
''Aku gak mau tau! Kalian harus bisa menangkap pengkhianat itu. Jika tidak! Kalian yang kuhabisi." Angelo berteriak marah di dalam mobil yang dikendarainya.
Dia baru saja mendapat laporan dari tangan kanannya. Jika orang suruhannya berhasil membuka mulut membongkar identitasnya.
Beberapa waktu lalu, dia mengutus salah satu pembunuh bayaran untuk menembak musuhnya. Misinya memang berhasil. Namun sayang, pembunuh bayaran itu berhasil tertangkap anak buah musuh. Dan kini, menjadi tawanan musuhnya. Tentu saja, itu menjadi ancaman tersendiri baginya.
Posisinya saat ini sangat tidak aman. Bisa jadi musuh melakukan serangan balik di waktu yang tidak terduga.
Angelo mematikan sepihak sambungan teleponnya. Dia menginjak dalam pedal gas untuk melampiaskan kemarahannya yang membuat kuda besi itu melaju dengan kecepatan tinggi menembus gelapnya malam.
Suara decitan rem terdengar nyaring di kesunyian malam itu. Ketika Angelo tanpa sengaja melihat seorang wanita tergeletak di sebuah tempat pemberhentian bus. Rasa iba tiba-tiba menelusup dalam hatinya. Dia segera keluar menghampiri wanita itu.
''Dia masih hidup," gumamnya ketika memeriksa denyut nadi.
''Hei, bangun." Pria itu menggoncang pelan tubuh mungil itu.
Angelo segera menyibak rambut panjang yang menutupi wajahnya. Betapa terkejutnya ia, saat mengetahui jika itu adalah wanita yang pernah menghabiskan malam dengannya.
''Hei, bangun," ucapnya dengan menepuk pelan pipi wanita itu.
Wajahnya terlihat sangat pucat. Dilihatnya, sebuah ransel besar tergeletak tak jauh darinya. Tanpa pikir panjang, Ello segera menggendong tubuh ringkih itu ke dalam mobil, lalu menuju rumah sakit terdekat.
Ada perasaan senang dan khawatir secara bersamaan. Senang karena telah bertemu kembali dengan wanita yang mengganggu pikirannya selama satu bulan ini, khawatir karena melihat keadaannya.
''Mungkin inilah takdir. Aku tidak akan melepasmu lagi, Nona Manis," gumamnya seraya melirik jok belakang melalui spion depan.
...----------------...
Lebih dari satu jam Ello menunggu. Namun, wanita itu belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Dengan setia, dia terjaga di sisi tubuh lemah itu. Waktu sudah menunjukkan dini hari, tetapi matanya sulit untuk terpejam.
Karena dilanda rasa khawatir tak berkesudahan, Ello memutuskan untuk memanggil dokter kembali.
__ADS_1
''Bagaimana ini, Dok? Kenapa dia belum bangun juga?"
''Maaf, Tuan. Seharusnya, dia sudah sadar, mungkin karena pengaruh obat jadi dia masih tertidur," tutur dokter pria itu.
''Ada yang ingin saya sampaikan mengenai pemeriksaan tadi, Tuan," ungkap dokter itu penuh kehati-hatian.
''Katakanlah! Cepat!" titah Angelo dengan tidak sabar.
Tadi, sewaktu Fania masih dalam penanganan dokter. Angelo terpaksa harus meninggalkannya karena menerima telepon dari keluarganya di rumah, ketika dia kembali dokter sudah tidak ada di tempat. Jadi, pria itu masih belum mengetahui apapun tentang keadaan wanita yang ditolongnya.
''Sebenarnya...."
Ucapan dokter harus terpotong saat mendengar gumaman pelan dari mulut pasien. Perhatian Ello pun menjadi teralih pada wanita itu.
''Apa ada yang sakit? Katakan padaku!" ucapnya dengan kekhawatiran yang nyata.
Fania yang masih belum sadar sepenuhnya hanya bisa mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.
''Kamu siapa?" Fania menatap lekat lelaki yang ada di hadapannya. Dia seperti pernah melihat wajah itu. Namun, dia lupa ketika dipaksa mengingat kepalanya semakin pusing.
''Aku yang menolongmu. Aku menemukanmu tidak sadarkan diri di pinggir jalan."
''Terima kasih."
''Akhirnya kita bertemu lagi. Jujur aku ingin mencarimu tapi aku tidak mengetahui apapun tentangmu, bahkan nama sekalipun."
Fania terbelalak seketika teringat jika pria itu adalah pria yang sama pada peristiwa nahas itu. Dia berusaha bangun dari posisinya, kemudian melepas paksa selang infus yang melekat pada tangannya.
''Hei, apa yang kau lakukan? Tubuhmu masih lemah tidurlah lagi." Ello berusaha mencegah tindakan Fania.
''Tuan ini benar, Nona. Anda masih lemah, istirahatlah kembali. Akan sangat bahaya bagi —"
__ADS_1
Fania segera menggeleng keras agar dokter tidak melanjutkan ucapannya. Dokter yang memahami isyarat itu langsung membungkam mulutnya rapat-rapat.
''Bahaya bagi apa, Dok?" Angelo yang merasa penasaran pun segera menimpali.
''Ba-bagi kesehatannya, Tuan."
Fania menghembuskan nafas lega mendengar jawaban dokter.
''Yang dikatakan dokter benar, Nona. Istirahatlah kembali, aku akan menunggumu. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Percayalah!"
Gadis itupun menurut, dia merebahkan kembali tubuhnya. Lagipula, kepalanya masih terasa sangat pusing hanya saja tubuhnya sudah tidak merasa lemas.
''Kalau begitu saya permisi, Tuan, Nona. Silahkan istirahat kembali." Si dokter pamit undur diri.
Selepas kepergian dokter hanya keheningan yang terjadi di antara mereka. Fania memilih berbaring membelakangi pria itu enggan berucap, meski sekedar beramah tamah. Dipertemukan lagi dengan pria itu merupakan sebuah kesialan baginya. Hidupnya porak-poranda juga berawal dari pertemuannya dengan pria ini.
''Apa kau tidur?" Suara Angelo memecah keheningan ruangan itu.
Tak ada respon dari gadis itu, meski sekedar kata 'iya' ataupun deheman.
''Aku minta maaf untuk malam itu. Sebenarnya, bukan kamu, aku salah sasaran."
''Aku bersedia tanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu."
''Tanggung jawab, gundulmu! Jika bukan karena benihmu yang nyangkut ini pasti hidupku masih damai, aman dan tentram. Aku tidak akan menerima kesulitan ini. Dan yang paling utama, aku gak ketemu sama kamu lagi." Fania menggerutu dalam hati.
''Gak sudi aku nerima pertanggung-jawabanmu. Kamu sudah ‘ku masukkan ke dalam daftar hitam hidupku."
Fania menulikan telinga mendengar semua ocehan pria itu. Angelo terus mengajaknya berbicara, bahkan menanyakan namanya. Namun, semua itu hanya sia-sia karena Fania masih setia dengan kebungkamannya.
"Ternyata, kamu sudah tidur. Pantas dari tadi diam saja. Tidurlah, istirahat supaya tubuhmu lekas pulih." Angelo tersenyum tipis menatap wajah lelap di depannya.
__ADS_1
Dia menaikkan selimut hingga sebatas leher, kemudian merebahkan tubuh pada sofa yang ada di ruangan itu.