
Seminggu berlalu, keadaan perusahaan Angelo semakin memburuk. Dia sudah melakukan segala cara untuk memulihkan keadaan. Namun, semua berakhir nihil. Seakan semua usahanya sia-sia belaka. Dia juga sempat meminta solusi dari beberapa orang terdekat, tetapi saran mereka selalu sama, meminta dirinya untuk mengajukan bantuan ke perusahaan mantan musuhnya.
Kini pria itu merenung sendiri di balkon yang ada di lantai dua rumahnya dengan ditemani sebotol minuman beralkohol.
"Kamu kenapa?" tanya Fania.
Bukannya menjawab, Angelo memilih menenggak minuman laknat itu langsung dari botolnya.
"Kamu mabuk? Apa dengan begini masalahmu akan selesai? Kalau ada masalah cerita. Jangan dilampiaskan ke minuman." Wanita berperut buncit itu terus mencecar sang suami.
Akan tetapi, Angelo seperti menulikan telinga enggan memberi tanggapan.
''Tuan El, aku ngomong sampe berbusa gak kamu tanggepin sama sekali. Yang punya masalah bukan cuma kamu doang. Semua orang punya masalah, jangan kayak gini. Ada aku, kamu bisa cerita."
"Tuan El, mulutmu mendadak bisu apa lagi sariawan, sih?"
''Tuan—''
"Diam, Fania!'' bentak Ello, "kepalaku seperti mau pecah dengerin semua ocehanmu. Ngertiin aku! Aku butuh sendiri."
Setelah mengucapkan sederet kalimat kasar, Angelo berlalu begitu saja mengabaikan sang istri yang mematung di tempat dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa, dia merasakan remasan tak kasat mata dalam hatinya setelah mendengar bentakan itu, padahal ini bukan pertama kalinya.
"Aku tanya baik-baik, kenapa responmu seperti itu?" Fania berteriak seraya mengejar kepergian sang suami. Dia merasa tidak terima atas tanggapan Ello.
Angelo menghentikan langkah dengan memejamkan mata, kemudian berbalik menatap tajam istrinya.
''Kau bukan bertanya, Fan, tapi mencecarku. Seolah-olah semua pertanyaanmu wajib kujawab. Tidak semua masalahku harus kau ketahui."
Ucapan terakhir pria itu berhasil membuat Fania meradang. Kenapa sulit sekali membuat suaminya terbuka kepadanya, bahkan setelah resmi menikah.
''Lalu, apa gunanya menikah jika masih memendam masalahmu sendiri?"
''Apa kamu bisa memberi solusi jika aku menceritakan semuanya?" Angelo langsung membalas dengan kalimat sarkasnya.
Fania terbungkam seketika, selalu seperti ini jika terjadi perdebatan di antara mereka. Angelo selalu menjadi pemenang, sedangkan dirinya hanya bisa menahan dongkol dalam hati. Tak ingin terlalu lama merasakan kesal, Fania memilih pergi dengan menahan amarah.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada seseorang bersembunyi di balik dinding yang sejak mendengar pertengkaran itu.
...----------------...
Fania terus-menerus mengusap kasar air mata yang terus mengalir di pipinya. Tatapannya tajam ke depan dengan mata memerah. Wanita itu memilih taman bunga sebagai tempat menenangkan diri.
"Kamu kenapa, Fan?"
''Kamu habis bertengkar sama tuan?" Ina menghampiri ketika tanpa sengaja melintas.
Fania memilih membungkam mulutnya daripada menanggapi pertanyaan Ina. Pasti ujung-ujungnya juga akan membela Angelo, pikirnya.
Kebungkaman Fania cukup memberi jawaban bagi Ina jika dugaannya memanglah benar.
"Ada masalah apa?"
Wanita baya itu mendudukkan tubuhnya tepat di samping Fania. Dengan sabar pula, dia menantikan jawaban wanita itu.
Ina menghela nafas kasar ketika tak kunjung mendapat jawaban. Dia juga tidak berhak memaksa Fania untuk bercerita.
"Dia tidak mengabaikanmu, Fan. Yang sabar menghadapinya," pungkas Ina.
Wanita baya itu beranjak untuk melanjutkan kembali pekerjaannya. Namun, baru beberapa langkah dia harus berhenti ketika mendengar suara Fania.
"Aku memang orang bodoh, Bu. Aku hanya tamatan SMA, sedangkan dia tamatan universitas ternama di luar negeri. Sepelik apapun masalah perusahaan, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Akan beda ceritanya jika dia menikahi wanita yang bernama Maura, mungkin masalahnya tidak akan berlarut seperti ini."
Seketika Ina berbalik menatap lekat istri majikannya. Dia sangat terkejut saat mendengar Fania menyebut wanita yang pernah menjadi target tuannya.
"Dari mana kau tahu nama itu, Fania?"
Fania hanya tersenyum kecut, memilih memalingkan muka daripada menjawab.
"Jawab, Fania! Siapa yang memberitahumu tentang nama itu?" tanya Ina.
Dia sudah berada tepat di samping wanita itu, bahkan membalikkan paksa tubuhnya.
__ADS_1
Ketika melihat reaksi Ina, Fania bisa menyimpulkan jika wanita bernama Maura pernah mengukir kisah bersama suaminya. Mungkin wanita itu juga masih bertahta di hati suaminya. Hatinya semakin ngilu ketika mengingat kebenaran ini.
"Itu tidak penting, Bu," jawabnya.
Dia berusaha menampilkan senyum terbaiknya.
''Menurutmu ini tidak penting, tapi bagiku sangat penting, Fania. Cepat katakan! Dari mana kau mengetahui tentang nama itu." Ina terus mendesak sampai wanita itu jujur kepadanya. Dalam pikirannya jangan sampai wanita ini salah paham dengan nama itu.
"Ibu tenang saja, aku gak apa-apa kok. Aku mau ngadem ke kamar, di sini semakin panas. Gak etis istri pengusaha kulitnya kusam," kelakar Fania seraya meninggalkan tempat itu.
Ina menatap lekat punggung istri tuannya hingga menghilang di balik pintu. Dalam hati bertekad segera memberitahukan masalah ini pada tuannya.
...----------------...
Fania menatap lekat selembar foto yang ada di tangannya. Potret candid seorang wanita cantik berseragam dokter tengah tersenyum manis ke sembarang arah. Sepertinya foto itu diambil secara diam-diam. Kemudian wanita itu membalikkan foto tersebut dan membaca tulisan yang tertera di belakangnya.
[Maura ... Kau harus ‘ku miliki.]
"Apa ini alasanmu mengabaikanku, Tuan," gumamnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Memang, selama beberapa hari terakhir, Angelo tampak mengabaikan keberadaan istrinya, bahkan sikap pria itu berubah total dari sebelumnya. Tidak ada lagi rengekan-rengekan manja apalagi sikap usil yang selalu membuat Fania jengkel.
Angelo berubah menjadi sosok dingin tak tersentuh. Pria itu selalu menghindar setiap kali Fania berusaha mendekat.
Kemarin, tanpa sengaja Fania menemukan foto itu di laci nakas sebelah tempat tidur ketika tengah mencari charger ponsel.
"Sadarlah, Fan. Mestinya kamu tidak usah terlalu berharap. Dia menikahimu karena anak yang ada di dalam perutmu, tidak lebih!"
Wanita itu menghapus kasar air mata yang kembali menetes ke salah satu pipinya.
"Bodohnya aku, bisa-bisanya aku tidak sadar saat dia memanfaatkan kemalangan keluargaku." Wanita itu terus bermonolog mengeluarkan semua kegundahannya
"Setelah kalian keluar, ibu akan pergi. Dia cuma butuh kalian gak butuh ibu, paham?!"
Pergerakan dari dalam perut Fania terlihat jelas dari luar. Kedua bayi di dalam sana seolah merespon ucapannya.
__ADS_1