My Blacklist Man

My Blacklist Man
Lamaran Pagi Hari


__ADS_3

Dua hari sudah, Fania terkurung di ruangan megah itu, bak tawanan yang terkurung dalam sangkar emas. Keadaan yang berangsur membaik membuatnya merasa bosan.


Wajahnya terlihat lebih segar dari hari sebelumnya. Janin di dalam kandungannya juga semakin kuat, meski masih mengalami muntah setiap kali memasukkan makanan. Namun, tidak terlalu parah seperti sebelumnya, hingga sampai membuat tubuhnya lemas.


Berdiri menghadap kaca besar yang mengarah langsung pada taman adalah kebiasaan yang dilakukan Fania setiap pagi. Dengan melihat bunga-bunga segar bermekaran merupakan sebuah ketenangan tersendiri bagi gadis itu.


''Permisi, Nona."


Fania mengalihkan arah pandang saat mendengar suara pria memasuki kamarnya. Matanya membelalak sempurna ketika melihat beberapa pria bertubuh tegap mengenakan setelan jas hitam tengah membawa beberapa tas kertas dari brand ternama, dapat dipastikan jika di dalamnya ada berbagai jenis barang mewah.


''Apa itu?"


''Tuan meminta kami mengantarkan semua ini untuk Anda, Nona," ucap salah satu dari mereka.


''Ya-ya sudah, letakkan semuanya di sana," ujarnya terbata dengan menunjuk sebuah meja yang berada tak jauh darinya.


Meski merasa bingung. Namun, gadis itu tetap mempersilahkan orang-orang itu untuk masuk. Satu set perhiasan mahal dan gaun mewah lengkap dengan sepasang sepatu berwarna senada tertata rapi di hadapannya. Tak ketinggalan kosmetik mahal pun juga ada di sana.


''Untuk apa tuan kalian memberikan semua ini?"


''Kami hanya menjalankan perintah, Nona. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa menanyakan secara langsung."


''Kami permisi, Nona.''


Fania hanya mengangguk dengan tatapan masih tertuju pada barang-barang itu.


''Apa ini sogokan?'' terkanya dalam hati.


''Niat sekali sogokannya. Kalau semua ini dijual, aku bisa kaya mendadak," gumamnya lagi.


''Terserah, kau mau apakan barang-barang itu," ucap Angelo yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


''Untuk apa semua ini?''


''Aku melamarmu."


Jawaban singkat yang mampu mengejutkan seorang Fania, bahkan meminta mengulangi ucapannya.

__ADS_1


''Ap-apa?"


''Iya, aku serius. Aku ingin meminangmu untuk ‘ku jadikan ratu dalam hati dan istana ini."


Gadis itu meringis tertahan mendengar ucapan manisnya. Bukannya merasa senang atau terharu, dia justru muak mendengarnya.


''Dari mana pria arogan ini belajar gombal seperti itu?" batinnya bertanya-tanya.


"Kau mau ‘kan menerima pinanganku?"


Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. Satu sisi dia ingin bebas, tetapi di sisi lain dia juga memikirkan nasibnya. Bagaimana mungkin membina kehidupan rumah tangga tanpa saling mengenal.


''Apa kau menikahiku karena anak ini?" Fania membalikkan pertanyaan.


''Tidak! Seandainya, kemarin kau berhasil menggugurkannya. Aku tetap tidak akan melepaskanmu. Hatiku sudah terpaut padamu, tidak akan ‘ku biarkan kau jauh dariku."


''Itulah alasanku membawamu ke rumah ini bukan ke rumah sakit. Karena aku tidak ingin kau menjauh dariku lagi."


''Aku mohon terimalah pinanganku." Angelo berjongkok, lalu memperlihatkan sebuah cincin di hadapan Fania.


''Aku butuh waktu," jawab Fania lirih dengan tatapan kembali lurus kearah taman.


''Sampai kapan, Fan? Sampai perutmu membesar. Meskipun kau tidak menginginkannya tapi setidaknya pikirkan nasibnya kelak. Kau pasti punya seorang ibu ‘kan? Bagaimana seandainya ibumu membuangmu, apa kau tidak sedih?"


Perlahan namun pasti, Ello mulai mendekati gadis itu.


''Begitu juga yang dirasakan janin ini. Dia pasti sangat sedih jika ibunya sendiri tega membuangnya," sambungnya dengan menyentuh perut rata itu.


Fania yang yang merasa terkejut berniat menghindar. Namun, urung ketika tubuhnya didekap erat oleh pria itu. Ello menyadarkan dagunya pada puncak kepala wanita itu, memejamkan mata sejenak meresapi aroma tubuh yang sangat dirindukan.


''Biarkan seperti ini sejenak."


''Fania, maafkan aku. Aku telah memberi banyak luka dalam hidupmu. Izinkan aku untuk menebus kesalahanku." Angelo menghadapkan tubuh Fania ke arahnya. Dia menatap lekat wajah ayu wanita itu.


''Be-beri aku wa-waktu. A-aku mohon."


Fania yang merasa salah tingkah memilih memalingkan muka ke arah lain.

__ADS_1


''Baiklah ‘ku beri waktu 1x24 jam. Besok pagi aku butuh jawabanmu."


''Secepat itu?"


''Ya, karena aku tidak bisa menunggu lama."


Gadis itu hanya mencebik kesal. "Dasar gak sabaran."


''Kau sudah sarapan?"


Fania menggeleng lemah.


''Aku suapi, maaf kemarin aku terlalu sibuk sampai tidak memperhatikanmu. Aku juga sudah mendapat laporan dari bibi. Jadi, mulai saat ini ... Aku yang akan mengurus makanmu."


Angelo segera menuntun wanita itu ke sebuah sofa, lalu mengambil makan yang sudah dipersiapkan. Dengan telaten dan penuh kesabaran, pria itu menyuapi Fania hingga semua isi piringnya tandas. Dan anehnya, setiap kali Angelo melakukan itu, dia tidak pernah merasa ingin muntah sama sekali, mual pun tidak.


''Ini orok masih dalam perut manjanya minta ampun. Tau aja kalo ada bapaknya di sini," batinnya mendengus kesal.


''Nah, sudah, ‘kan? Aku berangkat kerja dulu. Kalau butuh apa-apa panggil saja Bi Ina. Dia yang aku tugaskan untuk menjagamu selama aku tidak ada.''


''Jangan lupa jawabannya besok pagi," ujarnya sebelum menghilang di balik pintu.


''Eh, Tunggu!" teriak Fania sambil berlari ke arah pintu.


''Ada apa?''


''Apa boleh aku ke sana?" tanya Fania sembari menunjuk ke arah taman.


''Dari kemarin aku ingin kesana," ujarnya dengan wajah memelas.


Angelo tidak langsung menjawab. Dia terlihat seperti mempertimbangkan sesuatu.


''Boleh, ya, please ... Bukan aku yang minta tapi dia." Fania mengusap perutnya.


Pria itu menghela nafas panjang. "Baiklah! Tapi Bi Ina selalu ada bersamamu. Jangan coba-coba untuk kabur karena penjagaan di sini ‘ku perketat."


''I-iya, tidak akan." Fania menelan ludah kelat melihat tatapan penuh intimidasi pria itu.

__ADS_1


__ADS_2