My Blacklist Man

My Blacklist Man
Karma Mulai Menunjukkan Eksistensinya.


__ADS_3

"Apa kau yakin, Ina? Bisa jadi dia memang sedang menelpon orang tuanya."


Angelo merasa sanksi mendengar laporan Ina. Wanita baya itu, baru saja melapor jika ada gelagat mencurigakan dari si pelayan baru.


''Ya ... Tidak, sih, Tuan. Tapi gak tau kenapa, firasat saya mengatakan jika pelayan itu tengah menyembunyikan sesuatu yang besar."


Angelo tampak berfikir, dalam situasi seperti ini siapapun bisa menjadi musuh, tak terkecuali pelayan ataupun penjaga.


"Begini saja, terus pantau gerak-geriknya. Jika ada yang mencurigakan segera laporkan padaku."


''Baik, Tuan."


Angelo memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Banyak sekali masalah yang ia hadapi, mulai dari omset usahanya yang menurun drastis, hingga berbagai teror dan ancaman. Ketenangan hidupnya mendadak sirna sejak kematian sang musuh.


...----------------...


"Kau habis menghubungi siapa, hah?" Maura berteriak seraya menarik telinga Rayyan. Dan itu berhasil mengejutkan Rayyan yang baru saja menerima telepon dari seseorang. Maura menyeret telinga pria itu untuk mengikutinya, lalu menghempaskan kasar tubuhnya ke sebuah sofa.


''Ra, ini telinga bukan mainan, main tarik aja. Sakit tau!" sungut Rayyan dengan mengusap telinganya yang terasa panas.


''Aku gak peduli! Jawab yang jujur, kamu habis telepon siapa?" Maura berkacak pinggang di depan sepupunya.


''Orang."

__ADS_1


"Aku tau, Ray. Gak mungkin kamu teleponan sama hantu. Jangan berulah ya, Ray! Berulang kali, aku memperingatkanmu. Rupanya telingamu terlalu tebal.''


Rayyan terpaksa menahan panas pada telinga bukan karena bekas tarikan, melainkan mendengar ocehan sepupunya. Entah kenapa semenjak hamil, Maura berubah menjadi sangat cerewet. Sering mengomel tanpa henti, bahkan kadang marah-marah tidak jelas.


''Ayah sudah tenang, aku mohon ... Jangan diteruskan!" Maura menyorot penuh permohonan ke arah pria itu.


Rayyan termenung tampak enggan memberi tanggapan.


"Aku mohon, Ray. Jangan diteruskan!" Wanita itu menggenggam lembut tangan sepupunya.


''Aku tau kamu sedih dan marah. Aku pun sama. Tidak ada gunanya meneruskan dendam, selain menang jadi arang kalah jadi abu. Jangan sampai perbuatanmu ini menghambat jalan ayahku di sana."


Maura beranjak dari tempat duduknya. Namun bukan berarti dia menyelesaikan petuahnya.


''Ingat, Ray! Aku akan selalu mengawasimu dan jadi penghalangmu. Kau beruntung kau mempunyai waktu lebih lama merasakan kasih sayang ayahku, tidak sepertiku," pungkasnya penuh peringatan.


...----------------...


Angelo tampak memijat lembut kepala yang terasa pening, berkas-berkas berserakan di hadapannya. Dia baru saja menerima laporan dari bawahannya dan semua hasilnya sangat mengecewakan.


Tidak hanya pemasukan yang turun drastis, para pemegang saham juga mengancam akan menarik saham mereka jika dalam waktu dekat tidak ada peningkatan.


Semua dialami Angelo sama seperti yang dialami perusahaan keluarga Raichand Khan beberapa waktu lalu, bedanya dia menarik paksa para investor yang ada di perusahaan tersebut, sedangkan di sini para investor sendiri yang menarik paksa saham mereka. Sepertinya, karma mulai menampakkan eksistensinya.

__ADS_1


''Apa kau punya ide, Ram?"


''Hanya ada satu cara, Tuan."


"Katakan!"


''Kita harus mencari investor baru yang bersedia menjadi investor utama."


Angelo menghembuskan nafas kuat. Cara itu adalah yang lumayan sulit, hanya perusahaan besar dan perusahaan asing yang bersedia. Dan untuk memasuki kedua perusahaan itu terbilang sangat sulit, mengingat kriteria mereka terlalu spesifik.


''Jika kita mengajukan pada perusahaan asing waktu kita tidak akan cukup, Ram. Sementara, para pemegang saham hanya memberi tenggat dua minggu. Dari mana kita bisa menemukannya?" Angelo terlihat sangat frustasi.


''Saya mempunyai pandangan, Tuan. Tapi, saya tidak yakin Anda akan setuju."


''Siapa?"


''Perusahaan keluarga Haydar, yang kini dipimpin oleh Nona Maura."


"Are you crazy?! Bagaimana bisa aku meminta bantuan pada mantan musuhku sendiri. Pikir pakai otak, Ram!" Angelo menanggapi dengan berapi-api.


''Tapi itulah kenyataannya, Tuan. Hanya perusahaan—''


"Diam! Usulanmu hanya membuat kepalaku semakin pening." Pria itu menyela cepat ucapan asistennya.

__ADS_1


''Keluarlah! Aku ingin sendiri," lanjutnya lagi.


Ramon pun menuruti perintah atasannya.


__ADS_2