
Fania menegang di tempat, suara itu bagaikan sambatan petir yang berhasil mengejutkanya. Perlahan namun pasti dia memberanikan diri selangkah lebih maju untuk mengintip si empu suara dari celah pintu kaca. Matanya terbelalak ketika melihat wanita yang sama persis seperti yang ada di dalam foto.
''Wanita itu tamu pentingnya?" bisiknya dalam hati.
''Apa maksudmu? Kita sedang membahas pekerjaan, kenapa merembet kemana-mana?" Angelo berseru tidak terima.
''Itu syaratnya jika kau ingin suntikan dana dariku. Ingat! Waktumu tidak banyak. Turuti atau kehilangan!"
"Tak kusangka rupanya kau wanita licik, Nona Manis. Tampangmu saja terlihat lugu, nyatanya ada sosok siluman dalam dirimu."
''Aku seperti ini juga karenamu. Kau yang menabuh genderang perang. Kau pikir aku tidak tau? Kau dalang di balik kejadian itu hingga merenggut harta berharga milikku."
Angelo terkesiap mendengarnya. Dia tidak menyangka jika aksi balas dendamnya telah terbongkar.
''Aku hanya ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupmu? Aku tahu wanita itu sangat sangat berharga untukmu. Jadi, tinggalkan dia maka aku akan menandatangani berkas ini," imbuh wanita itu lagi.
Angelo tertawa sumbang.
''Kau salah besar, Nona Manis. Dia sama sekali tidak berharga bagiku yang berharga dalam hidupku hanya hartaku."
Fania seperti mendapat tikaman belati tepat di hatinya ketika mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sang suami, hingga tanpa sengaja menjatuhkan tentengan yang ada dalam genggamannya. Setetes air mata meluncur bebas ke pipi, dia meremas kuat perut buncitnya sebagai pelampiasan kekesalan. Karena tidak kuat lagi mendengar perdebatan di dalam sana, Fania memilih pergi dari tempat itu dengan membawa luka yang menganga dalam hati.
"Kau jahat, Tuan! Mati-matian kau membangun kepercayaanku, kau sendiri yang merobohkannya," jerit Fania saat berada di dalam lift seorang diri.
''Seharusnya dari dulu aku melenyapkan mereka. Aku tidak perlu terikat denganmu dan tidak akan merasakan sakit seperti ini, Bedebah Sialan!" Dia menatap marah kearah perut buncitnya.
"Keputusanku sudah tepat. Aku memang harus pergi!"
Pintu lift terbuka, Fania segera menghapus kasar air matanya. Berusaha bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Dia juga masih menanggapi dengan senyuman setiap berpapasan dengan orang menyapa dirinya.
__ADS_1
Ketika sampai di depan lobby, Fania melangkah begitu saja ke arah gerbang keluar tanpa memberi kabar pada sopir dan dua bodyguard-nya. Dia sengaja melakukan hal itu untuk melancarkan niatnya.
...----------------...
Ramon mengerutkan kening ketika melihat tas bawaan Fania tergeletak mengenaskan di lantai. Tangannya tergerak memungut tas itu, lalu menoleh kesana-kemari untuk mencari keberadaan wanita hamil itu. Akan tetapi, nihil, dia tidak melihat siapapun, bahkan sekretaris Angelo pun belum kembali ke tempatnya.
''Nona kemana?"
Tanpa basa-basi, dia bergegas membawa masuk bawaan Fania, lalu meletakkan begitu saja di hadapan tuannya. Tamu atasannya baru berpamitan beberapa saat yang lalu setelah perdebatan yang menguras emosi.
''Apa kau tidak punya etika? Main nyelonong begitu saja," sindir Angelo yang masih berusaha mengatur gemuruh dalam hati akibat amarahnya.
''Maaf, Tuan," ucap Ramon, "saya hanya ingin menyerahkan bawaan Nona Fania."
Angelo mengerutkan kening mendengar nama istrinya. ''Lalu, kemana dia? Kenapa tidak masuk?''
''Kenapa tidak kau antar kemari?" tanya pria itu lagi.
''Saya sudah mengantarnya, Tuan."
Ramon menceritakan pertemuannya dengan Fania, kemudian memperkenalkan wanita itu di hadapan seluruh karyawan, hingga memberitahukan detail tempat keberadaan atasannya.
''Nona kemari sewaktu masih ada Bu Maura, Tuan. Dia berkata akan menunggu di ruang tunggu."
''Apa?!"
Angelo terlihat sangat gusar mendengarnya, berbagai pikiran buruk berkecamuk. Dia takut jika Fania mendengar perdebatannya tadi. Dan sikap itu ditangkap oleh mata jeli si asisten.
''Ada apa, Tuan?"
__ADS_1
Bukannya menjawab, Ello justru memintanya Ramon untuk menghubungi anak buahnya yang ditugaskan untuk menjaga Fania. Meskipun dilanda kebingungan, tetapi Ramon segera menuruti perintah sang atasan.
''Hallo, Tuan." Suara berat seorang pria begitu panggilannya tersambung.
Belum sempat Ramon menjawab, tuannya sudah merebut ponselnya.
''Di mana istriku?"
''Nona belum keluar, Tuan."
''Apa maksudmu belum keluar?" tanya pria itu dengan berteriak.
''Loh, bukannya nona tadi masuk ke kantor bersama Tuan Ramon?"
''Bod*h! Apa saja yang kalian kerjakan? Menjaga satu wanita saja tidak becus!" Angelo tak bisa lagi menahan kemarahannya.
''Cepat cari istriku! Dia tidak ada di sini," perintahnya dengan nada berteriak.
''Ba-baik, Tuan."
"Apa yang terjadi, Tuan? Kenapa Anda terlihat gusar seperti itu?"
"Tidak usah banyak bertanya! Kau juga ikut cari istriku. Aku ingin dia kembali dalam keadaan hidup," sentak Angelo.
Amarah yang belum sempat mereda kembali membara saat mengetahui sang istri tidak berada dalam pengawasannya.
Ramon yang melihat atasannya seperti orang yang kesetanan memilih segera berlalu. Dia tidak ingin menjadi pelampiasan kemarahan pria itu.
''Apa kau mendengarnya, Fania? Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu...."
__ADS_1