My Blacklist Man

My Blacklist Man
Keputusan Angelo


__ADS_3

Pagi-pagi setelah sarapan, Angelo meminta seluruh penghuni rumah untuk berkumpul di ruang utama, tak terkecuali para pelayan dan bodyguard. Matanya awas meneliti satu per satu wajah yang berjajar di hadapannya untuk memastikan jika semua sudah berada di tempat.


"Aku sengaja meminta kalian berkumpul di sini karena ada hal penting yang ingin ‘ku sampaikan."


"Ada apa, El? Kenapa wajahmu tegang begitu?" tanya Gustav.


"Mulai hari ini siapapun yang keluar rumah harus ada pendamping yang menjaga. SIAPAPUN! Tidak ada bantahan. Kalian semua wajib menuruti perintahku." Pria itu berucap tegas penuh penekanan.


"Untuk Ferry dan Fena, akan ada tiga bodyguard yang akan menjaga kalian selama di sekolah. Jangan tanya kenapa atau ada apa! Kalian turuti saja, paham!"


Kedua remaja kembar itu hanya mampu mengangguk. Lidah mereka terasa kelu untuk sekedar menolak. Keduanya kompak menelan ludah kelat saat melihat tatapan tajam calon kakak iparnya.


Bukan hanya si kembar, melainkan semua orang yang ada di sana tidak ada yang berani membuka suara, hingga Angelo kembali membuka suara dengan nada yang lebih tegas dari sebelumnya.


''Dan untuk Fania, pernikahan akan dipercepat dua hari lagi."


"Apa?! Tapi ‘kan—''


''Tidak ada bantahan, Fania! Ini demi kebaikan bersama."


Semua yang ada di sana terjengkit mendengar bentakan Ello. Fania yang berniat mengajukan protes terpaksa harus terhenti ketika sebuah tangan menggenggam erat tangannya. Dilihatnya, Ina menggeleng pelan dengan menatap lekat ke arahnya.


Fania menghembuskan nafas kasar, mau tak mau dia harus menahan unek-uneknya hingga pertemuan ini selesai. Dia berencana menemui calon suaminya secara pribadi untuk meminta penjelasan


''Aku harap kalian memahami ucapanku," pungkasnya seraya berlalu meninggalkan mereka yang masih kebingungan.


Selepas kepergian pria itu, Fania menyimpan banyak praduga dalam hatinya, apa mungkin perbuatannya waktu itu berimbas pada semua orang.


"Bu Ina, apa Tuan El masih marah sama aku?" Fania bertanya pada wanita baya yang berada di sampingnya.


"Aku juga gak tau, Fania. Sepertinya ada masalah serius."

__ADS_1


"Gus." Ina berbisik pada Gustav memberi isyarat mata untuk menyusul tuannya.


Gustav yang memahami isyarat tersebut pun mengangguk pelan bergegas menyusul kepergian Angelo.


"Berasa anak konglomerat pakai bodyguard segala," celetuk Fena tiba-tiba.


"Gue gak masalah, sekali-kali pamer ke temen-temen, kali aja habis ini banyak cewek nempel ke gue." Ferry menimpali sambil menyunggar rambutnya bergaya sok narsis.


Fena memutar bola matanya malas. Dia memilih melenggang menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah meninggalkan saudara kembarnya.


''Kalian kenapa masih di situ, bukannya disuruh jagain kita," ucap Fena pada jajaran pria berseragam hitam yang masih mematung di tempatnya.


''Lo mau sekolah apa mau narsis? Gue tinggal nih...." Fena berganti mengomeli kakak kembarnya.


''Iya-Iya, Mak Lampir."


...----------------...


Pria itu menghela nafas kasar menatap lurus ke depan. ''Ada orang yang mengusik ketenanganku."


''Siapa?"


Angelo menggeleng pelan.


''Apa mungkin si Rayyan mulai bergerak?" Gustav menerka-nerka.


''Aku tidak tahu. Tapi menurutku bukan, aku masih menyelidikinya."


''Beberapa waktu lalu, ada orang misterius yang mengikutiku sampai ke kantor. Meskipun dia tidak melakukan apapun tapi aku merasa khawatir. Bisa jadi dia akan menyerang ketika aku lengah,'' lanjutnya


''Seandainya dulu kau mau mendengarkanku, El. Hidupmu pasti masih baik-baik saja sampai saat ini, bahkan mungkin kau sudah bahagia dengan keluarga kecilmu."

__ADS_1


''Diamlah! Aku tidak berminat mendengarkan ceramahmu." Angelo menimpali dengan kesal.


Kepalanya yang semula pening memikirkan masalah ini, semakin bertambah pusing mendengar perkataan panjang lebar dari ayah angkatnya. Dan itu juga berdampak pada emosinya.


Gustav hanya menghela nafas kasar, tiada gunanya menasehati putra angkatnya ketika pikirannya tengah kacau.


''Tuan El, kita harus bicara." Fania nyelonong masuk begitu saja ke ruangan luas itu.


Gustav memilih undur diri untuk memberi waktu pada keduanya.


''Ada apa, Fania?" tanya Ello dengan mata terpejam.


''Apa maksudmu mempercepat pernikahan? Bukankah kamu sendiri yang bilang, pernikahan kita akan terlaksana ketika kondisi ibuku membaik? Ibuku belum membaik, Tuan El." Gadis itu melayangkan protes kerasnya dengan menggebu-gebu, bahkan nafasnya ikut naik turun akibat luapan emosi.


''Turuti saja! Aku tidak menerima bantahan." Angelo menimpali dengan suara beratnya.


''Kau tidak bisa memutuskan hal ini sepihak begitu saja, Tuan El. Aku juga berhak! Hubungan ini milik dua orang, bukan kau saja.''


"Diamlah, Fania! Jangan sampai aku mengeluarkan perkataan kasarku seperti kemarin. Aku pusing, turuti saja tanpa banyak protes! Aku tetap akan melanjutkan pengobatan ibumu meskipun kita sudah menikah. Lagipula, apa kau tidak malu dengan perutmu? Lihatlah! itu sudah mulai terlihat. Aku juga memikirkan nasib mereka."


Fania terbungkam seketika. Arah matanya beralih pada perut yang terlihat sedikit membuncit pada dress yang dia kenakan. Semua yang dikatakan pria itu ada benarnya juga.


''Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu dariku, ‘kan, Tuan El?" tanya Fania dengan mata memicing.


Pasalnya, dia merasa aneh dengan perubahan Angelo. Semalam pria itu terlihat baik-baik saja, bahkan terlihat sangat manis setelah mengungkapkan tentang masa lalunya.


''Benar? Aku orang yang peka terhadap sekitar. Jangan sampai aku melewati batasanku lagi, Tuan El." Fania berusaha memancing emosi pria itu. Namun, Ello tetap setia dengan kebisuannya.


''Jika aku sudah bertindak, jangan pernah coba-coba untuk mencegahku! Aku tidak pernah takut dengan amarahmu." Setelah menyelesaikan ucapannya, Fania berlalu keluar dengan membanting pintu. Dia kesal karena Angelo masih tidak mau terbuka kepadanya


Angelo mengepalkan tangannya kuat hingga urat-urat nadinya tercetak dengan jelas.

__ADS_1


''Kau tidak akan pernah mengerti, Fania. Mereka sangat berbahaya. Aku mengambil keputusan ini juga demi keselamatanmu dan bayi kita."


__ADS_2