
Seorang pria menyeringai ketika melihat seorang wanita hamil berjalan seorang diri keluar dari sebuah gedung megah. Wanita itu tampak kesulitan berusaha menghentikan taksi yang melintas karena memang jalanan siang itu lumayan ramai saat masuk jam makan siang.
"Aku harus memanfaatkan kesempatan emas ini mumpung tidak ada dua cecunguk yang selalu bersamanya."
Pria itu segera melepas sabuk pengamannya, lalu bergegas keluar menghampiri wanita itu.
"Aduh, kenapa gak ada yang berhenti, sih? Udah melambai-lambai juga." Fania mengeluh ketika tak kunjung mendapatkan taksi, selain tidak tahan dengan terik matahari siang itu. Dia juga takut kepergok orang-orang suaminya.
Sebuah tepukan pada pundak berhasil mengalihkan perhatian wanita itu. Seorang pria bertopi lengkap dengan kaca mata hitam tengah tersenyum manis ke arahnya.
"Anda siapa?"
''Apa Anda butuh tumpangan, Nona? Saya perhatikan dari tadi Anda berusaha menghentikan taksi tapi tak kunjung dapat.''
Fania mengangguk pelan serta was-was, entah kenapa timbul perasaan tidak enak ketika berpapasan dengan orang yang tidak dikenal.
''Kebetulan saya seorang driver taksi online. Dan itu mobil kerja saya." Pria itu menunjuk ke arah mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya.
"Kalau berminat, saya bersedia mengantar kemanapun Anda pergi," sambungnya lagi.
Fania terdiam tampak memikirkan sesuatu. Netranya tanpa sengaja melihat dua penjaga yang ditugaskan untuk menjaganya tengah bertanya kepada setiap orang yang ditemui. Dia yakin jika mereka tengah mencari dirinya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi cepat bawa saya pergi dari sini! Nanti saya bayar lebih."
"Baiklah! Mari, Nona."
Fania mengikuti langkah pria itu menuju mobilnya, bahkan pria itu juga membukakan pintu untuknya persis seperti sopir taksi yang berlaku baik pada penumpangnya. Tidak ada kecurigaan sama sekali yang dirasakan Fania karena mobil yang ditumpangi bukanlah mobil mewah.
Pria itu tersenyum licik setelah berhasil membawa target incarannya masuk. Dia segera masuk ke bangku kemudi, lalu menyalakan mesin untuk segera berlalu dari tempat itu.
"Tidak sia-sia waktuku habis untuk mengintainya, haha...."
Tepat setelah mobil melaju, Ramon sampai pada tempat yang ditunjukkan satpam. Namun, nihil, dia kalah cepat. Fania sudah tidak berada di sana.
...----------------...
"Kenapa berhenti, Pak?" tanya Fania saat mengetahui mobil itu tak lagi melaju.
''Maaf, Nona. Sepertinya mobilnya mogok. Biar saya cek dulu."
Fania mengangguk tidak ada kecurigaan sedikitpun dalam hatinya. Wanita itu juga belum menyadari akan posisinya saat ini. Dia justru sibuk memeriksa sederet pesan masuk yang dikirimkan suaminya.
''Untuk apa dia menanyakan keberadaanku? Bukannya aku tidak berarti."
__ADS_1
''Bu, saya cari air dulu di sungai dekat sini. Tidak apa-apa ‘kan saya tinggal?" Suara pria itu mengalihkan perhatian Fania.
Fania hanya mengiyakan sembari berkata akan menunggu di dalam mobil. Wanita itu kembali sibuk dengan benda pipih di tangannya.
''Wanita bod*h! Setelah ini terima kejutanku!" Pria itu menyeringai licik sambil melirik wanita yang berada dalam mobilnya.
Tanpa terasa satu jam sudah Fania menunggu. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda sopir akan kembali.
"Pak sopir kemana, sih? Apa dia ninggalin aku," gumamnya yang mulai diliputi keresahan.
"Atau jangan-jangan terjadi apa-apa lagi sama dia."
Wanita itu berinisiatif keluar untuk memastikan jika dugaannya tidaklah benar. Fania baru menyadari ketika mengetahui keberadaannya yang berada di jalanan yang sangat sepi, tidak ada satupun kendaraan yang lewat.
"Pak sopir, Anda di mana?" Fania berteriak memanggil sopir taksi tersebut.
Nihil, dia bahkan bisa mendengar lengkingan suaranya sendiri. Tidak terdengar sahutan pria sama sekali. Ketakutan tiba-tiba merasuki pikiran wanita hamil itu.
Dia berniat kembali masuk ke dalam mobil. Namun, ketika hendak membuka pintu tiba-tiba ada yang memukul keras tengkuknya dari arah belakang hingga membuat kesadarannya menghilang.
Seorang pria yang berada tepat di belakangnya, dengan sigap menangkap tubuh wanita itu agar tidak sampai jatuh ke tanah. Tangannya dengan segera membuka pintu mobil, lalu meletakkan dengan hati-hati tubuh Fania.
__ADS_1
Setelah selesai, dia segera kembali pada tempat kemudi, lalu melajukan mobil tersebut ke tempat yang sudah dia persiapkan.