My Blacklist Man

My Blacklist Man
Dia Mirip Ibu


__ADS_3

Setelah dari ruangan anak angkatnya, Gustav berniat menemui wanita itu. Dengan langkah pelan, dia memasuki ruangan kamar. Dilihatnya, nampan yang berisi makanan tampak berceceran di lantai, seorang gadis tampak berdiri menghadap kaca besar dengan tangan menyangga tiang infus.


Dia sengaja berdehem keras untuk menarik perhatian gadis itu.


''Anda siapa?" tanya Fania dengan kening berkerut melihat kehadiran pria paruh baya.


Gustav melangkah mengayunkan tongkat yang menopang tubuh tuanya mendekati gadis itu.


''Boleh aku masuk?"


''Ten-tu, Tuan. Silahkan."


Meski merasa bingung. Namun Fania tetap mempersilahkan dengan penuh kesopanan.


''Bagaimana keadaanmu?" Gustav memulai pembicaraan setelah terjadi keheningan beberapa saat.


''Sudah mendingan, Tuan."


''Aku dengar kau sedang hamil, kenapa kau membuang makanannya. Bukankah ibu hamil mudah lapar?" Dia mengajukan pertanyaan pancingan.


Gadis itu tak berniat menjawab, matanya tampak berkaca-kaca menatap lurus kearah depan.


''Apa yang kau rasakan kini? Apa kau tidak bahagia berada di sini?" tanya Gustav lagi.


Hanya gelengan lemah yang didapat yang membuat Gustav menghembuskan nafas pelan.


''Kenapa?"


Dengan sabar, pria baya itu menantikan suara gadis yang berada di sampingnya.


''Saya ingin keluar dari sini," jawab Fania lirih dengan suara menahan tangis. Dia berusaha agar air mata yang menggenang di pelupuk matanya tidak terjatuh.


''Saya—" Fania tampak ragu untuk mengungkapkan semua beban yang membelenggu hatinya.


''Katakan, apa yang ingin kamu katakan! Aku akan mendengarkan. Beban memang harus diungkap agar tidak menjadi penyakit. Katakanlah! Aku tidak akan marah, sekalipun kau berkata buruk tentangnya."

__ADS_1


''Setiap kali saya melihat wajahnya, emosi dalam diri saya selalu memuncak. Semua ingatan mengenai semua kepahitan yang saya alami melintas bagaikan kaset rusak. Saya tidak ingin ada di sini. Saya ingin hidup tenang seperti dulu sebelum saya mengenalnya."


''Lantas, apa saja yang kau alami sampai begitu dalam kau membencinya?"


Fania mulai menceritakan garis besar masalahnya dari awal hingga akhir, tidak ada satupun peristiwa yang tidak terungkap. Berharap dengan menceritakan itu semua pria baya ini akan melapor pada tuannya. Melihat gelagatnya mengintrogasi dirinya, Fania yakin jika orang itu adalah orang suruhan pria itu.


''Sakit rasanya, Tuan. Ketika dipisahkan dari keluarga yang jelas-jelas masih ada, lebih sakit daripada harus terpisah karena takdir.'' Fania mengakhiri ceritanya dengan tangis pilu.


''Jika bukan karena dia dan janin ini, hidup saya tidak akan seperti ini," sambungnya lagi.


Perlahan, Gustav mulai memahami permasalahan yang menimpa gadis itu. Dia hanya butuh dukungan, serentetan peristiwa yang terjadi membuat mentalnya cukup tertekan.


''Bagaimana jika dia bertanggung jawab atas kehamilanmu?"


''Saya tidak sudi menerima. Dia pria yang masuk dalam catatan hitam hidup saya," jawabnya menahan geram.


''Jika dia bisa mengembalikan keluarga dan nama baikmu, apa kau mau menerimanya?''


Seketika, Fania mengalihkan arah pandang, lalu menatap lekat pria tua itu. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab.


Fania menatap lekat punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu. Hatinya menjadi gamang setelah mendengar penuturannya.


...----------------...


''Kenapa kau tidak pergi?" Fania menatap lekat wanita paruh baya yang baru saja mengantar makan siangnya.


''Tuan meminta saya untuk tetap di sini sampai Anda menghabiskan makanan ini, Nona," jawabnya penuh sopan.


Fania menghembuskan nafas berat, mau tak mau dia memakan makanan itu. Meski sebenarnya dia merasa lapar lapar, tetapi tubuhnya tidak terlalu lemah karena mendapat bantuan tenaga dari cairan infus.


Ketika baru saja menyuapkan makanan, seperti biasa rasa mual itu kembali hadir. Si pelayan yang melihat gelagat calon majikannya yang hendak memuntahkan makanannya, dengan sigap menyiapkan wadah. Sehingga wanita muda di depannya tak perlu repot-repot untuk berlari ke kamar mandi.


''Anda baik-baik saja, Nona?"


Fania hanya mengangguk sambil berusaha mengeluarkan semua isi perutnya. Pelayan tersebut menyodorkan sebuah tisu yang langsung diterima oleh Fania.

__ADS_1


''Terima kasih, Bu," tuturnya dengan tulus.


''Panggil saya bibi, bagaimanapun juga Anda calon majikan saya, Nona."


Fania menatap wanita paruh baya itu dengan mata berkaca-kaca. Dengan telaten, dia membersihkan semua kekacauan akibat ulahnya, bahkan tanpa mengeluh sedikitpun. Kesabaran dan kelembutannya sangat mirip dengan ibunya, tiba-tiba rasa rindu yang teramat pada sang ibu menelusup dalam relung hatinya.


Ingatannya masih merekam jelas tentang kesedihan Asih ketika melihat dirinya diperlakukan secara tidak adil, hanya dia yang selalu membela saat semua orang melontarkan cacian dan hinaan padanya.


''Ibu, Fania rindu ... Semoga ibu baik-baik saja,"' ratapnya dalam hati.


''Anda kenapa, Nona? Kenapa Anda menangis? Apa ada yang sakit? Saya panggilkan tuan ya?"


Gadis itu langsung menahan lengan pelayan tersebut. ''Eh, ti-tidak, Bu. Saat melihat ibu tiba-tiba saya teringat dengan ibu saya," ungkap Fania seraya menyusut air matanya.


Wanita paruh baya itu menatap penuh haru gadis muda di depannya.


''Apa nona ingin sesuatu?"


''Tidak, Bu. Terima kasih. Tolong, sampaikan pada pria itu, jangan memaksaku untuk makan lagi, percuma semua makanannya terbuang sia-sia."


''Baik, Nona saya akan segera menyampaikannya, permisi," pamitnya.


''Bu," panggil Fania lagi sebelum si pelayan menghilang di balik pintu.


''Ya, Nona. Apa Anda membutuhkan sesuatu?"


''Apa saya boleh menganggap ibu sebagai ibu saya?" tanya Fania meragu.


Wanita paruh baya itu membalas dengan senyum lembutnya.


''Boleh, Nona. Silahkan."


''Tapi ibu jangan memanggilku nona. Cukup panggil Fania."


''Baiklah."

__ADS_1


__ADS_2