My Blacklist Man

My Blacklist Man
Tidak Mungkin Miliknya!


__ADS_3

"Apa kau yakin ini tempatnya?" tanya Angelo.


Matanya memicing tajam mengawasi sebuah gubuk kecil yang terletak di sebuah tempat yang jauh dari keramaian. Dia sedikit meragu sebab tempat itu lumayan sepi tidak ada seseorang pun yang menjaga.


''Kalau gak percaya, periksa saja!"


Angelo mendengus kesal mendengar jawaban Rayyan yang terdengar sangat menyebalka. Sungguh, ingin rasanya dia menyumpal mulut itu. Sebenarnya dia tidak sudi bekerjasama dengan pria ini, tetapi keadaanlah yang memaksa. Hanya Rayyan yang mengetahui segala sesuatu tentang penculik istrinya.


''Kalau memang iya, kenapa masih di sini?"


Rayyan merotasi bola matanya. Baru kali ini dia bekerjasama dengan pria pelit super perhitungan seperti Angelo. Pria itu menolak saran darinya untuk menjadikan harta sebagai umpan. Penolakan itu berhasil membuat kepala Rayyan berdenyut karena harus memutar otak 360 derajat untuk memikirkan cara lain. Pada akhirnya cara gerilya seperti inilah yang dia pilih.


''Kalau kau mau menuruti saranku, kita sudah masuk sejak tadi," sahut Rayyan ketus, "kau pikir aku mau malam-malam berada di semak-semak seperti ini? Kita harus memastikan keadaan sekitar sebelum masuk ke sana. Kau mau tertangkap sekalian? Kalau mau ambil resiko, masuk sendiri sana!"


Angelo harus merelakan telinganya terasa panas akibat mendengar celotehan panjang lebar pria itu. Dia mengawasi tempat itu bukan hanya dengan Rayyan seorang, melainkan bersama dua anak buahnya serta dua anak buah Rayyan.


''Tapi sampai kapan? Aku sangat mengkhawatirkan keadaan istriku dan kandungannya." Angelo terlihat sangat gusar.


Karena merasa jengah mendengar rengekan Angelo yang mirip anak kecil, Rayyan pun mengutus salah satu anak buahnya untuk memeriksa tempat itu lebih dekat.


''Hati-Hati! Jangan sampai ketahuan!" Pesan Rayyan sebelum anak buahnya menjauh.


''Baik, Bos."


Pria muda berseragam serba hitam itupun mendekati tempat yang dimaksud. Dia mulai mengawasi area sekeliling untuk memastikan jika di tempat itu tidak ada penjagaan sama sekali. Setelah dirasa benar-benar aman, dia segera memberi isyarat kepada si bos untuk masuk lebih dalam.


Baik Rayyan maupun Angelo beserta antek-anteknya pun bergegas mengikuti pria itu. Mereka berjalan mengendap-endap layaknya para maling yang tengah beraksi. Mereka juga sudah siap dengan senjata masing-masing untuk berjaga-jaga jika mendapat serangan dadakan.

__ADS_1


''Dobrak!" titah Rayyan pada pria yang ada di depannya.


Pria itu mengangguk. Tanpa menunggu perintah dua kali dia segera menendang pintu yang ada di depannya. Angelo yang sudah tidak sabar segera menyerobot masuk untuk melihat keadaan istrinya.


Namun, nihil. Tidak ada siapapun di dalam sana. Dia berteriak seperti orang kesetanan memanggil nama sang istri, bahkan menggeledah keseluruhan barang usang yang ada di sana, tetapi sosok Fania tak kunjung terlihat.


''Kau menipuku! Katamu istriku ada di sini. Mana buktinya? Hah! Mana?" Angelo mendekati Rayyan, lalu mencengkeram kuat kerah bajunya.


Api amarah telah membara dari pancaran matanya.


''Aku tidak menipumu! Memang ini tempatnya," teriak Rayyan membela diri seraya melepas kasar cengkeraman itu. Dia juga tidak terima disalahkan begitu saja


''Lihat! Apa kau menemukan keberadaan istriku? Buka matamu lebar-lebar!" teriak Angelo dengan menyeret paksa tubuh Rayyan untuk masuk lebih dalam.


Rayyan sempat terkejut saat mengetahui tidak siapapun di ruangan itu. Akan tetapi, ekor matanya tertuju pada satu titik di mana seutas tambang tercecer berantakan di atas kursi.


Angelo mengikuti arah telunjuk Rayyan. Dia juga bisa melihat tali-tali yang ditunjuk Rayyan. Pria itu segera mendekati tempat itu, matanya membelalak sempurna saat mendapati bercak darah yang berceceran paca kursi hingga ke lantai. Tangannya tergerak menyentuh cairan kental berwarna merah itu, lalu mengendusnya.


''Darah segar," gumamnya.


Seketika berbagai pikiran buruk merasuk begitu saja dalam pikirannya.


''Tidak mungkin! Tidak mungkin ini darah Fania."


Rayyan yang merasa penasaran pun berinisiatif mendekat. Dirinya juga ikut terkejut saat melihat tetesan darah yang berceceran, bahkan ikut mengotori tambang berwarna putih itu.


''Apa yang sudah dia lakukan? Apa dia benar-benar menghabisi wanita itu?" tanyanya dalam hati.

__ADS_1


''Aku mohon cari istriku. Aku tidak percaya jika darah ini miliknya. Tolong, bantu aku...." Angelo melupakan harga diri yang berusaha dia junjung tinggi di depan Rayyan. Rasa cintanya terhadap Fania benar-benar membuatnya lemah.


''Tolong, bantu temukan istriku. Tolong, pastikan! Kalau cairan ini bukan miliknya...." Lolos sudah air mata pria itu. Mulutnya terus menghiba meminta bantuan. Dia tidak bisa berpikir jernih, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Fania, Fania dan Fania.


Rayyan terenyuh melihatnya, timbul perasaan iba dalam hati. Rasa cinta Angelo begitu dalam untuk istrinya hingga pria sombong itu rela melakukan hal seperti ini.


''Tenanglah! Aku akan membantumu," ucap Rayyan bermaksud menenangkan.


''Permisi, Bos. Saya menemukan ini di depan pintu." Salah seorang anak buah Rayyan menyodorkan sebuah kalung emas putih yang memiliki liontin mahkota ratu berhiaskan berlian putih di tengahnya.


Angelo yang melihat benda itu segera merebut, lalu menatapnya lamat-lamat.Tubuhnya menegang saat meyakini jika benda itu milik istrinya.


''Ini milik Fania, aku sendiri yang memilihkan beserta sepaket perhiasan lainnya."


''Apa kau yakin?" tanya Rayyan memastikan.


''Sangat yakin!" jawab Angelo dengan nada bergetar, "kenapa kalian berdua masih diam? Cepat cari istriku," lanjutnya memerintah anak buahnya.


''Baik, Tuan.''


Kedua pria berbadan gempal itu segera melaksanakan tugasnya sebelum sangat tuan murka. Angelo akan berubah menjadi singa ganas jika menyangkut Fania.


Di tengah kekalutan yang melanda, mereka dikejutkan oleh deringankeras ponsel milik Rayyan. Tertera nama Maura yang menghiasi layar. Rupanya wanita itu menghubungi sepupunya untuk memberitahukan perihal beberapa orang polisi yang mendatangi tempatnya. Rayyan memijat kening yang tiba-tiba berdenyut. Semua tidak sesuai ekspektasi. Dia kira rencananya akan berjalan lancar, tetapi justru sebaliknya.


''Aku yang meminta mereka untuk datang. Suruh mereka menunggu sebentar! Aku akan segera kembali.''


Panggilan pun dimatikan sepihak. Pria itu segera memanggil Angelo untuk ikut bersamanya. Angelo yang tidak merasa curiga sama sekali memilih untuk ikut sekalian mencari jejak Fania yang lain.

__ADS_1


__ADS_2