My Blacklist Man

My Blacklist Man
Niat Kuat Fania


__ADS_3

''Suster, di mana pria itu?" tanya Fania dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Dia memerhatikan sekeliling yang tampak sepi, hanya ada dirinya dan suster melakukan pengecekan rutin.


''Dia sudah pergi pagi-pagi sekali, Nona. Dia berpesan jika siang nanti akan kembali lagi," jawab wanita berseragam merah muda itu dengan ramah.


Fania mengangguk pelan menanggapi, ini kesempatannya untuk lari dari pria itu.


''Emmm, kapan saya bisa pulang, Sus? Saya rasa badan saya sudah baikan tidak lemas lagi juga tidak pusing."


''Tunggu nanti keputusan dokter ya, Nona. Saya tidak bisa memutuskan. Tolong sarapannya dimakan agar debay-nya punya tenaga."


''Mari, saya permisi," pamit wanita itu setelah melakukan tugasnya.


Fania hanya mendengus kesal karena diingatkan lagi dengan kehamilannya.


''Biarin aja lo kelaperan terus mati, biar hidup gue balik kayak dulu." Gadis itu berbicara sendiri dengan perut ratanya. Dia tak berniat sama sekali untuk mengisi perutnya.


Namun, beberapa saat kemudian, suara di perutnya terdengar nyaring menandakan jika para cacing yang ada di dalam sana meminta jatah. Wajar kalau dia merasa lapar, kemarin sehari penuh perutnya tidak terisi apapun, ditambah muntah ekstra yang dia alami.


''Heh, cacing-cacing lo bisa kerja sama gak, sih? Gue itu mau mogok makan biar ini makhluk sialan koit, malah lo minta jatah. Gak asik lo," gerutunya dengan kesal.


Netranya melirik bubur rumah sakit yang ada di atas meja yang membuat perutnya semakin melilit.


''Iya-iya, gue makan! Maruk banget sih, liat makanan kek gitu doang udah heboh. Padahal hambar juga."


Fania terpaksa meraih mangkuk itu. Namun baru satu suapan saja tiba-tiba dia ingin muntah saat itu juga. Karena tidak ingin muntah di atas tempat tidur, gadis itu melepas paksa selang infusnya, lalu berlari ke kamar mandi, bahkan mengabaikan darah yang menetes di pergelangan tangannya.


Fania memuntahkan semua makanannya hingga air berwarna kekuningan yang keluar. Dia menyandarkan tubuh lemahnya pada dinding. Sungguh, kehamilan ini sangat menyiksanya.


''Sampai kapan lo nyusahin gue, Janin Sialan. Gak semestinya lo hadir di perut gue. Keluar lo, keluar!" Dia berteriak memukuli perutnya berharap dengan begitu bisa segera keguguran.


Belum puas melampiaskan kekesalannya, tiba-tiba rasa ingin muntah kembali lagi. Dia kembali memuntahkan isi perutnya, hingga tubuhnya lemah kehabisan tenaga.


...----------------...


Angelo melangkah memasuki ruang perawatan dengan senyum terkembang. Tangan kirinya menenteng kantong plastik berisikan bubur ayam, dia khawatir jika wanita yang disebut nona manis itu tidak menyukai makanan rumah sakit, makanya dia berinisiatif membelikan makanan di luar.


Dia mengerutkan kening ketika melihat ruangan itu sepi. Wanita yang ditolongnya juga tidak ada di ranjang pesakitan, selang infus tergeletak begitu saja dengan air yang terus mengalir. Pikirannya berkecamuk, dia takut jika wanita itu melarikan diri. Namun suara orang muntah di dalam kamar mandi berhasil meredam kekhawatirannya. Dia bergegas menghampiri asal suara, betapa terkejutnya ia ketika mendapati wanita itu tengah mengeluarkan seluruh isi perutnya.


"Astaga, kamu kenapa?" Tanpa diminta Angelo segera memijat tengkuk wanita itu.

__ADS_1


''Pergi, pergi! Ini menjijikkan," usir Fania disela muntahannya.


Akan tetapi, Ello mengabaikan perintah gadis itu. Dia justru setia menemani hingga Fania selesai dengan urusannya. Dengan telaten pula dia membantu membersihkan mulut wanita itu, lalu menggendongnya menuju tempat tidur.


''Maaf, tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku tadi pulang sebentar untuk berganti baju sekalian membelikanmu sarapan," ucapnya penuh sesal.


Dia berlalu sebentar memanggil suster yang berjaga untuk membenahi infus yang terlepas.


Fania yang merasa lemas memilih memejamkan mata.


''Sebenarnya kau ini kenapa? Kenapa sampai muntah seperti itu?" tanya Angelo ketika memasuki ruangan.


''Asam lambungku tinggi."


''Kalau begitu segera isi perutmu, aku membelikan bubur." Pria itu meraih bungkusan yang dibawanya tadi, lalu menyodorkan sesendok penuh ke depan mulut wanita itu.


Fania menggeleng keras menutup rapat mulutnya menggunakan telapak tangan. Dia masih trauma dengan kegiatannya barusan.


''Ayo, buka mulutnya, sesendok saja biar perutmu terisi," ujarnya memaksa.


''Gak, mulutku pahit," jawab Fania dibalik bekapan tangannya.


''Sesuap saja,'' pinta Ello.


Perdebatan mereka terhenti ketika seorang suster memasuki ruangan. Dengan sigap, suster membersihkan bekas darah yang ada di tangan Fania, lalu memasangkan kembali selang infusnya.


''Satu jam lagi ada kontrol dokter, nanti bisa tanyakan langsung jika nona mau pulang," ucap suster sebelum pergi.


''Baik, Sus."


''Kau ingin pulang?" tanya Angelo selepas kepergian suster.


''Ya."


''Keadaanmu belum pulih, Nona. Kau butuh perawatan sampai dua atau tiga hari lagi."


''Apa urusanmu denganku? Aku tidak mengenalmu, kau juga tidak mengenalku. Kita hanya bertemu sekali di malam sialan itu."


''Aku tidak punya cukup uang untuk membayar tagihan rumah sakit," sambungnya lirih.


''Aku sudah mengurus semuanya, kau jangan khawatir."

__ADS_1


''Apa?! Bagaimana bisa?" Fania menggeleng pelan mendengar hal itu.


''Iya, aku membiayai pengobatanmu atas nama 'Nona Manis' karena aku tidak tahu namamu."


Gadis itu melipat bibirnya dalam-dalam untuk menahan senyum.


''Dasar pria bodoh! Padahal di dalam ransel ada kartu identitasku. Kenapa tidak memeriksanya? Tapi tunggu, jangan-jangan dia lupa membawanya?" batinnya bertanya-tanya.


''Emm, di mana barang-barangku?" tanya Fania.


Angelo membuka pintu lemari kecil yang terletak di sisi tempat tidur. Dia langsung menunjukkan benda yang dicari gadis itu.


''Aku heran, kenapa kamu segitu perhatiannya sama aku? Padahal kita gak saling kenal ketemu pun cuma sekali."


''Karena aku jatuh hati sama kamu."


Gadis itu meneguk ludah kasar. Dia memilih memalingkan wajah untuk mengalihkan salah tingkahnya.


''Aku serius, Nona. Sejak malam itu, aku selalu teringat denganmu sempat terbesit untuk mencarimu tapi aku tidak mempunyai petunjuk apapun tentangmu. Pagi itu kau tiba-tiba menghilang tanpa jejak saat aku masih mencarikan baju ganti untukmu."


''Aku ingin bertanggung jawab atas hidupmu, bisa jadi di dalam rahimmu saat ini tumbuh benihku," sambungnya dengan tatapan teduh.


Fania terkejut ketika merasakan sentuhan lembut pada tangannya. Dia menatap lekat tangan itu. Karena merasa tidak nyaman, gadis itu segera menarik tangannya secara perlahan.


''Maaf, pasti kamu merasa tidak nyaman atas tindakanku." ucap Angelo.


''Kamu tidak perlu bertanggung jawab, anggap saja malam itu sebuah kecelakaan bagi kita berdua. Aku juga tidak akan melaporkanmu pada polisi. Tidak terjadi apa-apa pada diriku. Satu yang harus kamu, semua anggapanmu tidaklah nyata," jawab Fania datar dengan tatapan lurus ke depan.


''Karena aku akan melenyapkan mimpi buruk ini," sambungnya dalam hati.


''Aku baik-baik saja. Tolong, tinggalkan aku. Aku ingin istirahat."


Wanita itu segera merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa dicegah. Kepahitan yang berusaha dia lupakan harus terlintas lagi dalam ingatannya. Setiap mengingat semua itu hatinya semakin hancur.


''Tapi, Nona—''


''Tolong, turuti keinginanku. Aku butuh istirahat agar tubuh cepat pulih," sela Fania cepat.


Angelo menghembuskan nafas kuat. Sepertinya wanita itu ingin sendiri. Dengan berat hati, dia melangkah keluar ruangan, sebelum menutup pintu dia menatap lekat ke arah ranjang pasien.


''Aku kembali nanti, selamat istirahat."

__ADS_1


Tangis Fania pecah setelah mendengar suara pintu ditutup. Dia meringkuk tergugu sejadi-jadinya meratapi nasibnya.


__ADS_2