
"Kamu salah jika punya niatan pergi dari suamimu. Apa kamu ingin anak-anakmu diasuh ibu tiri? Syukur-Syukur dia baik kalau enggak? Pikirkan matang-matang, Fania. Mereka juga darah dagingmu, apa kamu rela kalau sampai mereka menderita. Tidak baik mengambil keputusan saat emosi." Asih berucap panjang lebar menasehati putrinya, sesekali tangannya menunjuk ke arah perut buncit Fania.
Dia merasa jengkel mendengar aduan putrinya beberapa saat yang lalu. Fania menceritakan semua masalah rumah tangganya serta niatan untuk pergi dari kehidupan sang suami setelah melahirkan nanti, kemudian menyerahkan pengasuhan sepenuhnya kepada Angelo.
Wanita paruh baya itu sampai tidak habis pikir, putrinya selalu berpikiran dangkal dan selalu mengedepankan emosi.
Fania terdiam mendengar nasehat ibunya. Jika dipikir-pikir ada benarnya juga, tetapi apa dia sanggup bertahan dengan Angelo yang telah berubah seperti itu.
''Tapi, Bu ... Dia—''
Fania tak lagi melanjutkan ucapannya, melainkan langsung menyodorkan selembar foto yang sejak tadi berada dalam genggaman. Asih menerima foto tersebut serta membaca tulisan yang ada di belakangnya.
''Lantas, apa kamu rela suamimu jatuh ke tangan wanita ini?"
Fania mendongak menatap lekat ibunya, lidahnya kelu untuk menjawab, tetapi dalam hatinya berkata 'tidak akan pernah rela'.
''Dari diammu ibu sudah bisa menebak kalau jawabanmu 'iya'. Dengan begini, mestinya kamu harus punya tekad kuat untuk menaklukkan hati suamimu. Jangan biarkan wanita lain masuk dalam rumah tanggamu."
"Tapi caranya gimana, Bu? Setiap aku mendekatinya dia langsung pergi," ucap wanita hamil itu dengan frustasi.
Asih tampak berpikir sejenak, kemudian berkata, "Ayo, ikut ibu."
''Kemana, Bu?"
Asih mengabaikan pertanyaan putrinya. Dia justru melenggang pergi dengan diikuti Fania dari belakang. Wanita itu mengerutkan kening ketika sang ibu membawanya ke dapur. Dia hanya mengangguk menanggapi sapaan para pelayan yang masih mengerjakan tugasnya di sana.
''Kita mau apa kesini, Bu?"
"Diam, jangan banyak tanya!"
Fania memilih membungkam mulutnya. Dia menatap penuh kebingungan ketika Asih mulai bertempur dengan peralatan dapur.
''Apa mungkin ibu lapar? Tapi kenapa gak bilang? Apa mungkin dia ingin makan sesuatu?" tanya wanita itu dalam hati.
__ADS_1
Fania tak ingin ambil pusing sebab ibunya sering bertingkah aneh semenjak mentalnya terganggu.
Beberapa menit kemudian, Asih telah menyelesaikan kegiatannya. Wanita itu menyodorkan satu kotak makanan ke hadapan putrinya seraya berucap, ''Bawa ini! Antarkan makanan siang ini pada suamimu."
"Tapi, Bu—"
"Tidak ada penolakan, Fania! Ini salah satu cara untuk meluluhkan hatinya." Asih memotong cepat ucapan putrinya.
Interaksi ibu dan anak itu tak luput dari pengamatan para pelayan yang ada di sana, termasuk Ina, bahkan dia tersenyum-senyum sendiri melihatnya. Dalam hatinya bersyukur Asih lebih memihak Angelo daripada putrinya sendiri.
Fania menghela nafas pelan jika sudah begini, mau tak mau harus menuruti permintaan sang ibu. Jika tidak, maka harus siap-siap telinganya panas mendengar ocehan panjang lebar. Wanita itu meraih kasar kotak tersebut, lalu bergegas keluar dengan menghentakkan kaki.
"Kalo jalan hati-hati! Gak usah dibuat-buat kayak gitu." Asih berseru memperingatkan putrinya.
Namun, Fania hanya melirik sekilas, kemudian memalingkan muka begitu saja.
Tidak yang tidak tertawa menyaksikan drama ibu dan anak itu. Ina pun segera menghampiri Asih untuk menanyakan apa yang terjadi.
''Sepertinya aku harus segera melapor pada tuan. Tapi bagaimana? Tuan masih uring-uringan seperti itu," batin Ina.
"Memangnya wanita itu siapa, sih, Bu Ina?"
Pertanyaan Asih berhasil menyentak lamunan kepala pelayan itu.
''Bukan siapa-siapa, Bu. Tuan juga tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan wanita itu. Ibu tidak usah berpikiran macam-macam, ya ... Di hati tuan hanya ada Non Fania. Tuan seperti itu karena ada masalah dengan pekerjaannya."
Meskipun ada yang mengganjal, tetapi Asih hanya mengangguk mempercayai. Dia juga segera berpamitan kembali ke kamar untuk beristirahat.
...----------------...
"Nona Fania!"
Ramon lumayan sangat terkejut melihat kedatangan istri atasannya. Pria itu baru saja keluar hendak membelikan makan siang untuk Angelo beserta tamunya.
__ADS_1
''Wah, kebetulan ketemu Pak Ramon di sini. Aku bisa bertanya letak ruangan Tuan El," seru Fania dengan riang, "aku membawakan makan siang untuknya."
Ramon mengalihkan arah pandang pada tentengan tas kertas yang ada di tangan kiri ibu hamil itu. Dia teramat gusar sebab Angelo sedang tidak bisa diganggu.
''Ta-tapi, Nona ... Di dalam ruangan tuan sedang ada tamu penting. Tidak bisa diganggu."
"Tidak apa-apa, aku bisa menunggu di luar ruangan. Ada tempat tunggunya, ‘kan?"
Ramon mengangguk polos. Setelah berpikir beberapa saat, pada akhirnya dia memutuskan membawa Fania menuju ke tempat atasannya. Tidak mungkin juga dia meminta wanita itu untuk kembali ke rumah. Perjalanan dari rumah ke kantor lumayan jauh, memakan waktu hingga satu jam lebih. Tentu saja, dia tidak ingin istri tuannya kelelahan, lalu berdampak pada kandungannya. Bisa-Bisa dia yang kena damprat si bos besar.
"Baiklah, mari ikuti saya."
Fania pun mengekor di belakang Ramon. Begitu memasuki lobby perusahaan banyak pasang mata yang memperhatikan ke arahnya, bahkan ada berbisik satu sama lain. Pasalnya, mereka belum pernah bertemu dengan wanita hamil itu karena ini memang kali pertama Fania berkunjung. Dia mengangguk disertai senyum manisnya menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.
''Perhatian semuanya! Saya ingin memperkenalkan seseorang pada kalian." Suara lantang Ramon berhasil mengundang perhatian para karyawan yang ada di sana. Semua tampak serius menyimak.
''Perkenalkan, dia Nona Fania Larissa. Wanita yang dinikahi tuan beberapa bulan yang lalu. Tolong, ingat-ingat wajah ini terutama untuk resepsionis dan satpam. Jangan sampai jika sewaktu-waktu nona berkunjung mendapat penolakan, paham?!"
Semua yang ada di sana mengangguk dengan patuh. Ramon kembali melanjutkan langkahnya menuju lift untuk sampai ke lantai tertinggi gedung itu di mana tempat atasannya berada.
''Kita sampai, Nona. Dan itu ruangan tuan," ucap Ramon seraya menunjuk pintu yang yang terletak tak jauh di depannya, "Anda bisa menunggu di sana." Kemudian beralih menunjuk ruang tamu yang memang sudah disediakan.
''Terima kasih, Pak Ramon. Saya merepotkan sampai menunda makan siang bapak."
''Tidak apa-apa, Nona. Sudah menjadi tugas saya. Kalau begitu saya permisi dulu."
Selepas kepergian Ramon, Fania melangkah pelan meneliti setiap sudut dan interior tempat yang ia pijaki. Terlihat sederhana namun elegan terkesan mewah.
"Bukan cuma rumah kantor pun terkesan mewah. Pantas dia sanggup membiayai pengobatan ibu dan sekolah adik-adikku. Hartanya tidak akan habis dimakan tujuh turunan," gumamnya.
Langkah Fania terhenti tepat di depan pintu ruangan suaminya. Dia bisa mendengar suara-suara yang ada di dalam sana. Sepertinya mereka tengah mendiskusikan sesuatu yang entah itu apa, dia tidak memahami. Hingga beberapa saat kemudian, matanya terbelalak ketika mendengar suara.
''Tinggalkan istrimu! Aku akan menyelamatkan perusahaanmu."
__ADS_1