
Hari demi hari datang silih berganti setiap detik, menit dan jam terasa merambat bagaikan siput bagi Angelo. Bukan karena dia berada di dalam jeruji besi, melainkan menantikan kabar sang istri yang tak kunjung menemukan titik terang. Kondisinya terlihat sangat memprihatinkan cenderung tak terurus. Tubuh terlihat sangat kurus, cekungan hitam di bawah kelopak mata tertampak dengan jelas. Jambang tebal pun turut menghiasi wajahnya.
Tanpa terasa setahun sudah dia berada dalam kurungan sel tahanan. Angelo benar-benar menepati janjinya untuk mengikuti proses hukum dengan baik. Begitu pula dengan Rayyan, dia juga menepati janji untuk membantu pencarian keberadaan Fania. Setiap kali selesai melakukan misi pencarian, Rayyan selalu melaporkan perkembangan yang ada kepada Angelo.
''Aku berhasil menemukan informasi mengenai pria melalui salah seorang komplotannya. Tapi, dia terlalu cerdik. Saat aku mendatangi persembunyiannya dia sudah tidak ada di tempat.''
Angelo menghembuskan nafas kuat. Untuk kesekian kalinya, dia harus menelan kekecewaan. Setiap kali muncul pengharapan, seketika itu pula harapan selalu menghempaskannya ke dasar jurang yang paling dalam.
''Aku tidak yakin istrimu bisa selamat melihat banyaknya darah waktu itu," seloroh Rayyan yang berhasil memantik amarah Angelo.
''Apa maksudmu? Apa kau sudah bosan membantuku?" tanyanya setengah berteriak.
''Ck, kau ini ... Selalu emosi yang dikedepankan. Ingat, Bung! Emosi membuat pikiran kita menjadi keruh, sedangkan untuk menghadapi masalah ini dibutuhkan pikiran yang jernih. Istrimu tidak membawa sesuatu yang bisa dilacak. Dan itu salah satu rintangannya."
Angelo hanya diam mendengar nasihat pria itu. Setelah dipikir ulang semua perkataannya memang benar. Dia hanya perlu bersabar. Dia tetap optimis jika Fania-nya masih hidup. Selama belum ada bukti kuat mengenai kematian Fania, dia akan menganggap jika istrinya masih hidup.
''Aku yakin istriku masih hidup, selama jasad ataupun makamnya belum terlihat di depan mataku. Aku akan terus mencarinya."
__ADS_1
Rayyan merotasi kedua bola mata, ucapan itu bagaikan makanan sehari-hari baginya setiap mengunjungi lapas ini. Akan tetapi, keyakinan pria licik itu patut diacungi jempol. Angelo benar-benar teguh pendirian.
''Terserah kau sajalah! Aku masih ada kerjaan di rumah sakit. Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk terus melakukan pencarian. Jika ada perkembangan aku akan segera memberitahumu."
Angelo hanya mengangguk tanpa berucap sepatah katapun. Matanya terus tertuju pada punggung kokoh Rayyan yang perlahan menghilang di balik pintu.
''Mari, saatnya Anda kembali ke tempat."
...----------------...
Dulu, Ayah Angelo sengaja menculik istri rivalnya—Bramasta Haydar yang tidak lain Riyana karena rasa iri dan dengki akan kemenangan tender yang selalu didapat Haydar. Kedengkian menggelapkan mata Tuan Hayden hingga terobsesi menghancurkan rivalnya.
Tuan Hayden mengatur strategi seapik mungkin demi kelancaran misinya, yaitu menyerang kelemahan Bram yang terletak pada istrinya. Pada saat itu, Riyana juga dalam keadaan hamil besar seperti Fania saat ini.
Dialah saksi kunci atas apa yang dilakukan atasannya pada masa itu. Tuan Hayden mengurung Riyana di sebuah gubuk terpencil yang berada di tengah hutan. Setiap hari, bahkan hampir setiap detik Riyana selalu memohon untuk dilepaskan demi keselamatan bayi yang ada dalam kandungannya. Namun, Tuan Hayden seolah tuli. Dia mengabaikan permohonan wanita itu karena takut misinya akan gagal.
Hingga suatu ketika, Riyana mengajukan permintaan sebuah syarat agar ia dibebaskan. Tuan Hayden meminta wanita itu untuk pergi sejauh mungkin dari hidup Bramasta Haydar selamanya. Jangan pernah menunjukkan diri dan anaknya kelak di depan pria itu. Meskipun sulit, pada akhirnya Riyana menyetujui syarat itu.
__ADS_1
Tuan Hayden juga meminta Riyana untuk meninggalkan barang-barangnya di tempat. Lagi dan lagi, Riyana menyetujui. Akan tetapi, sebelum benar-benar pergi Riyana sempat mengambil foto kebersamaannya dengan sang suami.
Setelah kepergian Riyana, selang beberapa menit, Bramasta datang dengan membawa beberapa aparat untuk menangkap Tuan Hayden.
Tuan Hayden sendiri hanya bisa pasrah karena dirinya sudah tertangkap basah, untuk mengelak pun percuma. Pada saat itu pula, Tuan Hayden beserta antek-anteknya digelandang menuju kantor polisi.
Akibat tuntutan berat yang diajukan Bramasta Haydar pada masa itu, Tuan Hayden menjadi depresi hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya semasa masa tahanan. Mentalnya terganggu karena tidak sanggup jika harus menanggung malu akibat perbuatannya.
''Tuan, kasihan putramu ... Dia harus menanggung perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. Kondisinya sangat memprihatinkan dibandingkan sebelumnya," gumamnya dengan menatap nanar figura besar potret keluarga atasannya.
''Maafkan ayah, El. Ayah telah menyembunyikan rahasia besar ini darimu. Seharusnya dari dulu aku memberitahukannya." Gustav mengusap lembut setetes kristal bening yang lolos ke pipi.
Pasalnya, selama ini Gustav hanya mengatakan jika Bramasta Haydar penyebab kematian kedua orang tuanya. Dia memutar balikkan fakta seolah-olah Bramasta yang bersalah dan ayahnya sebagai korban.
''Seandainya kau mengetahui hal ini ... Apa kau masih bersedia menganggapku sebagai ayah?"
''Aku sengaja menyembunyikan rahasia ini darimu, El. Karena aku tidak ingin kau mengetahui kejahatan ayahmu. Maafkan aku, El."
__ADS_1