
''Permisi ... Selamat siang."
Tok-tok-tok!
Suara ketukan bertubi-tubi diiringi teriakan dari arah luar, behasil membangunkan seorang gadis yang tengah terlelap di dalam kamarnya. Dengan wajah bantalnya, dia melangkah ke arah pintu untuk melihat siapa tamu yang datang.
''Anda siapa?" tanya Fena tampak sesekali menguap menahan kantuk.
''Apa benar ini rumah Ibu Asih Juniarti?"
''I-iya, ada apa ya?" Fena bertanya dengan nada was-was.
Dia takut jika pria yang ada di depannya ini adalah salah satu preman suruhan bos kasino, tempat langganan bapaknya bermain judi seperti tempo hari.
''Saya—''
''Jangan bilang kamu anak buah Bos Darto yang disuruh nagih hutang bapak," sela gadis itu asal menebak, "bapak gak ada. Kalo mau nagih hutang cari aja orangnya, jangan tagih kesini. Kami gak ada uang," sambungnya ketus.
Dia masih kesal, tempo hari gagal membawa periksa ibunya karena uangnya terpaksa digunakan untuk menutup sebagian hutang judi ayahnya. Mereka mengancam akan mengambil rumahnya jika tidak dibayar saat itu juga.
''Bu-bukan begitu, saya disuruh—''
''Nah, benar, ‘kan? Kamu suruhan aki-aki bau tanah itu. Gak, gak! Kami gak ada uang. Sana pergi! Lebih baik kalian hajar saja bapak saya sampai babak belur, kalau perlu sampe mati sekalian. Gara-gara dia, kita gagal bawa ibu konsul ke rumah sakit," potong gadis itu berapi-api.
Amarahnya selalu memuncak setiap kali mengingat peristiwa siang itu.
''Stop, Nona. Saya belum selesai bicara, tolong, jangan dipotong dulu! Saya kemari disuruh atasan saya untuk membawa Ibu Asih ke rumah sakit."
''Ap-apa?! Saya tidak salah dengar, ‘kan?"
''Tidak, Nona."
Fena berkedip berkali-kali, bahkan mencubit tangannya sendiri untuk memastikan jika itu bukanlah mimpi.
''Di mana Ibu Asih sekarang?"
Suara pria itu berhasil menyadarkan lamunannya, dengan tergagap dia memberitahu keberadaan ibunya.
''Ad-ada di kamar."
__ADS_1
''Sebaiknya Anda segera bersiap karena saya sudah mendaftarkan Bu Asih ke bagian Psikiatri di rumah sakit HDR Hospital."
''Ba-baiklah. Mohon tunggu sebentar, Tuan."
Kini, dia sangat yakin jika pria itu bukanlah orang yang sama seperti yang dia tuduhkan, meski banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan. Namun, dia memilih mengesampingkan itu semua. Yang terpenting sekarang ibunya segera mendapat penanganan agar bisa pulih seperti sedia kala. Tak lupa pula, dia memberi kabar pada saudara kembarnya yang tengah bekerja dan memintanya segera berangkat ke rumah sakit tujuan.
Beberapa menit kemudian, Fena tampak keluar dengan menggandeng tangan ibunya menuju mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Pria itu juga dengan sigap membantu.
Sebelum berangkat, pria itu menyempatkan melapor pada atasannya.
''Mereka bersama saya, Tuan."
...----------------...
Angelo tersenyum puas membaca pesan yang dikirimkan anak buahnya. Bukan tanpa alasan dia memerintahkan anak buahnya untuk membawa ibu dari calon istrinya periksa ke rumah sakit. Permintaan Fania semalam membuat hatinya tergerak untuk membantu mereka. Terlebih setelah mendapat laporan dari mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi keluarga Fania, membuatnya menaruh iba pada mereka.
''Tuan El, Kau suka yang mana?"
Suara lembut Fania menarik paksa kesadarannya. Wanita itu menyodorkan katalog yang berisi berbagai pilihan dekorasi pernikahan. Angelo tampak menatap sekilas, kemudian tersenyum lembut kearah calon istrinya.
''Apapun pilihanmu, aku suka."
''Haish, itu bukan jawaban," sungutnya.
''Bisa tidak? Maskermu itu dilepas saja. Agar mereka melihat betapa cantiknya istriku,'' pinta pria itu dengan memiringkan bibirnya.
Fania membelalakkan matanya, tidak! Dia tidak akan menuruti perintahnya. Dia sengaja memakai masker ini agar teman-temannya tidak mengenali dirinya. Dia belum siap bertemu mereka dengan keadaan seperti.
''Gak mau! Takut kena Covid. Kamu tau sendiri ‘kan ibu hamil rentan kena virus." Gadis itu menyahut ketus seraya melirik sinis calon suaminya.
''Maaf ya, Mbak. Dia memang rada usil. Saya harap kalian gak terganggu sama tingkahnya," ujarnya dengan nada dibuat-buat.
Kedua wanita muda yang ada di depannya hanya bisa saling memandang satu sama lain. Suara kliennya ini sangat mirip dengan temannya dulu—Fania. Namun, mereka tak berani mengatakannya, memilih menyangkal keras dugaan itu. Rasanya tidak mungkin jika temannya ada di tempat semegah ini.
Menurut kabar terakhir yang mereka dengar dari kedua adiknya, Fania pergi ke luar kota untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih besar.
''Apa kalian tidak nyaman dengan keberadaan pria tua ini? Kalau, iya ... Aku akan menyuruhnya pergi dari sini." Suara Fania memecah keheningan ruangan megah itu.
''Eh, ti-tidak, Nona. Maaf, kami melamun." Rena menimpali.
__ADS_1
''Jadi, Anda pilih yang mana, Nona?" Emma segera membuka suara untuk mengalihkan kecanggungan itu.
''Ini, ya ... Tapi aku mau pilihan warna soft selain putih serta nuansa romantisnya kerasa, kalian paham 'kan dengan yang kumaksud?'' Fania menunjuk salah satu gambar dekorasi, dengan menatap mereka satu per satu.
''Siap, Nona. Semua keinginan Nona sudah kami catat. Jika sudah tidak ada lagi kami permisi dulu.''
''Iya, silahkan! Ingat ya, saya pilih paket lengkap premium." Fania mengingatkan lagi akan pesanannya.
''Siap, Nona. Semua sudah ada di agenda kami."
''Mari, Tuan, Nona...."
Fania menghembuskan nafas lega setelah ke temannya menghilang di balik. Dia segera melepas maskernya, lalu menghembuskan nafas beberapa kali.
''Bagaimana aktingku tadi?" tanya gadis itu pada pria di sampingnya.
''Lumayan.''
''Itu bukan jawaban, aku mau jawaban pasti," sahutnya ketus.
''Kau tidak pantas berlaku seperti itu. Aku lebih suka dirimu apa adanya, Fania. Bukan dibuat-buat seperti tadi. Lagipula, apa untungnya?" Angelo sengaja berpura-pura tidak mengetahui apapun tentang gadis itu. Dia ingin Fania menceritakan masa lalunya dengan sukarela.
''Mereka temanku. Mereka tidak tahu kondisiku yang seperti ini. Aku belum siap bertemu mereka," jawabnya dengan pandangan lurus ke depan. Helaan nafas berat terdengar jelas dari mulutnya.
''Sudahlah! Aku tidak ingin membahas hal-hal yang menyakitkan. Kamu bisa berangkat lagi ke kantor. Urusan sudah selesai. Setelah ini aku mau ke rumah sakit sama Bi Ina.''
''Aku yang akan pergi bersamamu bukan Ina," sergah Angelo cepat.
''Tapi ‘kan—''
''Aku bosnya, aku bisa kerja dari rumah. Aku tidak mungkin melewatkan pemeriksaan rutin anakku. Ini momen berharga buatku."
Jika sudah begini, Fania hanya bisa pasrah. Melarang pria itu juga percuma.
''Terserah!"
''Ya sudah! Ayo, berangkat sekarang," ajaknya seraya menarik paksa tangan Fania.
''Eh, tapi ‘kan aku belum siap-siap," pekik gadis itu terkejut, tangannya segera meraih tas selempang miliknya.
__ADS_1
''Sudah seperti itu saja. Tidak usah cantik-cantik, kau sudah laku."
Fania tak lagi menjawab, hanya bibirnya bertambah maju lima senti.