My Blacklist Man

My Blacklist Man
Berusaha Menguak Misteri


__ADS_3

''Kak, sampai kapan kita nungguin keburu jamuran?" keluh Fena yang mulai bosan, sesekali memainkan poni yang menjuntai di dahinya.


''Mungkin Kak Ello gak jadi pergi, Kak. Atau mungkin kakak yang salah dengar." Ferry pun ikut berkomentar tanpa mengalihkan pandangan dari game online yang ada di ponselnya.


''Ssstt, diem kalau gak mau uang jajan kalian melayang," ucap Fania yang masih fokus mengamati pintu gerbang tak jauh dari tempatnya.


Fania benar-benar nekad melakukan aksinya, rasa keingintahuannya lebih mendominasi daripada rasa takutnya. Tak tanggung-tanggung wanita itu juga menyogok sopir yang ditunjuk untuk mengantarkan kemanapun dirinya pergi demi kelancaran misinya. Dia bahkan sudah menyiapkan mental seandainya kebohongannya ini diketahui Angelo.


''Nah, itu dia mobilnya keluar," seru Fania, "pak, cepat jalan! Jangan sampai kita kehilangan jejak. Ingat, jaga jarak aman, jangan sampai ketahuan."


''Baik, Nona."


Sopir pun segera menjalankan mobil menuruti keinginan majikannya.


Mereka tidak menyadari jika tak jauh darinya ada sebuah mobil sedan berwarna hitam ikuti mengekor dari arah belakang.


''Tak‘kan kubiarkan kau lolos," ucap seorang pria yang menyorot tajam ke arah depan.


...----------------...


''Loh, Kak, kenapa kita berhenti di sini? Kakak mau melaporkan siapa? Jangan bilang kakak mau ngelaporin Kak Ello. Aduh, jangan deh, Kak. Meskipun dia udah buat kakak hamidun tapi dia mau tanggung jawab. Kita pulang aja yuk ... Gak apa-apa uang jajanku melayang." Fena berceloteh tanpa henti ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran kantor polisi.


Fania memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut mendengar rentetan pertanyaan adiknya. Karena merasa gemas dia segera membungkam mulut cerewet itu dengan menempelkan selembar uang bergambar bapak proklamator. Usahanya berhasil, kini mulut burung itu langsung terdiam.


''Diem dan turuti kakak. Ngerti?!"


Ferry yang ingin berkomentar pun terpaksa mengurungkan niatnya ketika mendengar peringatan tegas sang kakak.


Fania memerintahkan kedua adiknya untuk menunggu di dalam mobil. Dia juga mengatakan akan segera kembali. Si kembar pun memilih menurut sebelum semburan maut menyerang.


''Permisi, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang pria berseragam aparat yang berjaga pada pintu masuk.

__ADS_1


''Emm, begini, Pak. Saya saudara jauh dari salah satu tahanan disini bernama Divia. Saya ingin membesuk," jawab Fania penuh ketenangan.


Beruntung, semalam dia menguping pembicaraan sampai tuntas, sehingga bisa mengetahui nama wanita yang berurusan dengan calon suaminya.


''Kalau begitu mari saya antar untuk mendaftar terlebih dahulu agar bisa mendapat surat berkunjung."


Fania tampak mengerutkan keningnya. Dia baru mengetahui jika hendak berkunjung ke suatu lapas harus menggunakan surat tersebut.


Demi kelancaran misinya, mau tidak mau Fania harus mengikuti segala peraturan yang ada.


Pertama dia harus melakukan pendaftaran di loket kunjungan dengan membawa E-KTP atau KK (kartu keluarga) untuk selanjutnya di daftarkan oleh petugas untuk mendapatkan surat izin berkunjung.


Setelah mendapat surat izin berkunjung, dia masuk ke pintu portir, lalu menemui petugas dan memberikan surat izin tersebut.


Selanjutnya barang yang tidak di perbolehkan masuk ke dalam dititipkan di loker seperti alat-alat elektronik. Kemudian pengunjung dan barang bawaan akan digeledah oleh petugas portir untuk memastikan tidak ada barang yang diselundupkan ke dalam, setelah dilakukan penggeledahan baru Fania bisa mendapatkan kartu kunjungan.


Salah seorang petugas mengantar Fania ke sebuah ruangan yang tidak begitu luas untuk bertemu WBP/TAHANAN yang akan dikunjungi.


''Waktu berkunjung maksimal 15 menit ya, Nona. Jika waktu sudah habis nanti akan ada pemberitahuan," ucap seorang petugas wanita.


Ketika berada di dekat ruangan tersebut, Fania bisa mendengar dengan jelas suara seorang pria yang sangat dikenalnya. Dia segera menyembunyikan diri di balik tembok dengan merapatkan kerudung yang sengaja dia pakai untuk menutupi wajahnya.


''Kau pikir bisa menyeretku ke tempat ini, Tante Divia ... Dan jawabannya sangat jelas. Aku berada di depanmu saat ini."


"Meskipun tante lebih tua dariku, tapi untuk hal ini tante masih anak kemarin sore, bahkan sama saja dengan anak ingusan. Tante jangan coba-coba mencari masalah denganku."


''Bagaimana kau bisa bebas?"


Fania bahkan bisa mendengar gelak tawa yang keluar dari mulut calon suaminya.


''Aku selalu bermain bersih tak bersisa, tentu saja mereka tidak cukup bukti untuk menangkapku."

__ADS_1


''Kau benar-benar picik," geram Divia.


Fania menutup mulutnya mendengar kenyataan baru ini. Dia masih belum memahami semuanya. Serangkaian peristiwa ini bagaikan kepingan puzzle yang hilang. Dan dia harus menemukan kepingan itu untuk menguak semua misteri tentang calon suaminya.


"Sebenarnya, apa yang telah dia lakukan hingga wanita itu terlihat sangat marah pada Tuan El?"


''Siapa pria yang akan menjadi suamiku ini, Tuhan? Apa dia seorang kriminal atau mungkin seseorang mafia?"


Begitu banyak pertanyaan yang bersarang dalam benaknya, sedangkan dia dituntut untuk mencari jawaban itu seorang diri. Semakin kesini semakin banyak misteri yang harus ia pecahkan yang membuat kepalanya pening.


Fania segera mengenyahkan semua rasa penasarannya. Dia segera berlalu sebelum Angelo mengetahui keberadaannya.


Wanita itu kembali ke portir untuk mengambil barang titipan serta mengembalikan kartu kunjungan pada petugas. Lalu, dia bergegas kembali ke mobil dengan langkah lebarnya. Pikirannya benar-benar berkecamuk saat ini.


''Kita pulang, Pak," titah Fania dengan wajah paniknya. Dia bahkan mengabaikan tatapan penuh tanya dari kedua adiknya.


...----------------...


''Tuan, itu seperti salah satu mobil Anda," ucap Ramon yang memerhatikan intens sebuah mobil sedan putih yang baru saja keluar dari pelataran kantor polisi.


Angelo yang semula sibuk dengan ponselnya pun mengalihkan perhatian. Matanya memicing melihat kendaraan beroda empat yang mulai menjauh, sekilas memang tampak sama, tetapi model mobil seperti itu tidak hanya satu di kota ini, terlebih dia tidak bisa melihat dengan jelas plat nomornya.


''Mobil seperti itu banyak, bisa jadi mobilnya saja yang sama pengemudinya berbeda," jawab Angelo yang kembali fokus dengan benda pipihnya.


Ramon pun mengangguk, mungkin dugaannya saja yang salah. Tidak mungkin calon istri atasannya ada di tempat ini, lagian untuk apa, pikirnya.


''Kita kemana lagi, Tuan.''


''Kantor. Ada banyak berkas yang harus ‘ku periksa."


''Baik, Tuan.''

__ADS_1


Ramon segera menginjak pedal gasnya meninggalkan tempat itu.


Seorang pria yang memarkirkan mobil tak jauh dari tempat itupun segera mengikuti, sesaat setelah mobil yang ditumpangi targetnya berjalan.


__ADS_2