My Blacklist Man

My Blacklist Man
Fania yang Malang


__ADS_3

"Fania, keluar kamu!"


''Pergi dari sini, Wanita Murahan!"


"Wanita sepertimu cuma jadi sampah masyarakat!"


''Keluar kamu!''


''Pergi dari sini!"


Begitulah teriakan segerombolan orang yang memenuhi halaman rumah Fania. Suara mereka saling bersahutan hingga menimbulkan suara keributan yang menganggu pemilik rumah.


''Ada apa, sih, Bu?" Fania yang mendengar keributan itu segera keluar dari kamarnya.


''Ibu gak tau, Fan," ucap Asih.


Kedua adik kembarnya tampak mengekor di belakang sang ibu.


''Biar aku cek, Bu." Ferry berinisiatif mengintip di balik tirai putih tipis yang terpasang di kaca ruang tamu.


''Ada apa, Fer?" tanya Fania yang merasa penasaran.


''Banyak orang di depan rumah. Mereka manggil-manggil Kak Fania."


Fania mengerutkan keningnya. Dia belum menyadari jika para warga sudah mendengar kabar mengenai kehamilannya.


''Fania, keluar kamu! Wanita kotor sepertimu tidak pantas ada disini."


''Keluar kamu, J*l**g!"


''Pergi kamu dari sini!"


Fania menegang di tempat. Dia tidak menyangka jika berita mengenai kehamilannya tersebar dengan cepat. Banyak pertanyaan yang berkelebat dalam benaknya tentang siapa yang menyebarkannya, dari mana mereka mengetahui, mungkinkah ayahnya. Fania segera menggeleng keras menyangkal semua dugaan itu.


''Bagaimana ini, Bu? Mereka sudah tau. Aku harus bagaimana?" Kepanikan tergambar jelas di wajahnya.


Asih dengan sigap segera menenangkan putrinya sulung dengan terus meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.


''Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Kenapa para warga marah sama kakak? Kak Fania habis melakukan apa?" Ferry yang belum memahami situasi pun mencecar ibunya dengan berbagai pertanyaan. Namun, Asih masih setia dengan kebungkamannya.


Baginya, ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya.

__ADS_1


''Fen, aku yakin kamu pasti mengetahui sesuatu. Apa yang terjadi sama Kak Fania?" Tak patah arang, Ferry berganti mencecar kembarannya.


Fena bingung harus menjawab apa, hingga suara sang ayah tiba-tiba memecah ketegangan mereka.


''Kakakmu hamil dan dia tidak tau siapa yang menghamilinya.''


''Apa?! Benar begitu, Kak?''


Isak tangis kakaknya sudah menjadi jawaban yang sangat jelas bagi pemuda itu. Dia menggeleng pelan, tidak percaya jika kakaknya perempuan seperti itu.


''Kakakmu korban, Ferry. Dia bukan wanita seperti itu. Dia diperkosa." Sang ibu membela dengan air mata berderai, tangannya masih mendekap erat tubuh putri sulungnya.


''Diperkosa kok pulang-pulang pakai jas pria. Apa ada korban pemerkosaan seperti itu." Efendi menyangkal pembelaan istrinya.


Belum reda ketegangan yang terjadi di dalam rumah. Para warga yang geram karena tidak ada tanggapan dari dalam pun mendobrak pintu itu. Beberapa orang berusaha menyeret paksa tubuh mungil Fania. Asih berusaha keras menahan putrinya. Namun, tenaganya kalah kuat dari mereka, terjadi tarik ulur antara Asih dan beberapa orang pria itu, ditambah Efendi yang melepas paksa genggaman tangannya.


''Fania!"


''Ibu, tolong, Bu!"


''Lepaskan aku! Ibu, tolong...."


''Ini dia wanita kotor itu. Usir dia! Jangan biarkan dia mengotori lingkungan ini." Salah seorang pria paruh baya berteriak lantang, sehingga memprovokasi warga yang lain.


''Tolong jangan usir putriku. Dia korban, dia bukan wanita seperti itu," ucap Asih dengan air mata berderai, bahkan mengatupkan kedua tangan memohon pada mereka semua.


''Heh, Bu Asih. Kami tidak mau wanita kotor ini berganti menggoda suami kami, ya. Jalan terbaik hanya mengusirnya dari sini," sahut Bu Yuni dengan suara lantang.


Beberapa wanita yang ada di sana turut menyetujui.


Fania bisa melihat dengan jelas kesedihan ibunya, bahkan adik perempuannya pun ikut menitikkan air mata dipelukan kakak kembarnya.


Belum reda kesedihannya, sang ayah tiba-tiba melempar semua pakaian miliknya, bahkan ada beberapa yang mengenai wajahnya.


''Pergi kau, Anak Pembawa Sial! Kau sudah melempar kotoran ke wajah orang tuamu," hardik Efendi dengan melempar kasar sebuah ransel besar ke hadapan putrinya.


''Jangan pernah kembali sebelum kau menemukan ayah dari bayi haram itu!"


''Masuk! Kalian masuk. Jangan ada yang berani keluar sebelum dia pergi," teriak Fendi mendorong kasar anak dan istrinya memasuki rumah.


Asih berusaha memberontak, tetapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga suaminya.

__ADS_1


Suara bantingan pintu mengejutkan semua orang yang ada di sana. Hati Fania benar-benar hancur, tidak ada empati maupun simpati yang didapat justru tatapan penuh hina. Tatapan mereka seolah mengatakan jika dirinya hanya seonggok kotoran yang sangat menjijikkan.


Dengan tangan bergetar disertai isakan pelan, Fania memungut satu per satu pakaiannya, lalu memasukkan ke dalam tas tanpa melipatnya. Perlahan dia bangkit melewati kerumunan itu dengan kepala tertunduk. Sebelum benar-benar pergi, dia sempat menatap satu per satu wajah-wajah yang telah menghinanya. Dalam hatinya bersumpah suatu saat nanti, dia akan kembali untuk membalas hinaan mereka hari ini.


Baru beberapa meter melangkah, Fania mematung di tempat saat netranya tanpa sengaja melihat seorang pria yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Tatapan penuh kekecewaan tergambar jelas dari sorot matanya. Tanpa berpikir dua kali, Fania segera menghampiri pria itu. Karena dia yakin jika kekasihnya telah mengetahui semuanya.


''Kak Riko, aku bisa jelaskan," ucapnya berusaha meraih tangan kekasihnya. Namun, Riko segera menjauhkan tangannya.


Pria itu memalingkan wajah enggan melihat wajah wanita yang selama tiga tahun terakhir memenuhi ruang hatinya.


''Kak Riko....''


''Stop! Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi disentuh wanita kotor sepertimu," ucap Riko datar.


Fania mendekap tangannya sendiri. Hatinya sangat hancur mendengar hinaan dari mulut pria yang teramat dicintanya.


''Kak, ini tidak seperti yang kakak lihat. Aku tidak mengkhianati kakak," ungkap Fania dengan mata berkaca-kaca.


''Jika kamu tidak mengkhianatiku, bagaimana bisa ada janin tumbuh di rahimmu? Apa kau memasukkan paksa janin itu, hah!'' Riko membentak gadis itu. Dia tidak bisa lagi menahan emosinya.


Lidah Fania terasa kelu untuk menjelaskan. Dia hanya bisa terisak dengan meremas kuat baju depannya, rasa perih tak tertahankan ia rasakan di dalam sana.


''Apa kau tau alasanku merantau ke kota, Fan? Semua itu tidak lain karenamu. Aku ingin segera melamarmu, menjadikanmu milikku seutuhnya. Aku berusaha keras memeras keringat siang malam, tak peduli panas atau hujan demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk mewujudkan mimpiku. Tapi apa yang aku dapat? Kau membalas semua kerja kerasku selama dua tahun dengan kehadiran janin itu. Tega kamu, Fan!"


''Kau lihat ini." Riko menunjukkan kotak beludru berwarna merah di depan wajah kekasihnya. "Aku sengaja tidak memberitahu kepulanganku karena ingin memberi kejutan ini. Tapi kau justru memberiku kejutan yang tak terduga."


''Wow, hebat kamu, Fan." Riko bertepuk tangan diiringi kekehan lirihnya.


Dia masih belum mempercayai kenyataan ini. Kekasihnya begitu tega mengkhianatinya.


''Aku korban, Kak. Aku diperkosa. Tolong, percayalah! Aku tidak mengkhianatimu." Fania berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Akan tetapi semua sia-sia karena kekasihnya hanya mengacuhkannya. Hatinya sudah tertutupi dengan rasa kecewa, menganggap semua alasan Fania hanya sebuah pembelaan atas kesalahannya.


''Mulai saat ini tidak ada hubungan apapun di antara kita. Aku kecewa."


Riko berlalu begitu saja setelah memutuskan hubungan mereka, meninggalkan Fania seorang diri dengan bersimbah air mata.


''Bahkan dia juga tidak percaya. Kenapa ini tidak adil untukku? Aku korban semestinya aku mendapat keadilan bukan penghakiman," batinnya merana.


Teriakan salah satu warga yang memintanya pergi berhasil menyadarkan lamunannya. Dengan berat hati, Fania meninggalkan tanah kelahirannya. Dia sempat melihat siluet ibunya di balik tirai tipis. Fania tersenyum tipis ke arahnya, kemudian melanjutkan langkah yang entah akan berakhir di mana. Dia hanya mengikuti langkah kakinya.

__ADS_1


__ADS_2