
"Nak Ello, sebenarnya siapa yang mengirim paket seperti itu?" tanya Asih dengan tangan terus memdekap putrinya. Raut penuh kekhawatiran tergambar jelas di wajah wanita paruh baya itu.
''Mungkin hanya orang iseng, Bu," jawab Angelo sekenanya, lalu mengambil alih tubuh sang istri dalam dekapannya. Meskipun Fania tidak se-histeris tadi, tetapi tubuhnya masih bergetar hebat.
''Tenanglah! Aku tidak akan biarkan mereka menyentuh kalian," ujarnya seraya mengeratkan pelukannya, bahkan mencium puncak kepala wanita itu berkali-kali.
''A-aku takut ... Darah tadi, ancaman itu. Aku takut."
''Ssstt, tenanglah! Ada aku di sini."
"Maafkan aku, Fan. Aku yang menyeretmu dalam masalahku. Maaf," batin pria itu dengan mata berkaca-kaca.
Asih menatap iba anak dan menantunya, pernikahan mereka baru seumur jagung. Namun, sudah didera cobaan seperti ini. Keadaan wanita paruh baya itu berangsur membaik sejak putrinya resmi menikah. Sungguh, perubahan yang signifikan hanya kurun waktu tiga bulan meski masih harus mengonsumsi obat dan dalam pantauan dokter.
"Ibu, jangan banyak pikiran, ya! Aku tidak mau ibu drop lagi. Ibu tenang saja, aku tidak akan tinggal diam dan mencari pelakunya sampai dapat."
Asih mengangguk pelan diiringi senyum manisnya. Dia amat bersyukur putrinya mendapat pendamping yang sangat perhatian dan penyayang.
''Aku bawa Fania ke kamar dulu. Ibu bisa istirahat, jangan lupa minum obat ya, Bu."
__ADS_1
''Iya, Nak. Ibu tidak lupa."
...----------------...
Seorang wanita tampak mengendap-endap sembari celingak-celinguk kesana kemari untuk memastikan kondisi sekitar aman, lalu merogoh saku seragam pelayannya untuk mengambil ponsel.
''Hallo, aku mau melapor," ucapnya dengan nada berbisik ketika sambungan teleponnya terhubung.
''Rencanamu berjalan lancar, wanita itu berteriak histeris mirip orang gila saat membuka kirimanmu. Tapi kau juga harus hati-hati, si Angelo meminta orang untuk mengusut masalah ini.''
''Jangan ceroboh macam tadi pagi, untung aku langsung peka saat para pelayan di sini menertawakan tingkah wanita hamil itu. Lain kali, kalau mau mengintai cari tempat strategis." Wanita itu terus mengomeli partner-nya dengan berbagai wejangan, hingga sebuah suara mengejutkan wanita itu.
''Kau sedang apa di situ?"
Dia segera berbalik tanpa menyadari jika ponselnya masih bertengger di telinga. Dilihatnya, sang kepala pelayan tengah berkacak pinggang dengan tatapan sengitnya.
''Bagus! Kerjaan belum beres, sudah main handphone."
Dia yang tersadar, segera mematikan sambungan teleponnya, lalu menyembunyikan benda pipih itu di balik punggungnya.
__ADS_1
"Maaf, Bu."
"Telepon sama siapa kamu? Kenapa mesti sembunyi-sembunyi? Kayak maling aja." Si kepala pelayan memicing tajam ke arahnya.
"I-itu...," ucapnya seraya menggigit bibir bawahnya. Dia tampak berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat. Dikala gugup seperti ini otaknya mendadak tumpul untuk sekedar mencari alasan.
''Itu apa? Katakan yang jelas!"
''I-itu, orang tua saya di kampung menelpon, Bu."
''Bilangin sama orang tuamu, jangan menelpon di jam kerja. Untung saya yang mergokin, coba kalau tuan bisa langsung dipecat kamu," ucap Ina masih dengan nada ketusnya.
''I-iya, Bu. Saya tidak akan mengulang kesalahan lagi," ucapnya dengan kepala tertunduk.
''Segera kembali bekerja!" Ina berlalu untuk mengontrol pekerja yang lai.
Wanita itu menghela nafas lega karena si kepala pelayan mempercayai bualannya.
''Hufftt ... Hampir saja."
__ADS_1
Dia segera mematikan ponsel, lalu menyimpannya kembali, kemudian bergegas melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Tanpa dia sadari, Ina memerhatikan setiap gerak-gerik pelayan baru itu. Entah kenapa dia merasa curiga pada wanita itu.