
''Wah, selamat, Tuan, Nyonya. Kalian akan mendapat dua," seru dokter wanita yang masih sibuk menggerakkan sebuah alat di area perut Fania.
Baik Angelo dan Fania saling memandang satu sama lain karena belum memahami perkataan dokter tersebut.
''Maksudnya dua, Dok? Apa dengan plasenta-nya?" tanya Angelo.
Dokter benama Widya tampak mengulum senyum, bukan hal baru baginya mendapati pertanyaan nyeleneh bin aneh dari calon orang tua baru. Dia akan sabar menjelaskan.
''Apa Anda bisa melihat dua kantong yang ada di layar itu, Tuan?"
Sontak Angelo mengalihkan pandangan pada layar besar di depannya.
''Iya, Dok?"
''Kedua kantong itu cikal bakal bayi Anda, Tuan."
''Jadi, saya mengandung anak kembar, Dok?" Fania menimpali dengan rasa terkejutnya.
Dokter Widya pun mengangguk diiringi senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
''Astaga...." Fania menutup mulutnya tidak percaya.
Dia tidak menyangka ada dua kehidupan yang ada di dalam rahimnya. Dua makhluk tak berdosa yang berusaha dia lenyapkan kemarin. Seketika rasa bersalah menghantam keras ulu hatinya.
''Apa Anda belum memeriksakan kandungan Anda sebelumnya, Nyonya?''
Fania menggeleng lemah.
''Sayang sekali," sahut wanita berkaca mata itu lirih.
Dulu, Fania hanya memeriksakan diri di sebuah klinik kecil fasilitasnya pun kurang memadai, perhitungan bidan juga masih manual. Justru waktu itu bidan menyarankan untuk periksa ke rumah sakit besar. Namun, sebelum melakukan itu, berita kehamilannya sudah tersebar hingga berakhir pengusiran.
Ketika periksa di rumah sakit waktu itu, dia juga belum sempat diperiksa menggunakan alat Ultrasonografi karena terlebih dulu mengutarakan keinginannya untuk aborsi yang berujung penolakan. Dan ini adalah kali pertama periksa menggunakan alat justru mendapat kejutan tak terduga seperti ini.
"Jadi, saya akan memiliki anak kembar, Dok?" tanya Angelo memastikan. Binar kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya, hingga matanya tampak berkaca-kaca.
''Benar, Tuan."
Dokter Widya menyelesaikan pemeriksaan, lalu segera membersihkan gel yang ada di perut pasiennya.
''Usia kandungannya memasuki 15 minggu, janinnya cukup sehat. Usahakan kelola emosi dengan baik ya, Nyonya. Jangan sampai setres!'' ucap Dokter Widya, tangannya tampak menuliskan sesuatu pada secarik kertas, lalu menyerahkan pada Fania.
''Ini resep vitaminnya, harap diminum secara rutin. Bulan depan Anda bisa kembali lagi."
''Baik, Dok. Terima kasih."
''Kami permisi," pamit Fania.
...----------------...
Fania dan Angelo tengah mengantri di depan kasir untuk menebus vitamin kehamilan. Sejak keluar dari ruang pemeriksaan, Angelo tak pernah melepas genggaman tangannya, meski hanya sejenak. Sesekali tangan kekarnya mengelus perut yang tampak sedikit menyembul itu. Rasa cintanya terhadap wanita ini kian bertambah berkali-kali lipat. Dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah melepaskan Fania sampai akhir hayatnya.
__ADS_1
''Hentikan tanganmu itu! Lanjutkan nanti di rumah," bisik Fania, ''Apa kamu gak sadar? banyak orang memerhatikan."
''Biarkan saja! Itu hak mereka, aku tidak peduli. Aku melakukan ini pada pasanganku sendiri, bukan pasangan orang lain," sahut pria itu acuh tak acuh.
''Tapi aku malu, Tuan El." Fania menimpali masih dengan nada yang sama.
Tanpa banyak bicara, Angelo segera merengkuh pundak calon istrinya, lalu merapatkan tubuh wanita itu pada dada bidangnya.
''Sembunyikan wajahmu disini kalau kau malu."
Bukannya menurut, Fania justru mendaratkan pukulan keras pada tubuh berotot itu.
''Modus!"
Dia melepas paksa rengkuhan tangan itu, kemudian bergeser menjaga jarak. Matanya melirik sinis kearah pria itu, sedangkan beberapa orang yang menyaksikan tingkah pasangan itu hanya bisa menahan senyum, bahkan ada ibu-ibu yang gatal untuk tidak berkomentar.
''Pengantin baru, ya, Mbak? Mesra begitu," ujarnya menggoda.
Fania hanya menggaruk tengkuknya sembari menunjukkan deretan gigi putihnya. Seandainya ada lubang semut di dekatnya, dia akan memilih bersembunyi di sana.
''Iya, Bu. Maklum, baru dua bulan masih anget-angetnya." Angelo berseloroh.
Sontak, sebuah tepukan keras lagi-lagi mendarat pada lengannya kekarnya, bahkan lebih keras dari sebelumnya hingga membuat pria itu mendesis kesakitan.
''Lihatlah, Bu! Dia KDRT," adu pria itu.
''Salah sendiri usil. Nyebelin!"
''Akur-akur ya, kalian. Ibu doakan kebahagiaan selalu menyertai kalian," ungkapnya tulus.
''Amin, Bu ... Terima kasih," balas Fania di iringi senyum lembutnya.
Akan tetapi, semua itu tak berlangsung lama. Raut wajah Angelo tiba-tiba berubah menahan kesal ketika mendapat sebuah telepon dari partner in crime-nya. Dia melirik sekilas wanita di sampingnya, Fania tampak sibuk membolak-balikan buku pemeriksaan yang baru didapat tadi.
''Ada telepon penting, aku pergi dulu. Jika aku belum kembali tetaptunggu disini!" titahnya dengan nada tegas.
Meskipun merasa aneh dengan perubahan sikap calon suaminya, Fania memilih mengiyakan tanpa banyak memprotes. Mungkin sedang ada masalah dengan pekerjaan, pikirnya.
Tepat beberapa menit, setelah kepergian calon suaminya. Seorang gadis muda duduk tak jauh dari tempat duduknya. Fania yang masih menyibukkan diri dengan buku di tangannya tak menyadari kehadiran gadis tersebut, hingga sebuah suara mengalihkan perhatian wanita itu.
''Ibu Asih Juniarti, 55 tahun." Suara lantang seorang petugas kasir terdengar jelas di telinga wanita itu.
Tubuh Fania menegang ketika melihat sosok yang dikenalnya tengah berbicara dengan petugas kasir.
''Fena."
Fena yang mendengar namanya dipanggil pun segera mengalihkan perhatian. Matanya berkaca-kaca ketika melihat sosok yang selama ini berusaha ia hubungi berada di hadapannya.
"Kak Fania," teriakya.
Gadis itu segera menghambur memeluk kakaknya, semua beban yang dirasa ia tumpahkan dalam tangisnya di pelukan sang kakak.
__ADS_1
''Kakak kemana saja? Berkali-kali aku coba hubungin kakak tapi selalu gak bisa," adunya.
Fania segera melerai pelukan adiknya, lalu menghapus air mata yang membanjiri pipi mulusnya.
''Ada apa dengan ibu? Ibu sakit apa?"
Fena terdiam bingung harus menjawab apa. Dia tidak ingin menambah beban pikiran kakaknya, terlebih dalam kondisi hamil seperti ini.
''Jawab, Fena! Jangan diam saja!" Fania mengguncang keras tubuh adiknya karena tak kunjung mendapat jawaban.
''Ibu—''
''Ibu kenapa?" Fania terus mendesak adiknya.
"Ibu—''
Ucapan Fena terpaksa berhenti ketika terdengar deringan keras dari ponselnya. Dilihatnya, nama Ferry tertera di layar tersebut.
''Ada apa?"
Terdengar suara panik saudara kembarnya di seberang sana yang membuat gadis itu ikutan panik.
''Iya, aku segera kesana, aku udah selesai."
Fania memutus sepihak sambungan telepon tersebut.
''Maaf, Kak. Lain kali, aku jelaskan Bye!" ujarnya seraya berlari kencang ke satu arah.
''Fena, Fen, jawab dulu pertanyaan kakak!"
''Fena!"
Langkah Fania yang hendak mengejar pun terpaksa urung ketika mendengar namanya dipanggil. Dia beralih menghampiri kasir untuk menebus obat miliknya.
''Emm, boleh saya bertanya sesuatu, Sus?"
''Silahkan, Nyonya."
''Kalau boleh tau, obat apa yang ditebus gadis tadi, Sus?"
''Atas nama Ibu Asih Juniarti?"
''Iya."
''Obat anti-depresan, Nyonya."
''Apa?!"
Tubuh Fania melemas seketika, tangannya berpegangan apapun yang ada dalam jangkauannya.
''Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Suster tersebut dengan nada khawatir.
__ADS_1
''Tidak, saya tidak apa-apa."