
Berbagai macam umpatan keluar dari bibir mungil milik Fania. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat Angelo melepaskan cengkraman tangannya.
Sepanjang jalan menuju parkiran, Angelo bahkan harus menebalkan muka karena diperhatikan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
''Lepaskan aku! Kau menyakitiku."
''Siapapun tolong aku ... Pria ini berusaha menyakitiku. Tolong!" Fania terus berteriak hingga suaranya terdengar serak. Namun, tetap saja tidak ada seorangpun yang bersedia menolongnya. Orang-orang itu justru menjadikan dirinya sebagai bahan tontonan.
''Tidak aku tidak mau ikut dengannya. Aku harus bisa lepas."
Gadis itu menggigit kuat tangan kekar yang membelenggu kedua tangannya. Berhasil, Angelo mengerang kesakitan, sehingga melepas genggamannya. Fania segera memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari sejauh mungkin.
''Hei, jangan lari!" teriak Ello disela rasa sakitnya.
Dia segera berlari mengejar wanita itu, bahkan mengabaikan tangannya yang masih berdenyut. Bagaimanapun juga, jangan sampai dia kehilangan gadis yang tengah membawa darah dagingnya.
''Aku akan mengejarmu, meski ke ujung dunia sekalipun aku tidak peduli," batinnya penuh tekad.
''Sial! Dia mengejarku!" umpat Fania ketika melihat Angelo berada tidak jauh di belakangnya.
Dia semakin mempercepat laju larinya. Aksi saling mengejar pun tak terelakkan. Meskipun nafasnya sudah tersenggal, Fania masih berusaha berlari sejauh mungkin. Dia mengabaikan pandangannya yang mulai berkunang-kunang.
Fania terpaksa berhenti ketika merasakan nyeri tak tertahan pada perutnya. Dia segera berpegangan pada pembatas jalan yang ada di dekatnya. Sesekali menengok ke belakang tampak siluet pria itu berada jauh darinya.
''Dasar janin sialan! Kau berulah di waktu yang tidak tepat," geramnya sembari meremas perutnya. Pandangannya pun semakin mengabur.
''Aku gak boleh pingsan, aku harus cari tempat sembunyi. Jangan sampai aku tertangkap. Aku gak sudi bersama pria tua itu."
Wanita itu berusaha mempertahankan kesadarannya. Netranya tanpa sengaja melihat sebuah gang. Tanpa berpikir panjang, dia segera memasuki gang tersebut, lalu mencari tempat persembunyian yang aman.
...----------------...
''Kemana wanita itu? Perasaan tadi masuk kesini."
Fania semakin merapatkan tubuhnya pada dinding saat mendengar suara pria berada di dekatnya. Dia menggigit kuat bibirnya saat rasa sakit pada perutnya semakin menjadi.
__ADS_1
Wanita itu menahan nafasnya saat mendengar suara langkah kaki semakin mendekat. Dia segera berjongkok bersembunyi di balik tempat sampah besar yang ada di sisinya.
Angelo berdecak kesal. "Aku yakin dia masih ada di sekitar sini."
''Hei, Fania, keluarlah! Aku tidak akan melepaskanmu, percuma kau menghindar," teriaknya dengan lantang, kebetulan daerah itu sangatlah sepi. Tanpa dia sadari jika gadis yang dicari berada tepat di sampingnya.
Fania membekap mulutnya rapat-rapat agar rintihan kesakitannya tidak terdengar. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang mengalir dari pangkal pahanya, celana jeans yang dipakai berubah berwarna merah.
''Awwssh, sakit ... Darah apa ini? Apa mungkin aku—"
Belum sempat Fania menyelesaikan ucapannya, tubuhnya sudah ambruk menimpa tempat sampah besar hingga membuatnya terguling. Angelo yang masih berada di tempat pun merasa terkejut saat melihat wanita yang dia cari tergeletak tak sadarkan diri. Matanya terbelalak sempurna ketika melihat darah segar membasahi celana wanita itu.
''Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Dia harus selamat."
Angelo segera menggendong tubuh wanita itu untuk mencari pertolongan.
...----------------...
''Ello, siapa yang kau bawa ini? Dia kenapa?"
''Aku bisa jelaskan nanti, tolong siapkan kamar untuknya. Kondisinya darurat, panggilkan dokter juga. Cepat!" titah Ello dengan wajah paniknya.
Tanpa diminta dua kali, pria paruh baya itu segera melaksanakan perintahnya. Dia segera mengarahkan menuju kamar tamu, lalu meminta salah seorang pelayan untuk memanggil dokter keluarga.
''Ada apa, El? Apa dia wanita yang kau tolong kemarin? Dan kenapa celananya penuh darah?" cecar Gustav—sang ayah angkat.
''Dia lagi hamil. Dia mengandung anakku. Aku takut—''
Angelo mengusap wajahnya kasar.
Dia menatap nanar wanita yang tergolek tak berdaya di atas ranjang.
Bayangan kematian kedua orang tuanya puluhan tahun silam kembali terlintas dalam benaknya. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika sampai terjadi sesuatu pada janin itu. Dia juga menyesal karena telah berbuat kasar pada Fania, seharusnya tidak seperti itu. Semestinya, dia bisa menahan emosi dengan mengajak baik-baik gadis itu untuk ikut dengannya.
Gustav sangat memahami perasaan putra angkatnya. Dialah saksi yang melihat betapa terpuruknya Angelo kala itu. Bukan hal mudah baginya harus kehilangan orang terkasih di usia yang masih terbilang sangat belia—10 tahun. Sebab keterpurukannya, pria itu harus terjebak kubangan dendam hingga saat ini.
__ADS_1
''Tenanglah, El. Tidak akan terjadi apa-apa padanya. Sebentar lagi Dokter Bryan akan tiba."
''Aku baru mengetahuinya, tadi setelah aku menemani Andrian. Aku kembali menemuinya di rumah sakit, ternyata dia sudah diperbolehkan pulang. Aku ... Aku mendengar sendiri, dia ingin menggugurkannya. Aku takut kehilangannya."
Gustav yang melihat gelagat aneh putranya segera beranjak untuk mengambil sesuatu. Tak lama setelahnya dia kembali dengan membawa beberapa butir obat, lalu menyodorkan pada Angelo.
''Minumlah! Jangan sampai kau menjadi kalap, lalu menyakitinya. Kau ingin anakmu selamat ‘kan?''
Tanpa banyak bicara, pria itu segera meraih butiran obat tersebut, lalu menelannya dengan sekali tenggak. Beberapa saat kemudian, kondisinya mulai berangsur tenang.
...----------------...
''Dia mengalami pendarahan berat, Tuan. Saya sarankan untuk membawanya ke rumah sakit demi keselamatan janinnya.''
''Tidak! Aku ingin merawatnya di sini."
Bukan tanpa alasan Angelo membawa Fania ke rumahnya. Dia tidak ingin kecolongan lagi, sekaligus bisa mengawasinya secara penuh.
''Tapi, Tuan—''
''Tidak ada bantahan! Lakukan cara apapun agar dia selamat," bentak Ello yang membuat dokter muda itu terkejut.
Gustav yang berada di dekatnya mengangguk pelan sebagai tanda untuk segera menuruti.
Dokter Bryan menghela nafas panjang. Dia segera menghubungi rekannya yang seorang dokter kandungan untuk kemari sesegera mungkin dengan membawa peralatan lengkap.
Tiga puluh menit kemudian, orang yang ditunggu pun tiba. Seorang dokter wanita segera memberi penanganan cepat untuk menyelamatkan janin itu. Wajah Fania juga tampak semakin pucat akibat kehilangan banyak darah.
''Bagaimana, Dok? Bagaimana keadaannya?" Angelo mencecar dengan berbagai pertanyaan.
Dokter wanita itu menatap lekat ke arahnya. Senyum tipis terkembang melihat kepanikan calon ayah itu.
''Entah ini sebuah keajaiban atau apa, melihat banyaknya darah yang keluar. Akan sangat kecil bagi janin itu untuk selamat.''
''Apa maksudmu? Cepat katakan! Jangan membuat aku bingung."
__ADS_1
''Tenanglah! Dia baik-baik saja, tetapi pasien harus bedrest total. Jangan melakukan aktivitas apapun terlebih dahulu dan tolong ... jaga emosi ibunya agar tidak setres. Saya juga sudah memberi obat penguat kandungan. Jika ada pendarahan susulan segera hubungi saya tapi semoga saja tidak."