
''Ada tamu tak diundang, Tuan," ujar Ramon sembari memerhatikan spion yang ada di depannya, sesekali juga beralih pada kaca mobil yang ada sisi kanannya.
Angelo yang memahami maksud sang asisten sontak mengalihkan pandangan ke arah belakang. Benar saja, sebuah mobil melaju tak jauh di belakangnya.
''Berhenti sebentar, Ram. Aku hanya ingin memastikan jika dia benar-benar mengikuti kita,'' titah Angelo.
Ramon pun mengangguk. Dia segera menyalakan lampu set sebelah kiri, lalu memarkirkan kereta besinya di bahu jalan. Benar dugaannya, mobil hitam itu juga berhenti beberapa meter darinya.
Angelo memicing tajam memerhatikan plat mobil tersebut. Dia tidak pernah melihat plat nomor tersebut. Dugaannya langsung tertuju pada satu nama. Namun, dia segera menghempaskan pikiran itu.
''Apa mungkin dia? Tapi aku tidak yakin. Tidak mungkin dia bertindak ceroboh seperti ini. Aku sangat mengenal sosoknya. Dia penuh taktik licik," batin Angelo, begitu banyak pertanyaan yang bersemayam dalam benaknya.
''Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" Pertanyaan Ramon berhasil mengalihkan perhatian pria itu.
''Selama dia tidak bertindak, jangan lakukan apapun. Jalan sekarang! Jangan sampai dia tahu kalau kita mencurigainya."
''Baik, Tuan."
Ramon pun melanjutkan kembali perjalanannya, sesekali matanya awas meneliti arah belakang melalui kaca spion depan untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu orang tersebut mulai menyerang.
Namun, hingga mereka tiba di kantor tidak pergerakan apapun dari orang yang mengikutinya. Dia justru memarkikan mobilnya sedikit menjauh dari gerbang masuk kantor.
''Apa maunya? Apa dia hanya mengintai?"
Mobil berhenti tepat di depan lobby. Angelo keluar setelah sang asisten membukakan pintu. Langkahnya yang hendak memasuki kantor terpaksa berhenti ketika beberapa dewan direksi menyambut kedatangannya. Mereka tampak sedikit berbincang untuk sekedar ramah tamah.
Tentu saja, momen tersebut tidak disia-siakan oleh seseorang yang sejak tadi melakukan aksi pengintaiannya. Dia segera menyiapkan senjata laras panjangnya, membuka sedikit kaca pintu mobil, lalu segera mengarahkan bidikannya tepat pada titik vital target, yakni bagian kepala Angelo.
__ADS_1
Baik Angelo maupun Ramon yang tengah sibuk berbincang tidak menyadari dengan bahaya yang mengintai.
Pria itu berusaha mengarahkan bidikannya. Namun sayang, setiap kali hendak menarik pelatuk, dia selalu gagal karena target bidikannya selalu terhalang dengan tubuh orang lain. Berulang kali, dia berusaha fokus, tetapi selalu terjadi hal yang sama hingga membuatnya berdecak kesal.
Akhirnya, kesempatan yang dinanti pun tiba. Beberapa orang yang tengah berbicara dengan Angelo satu per satu mulai menjauh. Dengan seringai sinis, dia kembali bersiap menarik pelatuknya. Akan tetapi, belum sempat melakukan hal tersebut, tubuh targetnya sudah menghilang memasuki gedung megah yang menjulang di hadapannya.
''Sial!'' umpatnya menahan kesal, "Baiklah! Anggap saja kali ini kau masih beruntung, lain kali tidak akan kubiarkan kau lolos, Keparat Sialan," sambungnya dengan rahang mengeras.
Dia meletakkan kasar senjata yang sejak tadi berada dalam kuasanya, lalu menyalakan mobilnya kembali meninggalkan area tersebut.
...----------------...
''Apa orang itu masih di sana, Ram?"
''Sudah tidak, Tuan," jawab Ramon singkat.
Angelo menghembuskan nafas pelan. Dia meletakkan berkas yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
''Tidak! Selidiki plat nomornya. Aku ingin informasinya sesegera mungkin.''
''Baik, Tuan."
Sebelum keluar ruangan, Ramon tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun, dia ragu untuk mengutarakannya. Dan sikapnya itu berhasil disadari oleh Angelo.
''Ada apa? Apa yang ingin kau katakan, Ram?"
''Saya ... Saya khawatir orang itu—''
__ADS_1
''Bukan dia." Angelo yang memahami kelanjutan ucapan asistennya pun segera menyela.
''Dia tidak akan bertindak bodoh. Dia orang yang penuh taktik dan tak terduga. Mulai saat ini kita harus waspada karena sepertinya musuh mulai bergerak. Dan musuh kita tidak hanya satu."
''Aku juga akan memperketat penjagaanku terhadap orang-orang rumah, terutama Fania. Aku khawatir mereka sudah mengetahui tentangnya." Pria itu berucap dengan tatapan sendu ke depan, raut kekhawatiran tergambar jelas dari sorot matanya.
Ramon merasakan perubahan yang sangat kentara pada diri atasannya. Sejak mengenal gadis bernama Fania, pria itu menjadi lebih tenang dan lebih bisa menjaga emosinya. Tidak seperti sebelumnya yang setiap saat bisa mengamuk kapan saja, bahkan terhadap kesalahan sepele sekalipun. Rupanya, gadis itu berhasil membawa perubahan besar dalam diri tuannya.
...----------------...
Sesampainya di rumah, Fania segera masuk dengan sangat terburu-buru. Raut ketegangan tergambar jelas di wajahnya, hingga menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak kedua adiknya. Mereka sangat ingin bertanya, tetapi berusaha menahan melihat situasi yang tidak memungkinkan.
Perubahan Fania pun turut dirasakan Ina ketika tanpa sengaja berpapasan di pintu masuk. Dia merasa aneh, tidak biasanya Fania melewatinya begitu saja. Biasanya wanita itu selalu menyapa, meski sekedar senyuman.
''Kakak kalian kenapa?" Ina menghadang langkah si kembar yang hendak masuk.
''Gak tau, Bu. Tiba-tiba begitu saat keluar dari kantor polisi," jawab Fena dengan tampang polosnya. Namun, sesaat kemudian gadis itu membungkam mulutnya rapat-rapat setelah menyadari telah keceplosan bicara.
''Kantor polisi?" Ina memastikan dengan keterkejutan yang sangat kentara di wajahnya.
Ferry segera menyeret adik kembarnya, sebelum mendapat cecaran banyak pertanyaan.
''Mulutmu ember banget sih, Fen? Kita pasti dapat masalah setelah ini," ujarnya dengan gusar.
''Ya, maaf ... Namanya juga keceplosan," sahut Fena merasa bersalah.
Ina masih mematung di tempatnya. Dia mencoba mengingat-ingat mengenai alasan kepergian Fania pagi tadi. Seingatnya, Fania meminta ijin untuk ke sekolah si kembar, tetapi kenapa berakhir di kantor polisi.
__ADS_1
''Sepertinya ada yang tidak beres, aku harus melapor pada tuan."