
"Tuan, Anda dibebaskan!"
Ucapan salah seorang petugas berhasil menyentak lamunan Angelo. Pria itu segera mendekat ke arah pintu yang tengah dibuka oleh petugas.
''Apa aku tidak salah dengar?"
Petugas hanya tersenyum tipis, lalu meminta narapidana tersebut untuk mengikutinya.
''Untuk lebih jelasnya, mari ikuti saya! Anda sudah ditunggu keluarga Tuan Rayyan.''
Angelo pun mengikuti langkah petugas tersebut ke sebuah ruangan. Sesampainya di sana, dia bisa melihat para mantan musuhnya tengah berkumpul menunggu kedatangannya. Gustav selaku keluarga Angelo pun turut hadir.
''Akhirnya kau bebas, El," ucap Gustav penuh haru yang langsung memeluk tubuh kurus pria itu.
''Apa ini mimpi? Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu di belakangku, ‘kan?" tanya Angelo yang merasa was-was. Dia masih trauma pada peristiwa malam itu yang berakhir dengan penangkapannya.
Rayyan berdecak tak suka mendengar serentetan pertanyaan yang keluar dari mulut mantan rivalnya. Bisa tidak, sekali saja tidak berpikiran buruk mengenai keluarganya, pikirnya.
''Tidak, Tuan. Rayyan telah mencabut tuntutannya." Maura bersuara.
''Tapi kenapa?"
''Gak usah banyak tanya! Yang penting sekarang kau bebas. Dan aku tidak merencanakan apapun di belakangmu. Ini murni kebaikan hatiku. Mulai saat ini kau bisa menghirup udara segar di luar sana. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Asal kau tidak mengusik keluargaku lagi."
''Jika sampai kau mengulangi perbuatanmu, maka bersiaplah untuk mengatakan selamat tinggal pada dunia," ancam Rayyan penuh penekanan.
''Aku sudah tidak berminat untuk berurusan denganmu. Setelah ini, aku akan fokus mencari keberadaan istriku," sahut Angelo dengan datar.
''Good."
__ADS_1
Entah Angelo harus bahagia atau sedih. Urusannya dengan keluarga Haydar telah terselesaikan, dirinya bisa berkeliaran dengan bebas di luar sana. Dia bisa kembali menjalani hidupnya seperti dulu. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat hatinya dirundung gelisah. Sang istri tidak berada di sisinya, bahkan hingga kini tak diketahui keberadaannya.
Dua tahun sudah Fania hilang tanpa jejak bagai ditelan bumi. Entah jawaban apa yang harus dia ucapkan ketika ibu mertuanya menanyakan mengenai Fania. Sebab hanya Asih yang belum mengetahui perihal menghilangnya wanita itu.
''Cepat ganti bajumu! Lalu kita pulang. Semua sudah menunggumu di rumah."
Suara Gustav berhasil menarik paksa kesadarannya. Angelo pun mengangguk. Sebaiknya dia ganti baju, kemudian tiba di rumah terlebih dulu. Untuk urusan Asih bisa dipikirkan nanti.
...----------------...
Kedatangan Angelo disambut meriah oleh para penghuni rumah. Si kembar Ferry dan Fena langsung memeluk tubuh kakak iparnya. Mereka menumpahkan semua tangis dalam dekapan pria itu. Kedua muda-mudi itu telah mengetahui semua yang terjadi pada kakaknya. Keduanya diberitahu oleh Ina serta meminta mereka untuk merahasiakan masalah ini kepada ibunya.
Angelo membalas pelukan keduanya tak kalah erat. Air mata meluncur bebas membasahi pipi cekungnya. Kata maaf tak pernah terhenti terucap dari bibirnya.
''Maafkan kakak yang tidak becus menjaga kakak kalian. Maafkan kakak," ucapnya lirih, tetapi mampu didengar jelas oleh Ferry dan Fena.
Gadis berusia 19 tahun itu semakin sesegukan dalam dekapan kakak iparnya.
Mereka melerai dekapan, Ferry dan Fena tampak menghapus sisa air mata yang ada di pipi. Mereka menyingkir agak menjauh untuk memberi ruang pada Ina yang juga ingin menyambut kedatangan tuannya.
''Kak, aku ingin membantu mencari Kak Fania," celetuk Ferry tiba-tiba.
''Aku juga ikut, Kak. Kita cari Kak Fania sama-sama sampai ketemu," sahut Fena tak kalah antusias, "kita udah lulus gak hambatan lagi bagi kita untuk membantu pencarian."
Angelo tersenyum tipis sambil mengangguk mengiyakan. Semangat yang sempat redup kembali berkobar saat melihat semangat dua adik iparnya.
''Pencarian? Siapa yang hilang?"
Suasana yang semula hangat dan penuh haru mendadak berubah tegang ketika mendengar suara Asih. Semua orang kompak saling pandang memberi isyarat untuk memberikan jawaban yang tepat pada wanita itu.
__ADS_1
''Kenapa semua diam? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" Asih menatap satu per satu semua orang yang ada di ruangan itu, hingga tatapannya terpaku pada putri bungsunya.
''Fena jawab ibu! Siapa yang hilang? Kalian berencana mencari siapa?"
Fena meneguk ludah kasar, tatapan ibunya terasa sangat mengintimidasi. Dia belum pernah mendapat tatapan demikian dari wanita yang telah melahirkannya itu.
''Emm, itu—''
Fena memainkan dua jari telunjuknya untuk mencari jawaban yang tepat. Dia bahkan memberikan cubitan kecil ke lengan Ferry sebagai isyarat meminta bantuan.
''Itu apa? Katakan yang jelas!" Asih mendesak karena tidak sabar.
''I-iguana Ferry lepas dari kandang, Bu. Fena pengen bantu nyari."
Asih memicing karena merasa ganjil mendengar jawaban putranya. Namun, sedetik kemudian dia mengabaikan perasaan aneh itu, kemudian memilih menghampiri menantunya.
''Akhirnya kau kembali dari luar negeri, Nak El. Kok sendirian Fania mana? Fania sudah melahirkan, ‘kan? Bagaimana bayinya? Sehat semua, ‘kan?"
Lidah Angelo mendadak kelu untuk menjawab serangkaian pertanyaan itu. Dia berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat untuk mengelabui ibu mertuanya.
''Aku ... Aku hanya sebentar, Bu. Bayi kami sedang sakit, dokter melarang untuk diajak bepergian jauh. Jadi, Fania terpaksa tinggal di sana. Tapi, ibu jangan sedih ... Fania menitipkan salam untuk ibu. Dia juga berpesan jika dia baik-baik saja dan meminta ibu untuk tidak khawatir."
''Sayang sekali padahal aku ingin bertemu cucuku," gumam Asih dengan wajah memelas.
Angelo memejamkan mata mendengar gumaman itu, meskipun terdengar pelan, tetapi sangat menusuk telinga. Hatinya bagai dihantam palu godam saat mengatakan itu. Dia sendiri tidak tahu apakah kedua bayinya bisa selamat atau tidak. Jika seandainya selamat sudah sebesar apa mereka. Hanya membayangkan saja mampu membuat pandangannya buram akibat sekumpulan kristal bening yang mengenang di pelupuk mata. Namun, dia berusaha kuat untuk tidak menangis. Dia tidak ingin ibu mertuanya curiga.
''Sudah malam, aku capek ingin istirahat. Ibu juga harus beristirahat. Jangan lupa minum obat!"
Angelo berlalu menuju tangga yang akan membawakan menuju ruangan pribadinya. Dia bahkan mengabaikan semua orang yang masih berkumpul di ruang utama.
__ADS_1