenyap dari pendengarannya.
''Aku kecewa, Fania. Kau telah melewati semua batasanmu. Seharusnya kau tidak melakukan itu."
Lagi, Fania harus mendengar mengenai batasan. Bukankah dalam cinta mengesampingkan kata batasan, terlebih mereka akan menikah. Bukankah pasangan harus saling terbuka satu sama lain. Apakah dia salah karena telah berusaha mencari tahu tentang calon suaminya. Bukankah itu hal wajar, tetapi kenapa Angelo begitu marah setelah mengetahui semua tindakannya. Seharusnya, yang lebih kecewa disini dirinya bukan pria itu. Dirinya lebih banyak mendapat kebohongan hingga terpaksa harus mencari tahu seorang diri.
__ADS_1
''Aku bukan boneka yang harus selalu menurutimu. Aku hanya ingin tahu tentang calon suamiku. Tidak ada batasan dalam sebuah hubungan, terlebih kita akan menjadi sepasang suami-isteri. Rahasia suami adalah rahasia istri, begitupun sebaliknya. Jika memang itu maumu. Aku lebih baik mundur, Tuan El.''
Tubuh Angelo menegang ketika mendengar ucapan Fania dari dalam sana. Pria itu hanya menatap nanar pintu bercat putih yang tertutup rapat di hadapannya.