My Blacklist Man

My Blacklist Man
Membalas Kompor Meleduk


__ADS_3

Tepat pukul delapan pagi, Fania berada dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya dulu dengan pendampingan duo kacung yang ditugaskan untuk membuntuti kemanapun dirinya pergi.


Tak membutuhkan waktu lama, mobil yang dia tumpangi mulai memasuki area kompleks perumahan sederhana, yang itu artinya tinggal beberapa meter lagi akan sampai pada tempat tinggal keluarganya.


Dia menghembuskan nafas kuat ketika melewati jalanan yang ia lalui. Seketika, peristiwa pahit itu terlintas begitu saja dalam ingatannya.


''Sudahlah, Fania. Jangan diingat-ingat lagi," batinnya.


''Rumahnya yang mana, Nona?" tanya salah seorang pria yang bertugas mengemudi.


''Itu—'' Fania menunjuk sebuah rumah. ''Loh, kok rame ada apa? Tolong dipercepat, Pak," pinta Fania.


Berbagai pikiran buruk mulai merasuk dalam pikirannya. Para tetangga banyak berkumpul guna menyaksikan keributan yang terjadi.


Pada saat mobil berhenti di depan rumah, Wanita itu bisa melihat dengan jelas beberapa orang pria bertubuh kekar tengah sibuk mengeluarkan barang-barang pribadi milik adik-adiknya. Fena si bungsu berusaha menenangkan sang ibu yang tengah menjerit ketakutan, sedangkan Ferry tampak memohon pada salah seorang dari mereka. Beberapa saat kemudian, terdengar suara bentakan, lalu mendorong tubuh adiknya hingga tersungkur ke tanah. Dia juga melakukan hal yang sama pada tubuh Fena dan Asih.


''Ibu!" pekik Fania.


Tanpa berpikir panjang, Wanita itu segera keluar dari mobil, lalu menghampiri ibu dan adik-adiknya. Duo kacung yang melihat majikannya keluar pun segera mengikuti dari arah belakang.


''Apa yang kalian lakukan?!" Fania berteriak pada tiga orang preman yang ada di depannya.


''Bapak mereka punya banyak hutang pada bos kami. Dia sudah menggadaikan sertifikat rumah ini. Karena sudah jatuh tempo dan uang belum ada, mereka harus keluar dari rumah ini," teriak pria berambut gondrong.


''Berapa hutang bapak?"


''50 juta."


''Hanya segitu kalian meminta rumah? Harga rumah ini lebih dari itu. Kalau kalian mengambil rumah ini, maka kembalikan sisa uangnya pada mereka." Wanita itu tidak bisa lagi menahan kesabarannya. Sorot penuh amarah tergambar jelas di wajahnya.


''Minta saja pada si brengsek itu, kalau gak habis buat judi," hardik pria gondrong itu, ''sudah, pergi sana! Jangan ganggu pekerjaan kami, banyak barang rongsokan yang harus di keluarkan," usirnya tanpa perasaan.


''Tidak bisa! Mereka tidak tahu menahu mengenai hutang bapak. Jangan seret mereka, ini rumah ibu bukan rumah bapak." Fania tidak ingin mengalah begitu saja. Dia berusaha memperjuangkan hak-hak keluarganya.


''Sudahlah, Kak! Jangan berurusan sama mereka. Mereka orang-orang bengis, tidak segan menyakiti siapapun.'' Ferry memperingati kakaknya.

__ADS_1


''Tidak bisa, Fer. Rumah ini hak kalian—''


''Pemuda itu benar. Sebaiknya kau diam atau kami akan bertindak."


Duo kacung yang hendak bergerak pun segera ditahan oleh Fania.


''Jangan ikut campur!"


''Ferry benar, Kak. Dia sudah berusaha mempertahankan rumah itu tapi yang didapat malah bogem mentah." Fena menimpali dengan memeluk erat ibunya.


Tubuh Asih bergetar hebat dalam pelukan putri bungsunya. Wanita paruh baya itu terus saja merancau menguncapkan kata yang sama diiringi air mata yang terus berderai.


Fania menatap nanar keluarganya. Belum genap dua bulan dia meninggalkan mereka, kondisi mereka tampak sangat memprihatikan. Tubuh Ferry tampak lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya pun tampak kusam, sedangkan kondisi Fena juga tak jauh berbeda dari kakaknya.


''Apa yang terjadi? Kenapa keadaan kalian seperti ini?" Wanita hamil itu tak bisa lagi menahan air matanya.


Kedua adik kembarnya hanya diam membisu. Mereka malah menundukkan kepala bingung untuk memberi jawaban.


''Ya sudah, kalian ikut kakak saja," putus wanita itu. Dia juga tidak ingin keluarganya menjadi bahan tontonan terlalu lama.


''Ibu ini Fania, Fania datang...."


''Fania, putriku ... Ibu rindu. Kamu bukan seperti itu, kamu korban."


''Mereka jahat! Bapakmu jahat! Kamu korban." Asih merancau pelan. Namun, terselip amarah dalam rancauannya, bahkan berulangkali mengucapkan kata yang sama.


''Iya ... Fania percaya. Terima kasih sudah membela Fania. Sekarang ibu sama adik-adik ikut Fania aja, ya. Tinggalkan bapak!"


''Iya ... Ayo, pergi! Ibu gak mau disini. Ayo, pergi!" Asih memaksa dengan mata berkaca-kaca, bibirnya pun tampak bergetar.


Wanita itu segera memerintahkan duo kacungnya untuk membereskan pakaian-pakaian yang berserakan, lalu memasukkan ke mobil. Dia juga meminta kedua adiknya untuk memasuki mobil terlebih dulu. Kedua pria itu mengangguk segera mengerjakan tugas mereka.


Setelah memastikan kedua adik dan ibunya duduk nyaman di mobil. Fania segera menghubungi calon suaminya untuk meminta ijin akan pulang terlambat karena harus mencarikan tempat tinggal sementara untuk mereka. Dia segera menceritakan semua yang dialami keluarganya mulai awal hingga akhir.


Diluar dugaan, Angelo justru meminta mereka untuk dibawa ke rumahnya. Pria itu juga akan mencarikan psikiater untuk menyembuhkan ibunya. Mendengar hal itu, tentu saja Fania merasa sangat bahagia, bahkan berterima kasih berkali-kali. Dia sangat bersyukur telah dipertemukan oleh pria itu. Pria yang tidak hanya peduli dengan dirinya, melainkan dengan keluarganya juga.

__ADS_1


''Belum ada dua bulan udah naik mobil mewah, didampingi bodyguard pula. Pria mana lagi yang berhasil kau goda, Fania."


Suara lantang seorang wanita menghentikan langkah Fania yang hendak memasuki mobil. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat demi menahan amarah yang tiba-tiba memuncak. Untuk kesekian kalinya, dia harus mendengar hinaan menyakitkan itu. Mungkin jika waktu itu dia akan diam, tetapi untuk kali ini, tidak akan. Dia tidak akan membiarkan orang-orang berkata buruk tentang dirinya dan keluarganya. Dia akan membalas dengan cara elegan.


Fania segera merubah ekspresi wajahnya, lalu beralih mendekati tetangganya diiringi senyum manisnya.


''Apa ibu iri? Oh, iya, aku lupa ... Anak ibu ‘kan perawan tua. Umur hampir kepala tiga gak laku-laku, pilih-pilih sih, jadi orang ... Muka pas-pasan saja, sok-sokan pengen dapat pria kaya. Mending saya kemana-mana, baru dua bulan cabut dapat rejeki nomplok," ucap Fania dengan gaya centilnya seraya menepuk pelan body mobil.


''Jadi p***** kok bangga," cibir Bu Yuni.


''Ya harus dong ... Setidaknya saya bisa menggaet laki tajir, pakai barang-barang branded, perhiasan mahal. Ibu pengen ‘kan ... Kalau pengen anaknya suruh kerja kata saya. Nih hasilnya...." Fania menunjukkan semua yang melekat pada tubuhnya, bahkan mendekatkan tas mahal ke wajah wanita seumuran ibunya itu.


''Udah ah, aku pulang dulu ... Semoga habis lihat kesuksesan saya tensi darah ibu gak naik, bye, Bu Yuni." Fania mengibaskan rambut panjangnya hingga mengenai wajah tetangga julidnya itu. Dia segera memasuki mobil dengan membanting pintu.


Sesampainya di dalam mobil, berulang kali Fania berusaha mengatur nafasnya. Rupanya menghadapi seorang tetangga julid juga membutuhkan tenaga ekstra. Tak dapat dipungkiri ada amarah terpendam dalam diri wanita itu. Selama ini dia berusaha sabar menghadapi fitnah wanita itu, berusaha untuk tidak terprovokasi dengan ucapannya. Namun, semakin dibiarkan tingkahnya semakin menjadi.


Netranya melirik sang ibu yang sudah tenang dengan pandangan kosong ke depan. Entah kenapa timbul sebuah keyakinan jika kondisi Asih ada campur tangan dari wanita itu, selain bapaknya. Hanya dia satu-satunya tetangga yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaan terhadap keluarganya.


''Kakak kenapa nanggepin nini peyot itu? Buang-buang tenaga," celetuk Fena dengan nada sewotnya.


''Orang seperti itu kalau didiamkan terus-terusan bakal ngelunjak. Selama ini kakak udah sabar ya ... Tukang kompor macam dia mesti dikasih bensin, biar meleduk kalau perlu hangus sekalian," timpal Fania menahan kesal.


''Gue setuju sama kakak. Coba dari dulu kayak gitu," sahut Ferry yang ada di jok paling belakang.


''Nyaut aja kek colokan," balas Fena ketus.


''Udah, stop! Daripada debat. Sekarang ikut kakak. Kasihan ibu butuh istirahat."


''Tapi kita kemana, Kak?'' tanya Ferry.


''Kalian diam, tenang. Jangan bikin kepala kakak tambah pusing! Nanti juga sampai."


''Jalan, Pak!"


''Siap, Nona."

__ADS_1


__ADS_2