My Blacklist Man

My Blacklist Man
Satu Titik


__ADS_3

Seorang pria tampak mencorat-coret sebuah photo yang sengaja dia tempelkan ke dinding. Dia memberikan tanda merah sebagai tanda jika orang yang ada di dalam photo itulah yang akan masuk dalam target umpan sebelum menjerat target utama.


"Nyawa harus dibayar nyawa."


Gumaman itu yang selalu ia gaungkan disertai tatapan tajam menghunus ke depan. Tatapannya terlihat sangat mengerikan seandainya ada yang melihat. Namun sayang, pria itu sendirian di dalam ruangan gelap yang hanya mendapat pencahayaan dari luar.


"Kau tunggu giliranmu," ucapnya dingin beralih menatap foto seorang pria berjas yang sudah dipenuhi tinta merah pada bagian wajahnya


"Nikmatilah kebahagiaanmu! Sebelum menerima kejutanku, Angelo Nikki Hayden!"


"Pembalasanku akan lebih kejam! Tunggu tanggal mainnya."


Tawa pria itu menggelegar memenuhi ruangan. Tatapannya selalu menajam ke depan. Jiwa ingin membunuh berkobar hebat dalam dirinya, layaknya kobaran api yang disiram oleh bensin.


...----------------...


Tanpa terasa kehamilan Fania memasuki bulan ke-tujuh, perutnya juga sudah terlihat semakin membuncit, bahkan lebih besar dari ukuran orang hamil pada umumnya karena ada dua bayi yang ada di dalam sana. Wanita itu tampak sibuk kesana kemari untuk mempersiapkan baju yang akan dikenakan sang suami.


"Hemm, baju udah giliran dasi," gumamnya.


Dia bergegas menuju lemari penyimpanan dasi. Dia mengetuk-ngetukkan telunjuk pada dagunya karena merasa bingung untuk memilihkan dasi yang cocok untuk setelan yang sudah dipersiapkan.


"Kamu ngapain?" Angelo yang baru keluar dari kamar mandi langsung merengkuh tubuh sang istri dari belakang.


Fania yang merasa terkejut langsung mencubit gemas tangan kekar itu.


"Aww, sakit, Fan."


"Biarin! Salah sendiri bikin orang kaget." Wanita hamil itu menimpali dengan ketus disertai wajah juteknya. Tangannya meraih asal jajaran dasi yang ada di depannya, lalu meletakkan di samping baju yang ada di tempat tidur.


"Semua sudah aku persiapkan. Pakai sendiri bisa, ‘kan?"


"Ehem! Apa kamu gak ada inisiatif untuk memakaikan sekalian?"

__ADS_1


Fania merotasi bola matanya. Ini bukan pertama kalinya Angelo meminta hal itu. Semenjak menikah, pria itu berubah sangat manja pada dirinya. Bukan hanya soal baju, bahkan makan pun kadang minta disuapi tanpa peduli dimanapun tempatnya.


"Dasar bayi besar! Punya tangan sama kaki buat apa kalau pakai baju aja masih nyuruh."


"Ya sudah kalau gak mau, aku akan meminta Mila si pelayan baru yang bohay itu."


Fania melotot seketika, jika sampai itu terjadi itu artinya bagian tubuh suaminya akan dilihat wanita lain. Tentu saja, Fania tidak ingin itu terjadi. Wanita itu segera menyambar pakaian yang ada di atas ranjang, lalu meminta suaminya mendekat.


"Awas kalau sampai macam-macam, ku babat habis itu sosis terus aku kasihkan ke ikan hiu di laut," ucapnya menahan kesal sembari memakaikan satu per satu pakaian ke tubuh sang suami.


Pria itu hanya bisa menahan senyum ketika melihat kekesalan sang istri.


"Iya-Iya, tidak akan. Bagaimana aku bisa berpaling, istriku sendiri lebih bohay dari si Mila itu."


"Bilang aja tubuhku mirip gajah bengkak, pakai ngatain bohay segala," sahut Fania dengan ketus.


Angelo tergelak karena tak bisa lagi menahan tawanya. Hal itu pula yang membuat wajah Fania semakin keruh mirip air got yang berhari-hari tersumbat sampah. Dia sengaja mengencangkan simpul dasi hingga membuat suaminya memekik kencang karena tercekik.


''Kau ingin membunuhku, Fan?"


Wanita itu berlalu begitu saja mengabaikan kekesalan sang suami.


"Dasar bumil, gitu aja ngambek," gumamnya seraya terkekeh pelan.


Angelo mengalihkan pandangan ketika mendengar notifikasi pesan dari ponselnya. Dia segera menyambar benda pipih tersebut, lalu membukanya. Rahangnya mengeras ketika membaca sederet pesan yang dikirimkan.


...----------------...


''Hati-hati di jalan, bilangin ke Pak Ramon, jangan ngebut!"


Fania mengantar suaminya hingga sampai teras depan. Itu sudah menjadi kegiatan rutin setiap pagi ketika Angelo hendak berangkat ke kantor. Namun sayang, pria itu tampak tak begitu memerhatikan pesan sang istri. Netranya sibuk memindai kesana kemari seolah mencari sesuatu.


''Tuan El, denger gak sih, aku ngomong?"

__ADS_1


Lengkingan emas Fania berhasil mengalihkan perhatian pria itu.


''Eh, iya, Sayang ... Ada apa?" Angelo segera memperlihatkan senyum manisnya agar sang istri tidak curiga.


''Kamu nyari apa, sih? Sampai aku ngomong gak diperhatiin."


"Gak kok gak liat apa-apa. Kamu bilang apa tadi, hati-hati, ya? Iya ... Aku pasti hati-hati kok.''


Hanya gumaman pelan yang terdengar dari bibir Fania.


''Jangan ngambek, dong ... Kasian mereka," ucap pria itu seraya mengusap lembut perut buncit istrinya.


Setelah itu, Angelo kembali mengedarkan pandangan ke arah sekeliling. Mata elangnya seolah awas tengah mencari sesuatu, tatapannya menajam pada satu titik. Pria itu menatap lamat-lamat titik tersebut untuk memastikan jika dia tidak salah sasaran.


Fania yang merasa curiga segera mengikuti arah pandang sang suami. Wanita itu mendengus kesal ketika mengetahui titik pandangan suaminya. Tanpa basa-basi, dia segera menarik kesal telinga pria itu.


''Bagus, ya, bagus! Bini lagi bunting mata jelalatan cari yang langsing."


''Aduh, Fan, sakit ... Awwsshhh...." Angelo meringis kesakitan ketika telinganya terasa panas.


''Biarin! Salah sendiri punya mata jelalatan," sahut Fania dengan gemas.


Kejadian pagi itu menjadi hiburan tersendiri bagi para penjaga dan pelayan yang sedang bertugas. Mereka kompak menahan tawa ketika melihat tuannya tak berkutik di hadapannya istrinya.


"Ada apa, sih, Fan? Ini telinga bukan karet main tarik-tarik aja." Angelo menggerutu kesal sembari mengusap bekas tarikan istrinya.


''Masih untung gak kubuat putus."


''Kenapa sih?"


''Kami pikir aku gak tau, kamu lirak-lirik sana sini nyari siapa. Noh, itu ’kan yang kamu cari."


Angelo mengikuti arah telunjuk istrinya. Matanya membulat sempurna ketika melihat si pelayan bohay tengah menjemur baju diarah yang ama.

__ADS_1


''Kenapa bisa gak sadar sih?"


__ADS_2