
"Silahkan tangkap pria ini, Pak! Dia dalang pembakaran rumah Bramasta Haydar juga penyebab kematian beliau," seru Rayyan berhasil mengejutkan semua orang yang ada di sana, tak terkecuali Maura dan suaminya. Sepupunya itu tak pernah membicarakan apapun tentang hal ini karena bukan bagian dari rencana yang disusun.
''Apa maksudmu, Ray?" tanya Maura.
''Ini rencanaku, Ra."
''Kamu? Bagaimana mungkin kau memiliki rencana terselubung dalam rencanaku, Rayyan? Kenapa kau berubah sepicik ini?"
Maura mengeluarkan protes keras. Dia tidak terima sepupunya bertindak seperti itu. Akan tetapi, Rayyan justru diam seribu bahasa seolah mengganggap ucapan Maura hanya angin lalu.
"Bawa dia, Pak!"
Salah seorang aparat mengangguk, lalu segera membekuk Angelo.
''Tuan Angelo, aku benar-benar tidak tau menahu mengenai hal ini. Dia tidak mengatakan apapun. Aku ... Aku tidak ada sangkut pautnya. Percayalah!" Maura berusaha keras meyakinkan Angelo.
Dia tidak ingin disangka yang bukan-bukan. Niatnya benar-benar tulus membantu pencarian istri pria itu.
Angelo diam seribu bahasa enggan memberi tanggapan apapun. Dia juga tidak memberontak ketika polisi memborgol kedua tangannya. Hanya saja pandangannya lurus ke depan.
__ADS_1
''Percayalah, Tuan! Niatku tulus membantu. Semua ini di luar kendaliku," ucap Maura bersikeras, hingga Emran harus turun tangan menenangkan sang istri. Dia bahkan mengejar langkah polisi yang membawa Angelo menuju mobil dinasnya.
''Aku lebih mengenal sepupumu. Dia tidak akan serta merta memberi pertolongan pada musuhnya jika tidak ada rencana tersembunyi," kata Angelo sebelum memasuki mobil polisi.
Pria itu juga sempat menghunuskan tatapan tajam pada pria yang berada tak jauh darinya.
''Tapi, Tuan ... Di mana istrimu?"
''Tanyakan pada sepupumu! Dan kau Tuan Rayyan, aku anggap ini syarat darimu atas permohonanku. Tepati ucapanmu!"
''Aku janji akan membawanya dengan selamat. Asal kau mau mengikuti proses hukum dengan baik," sahut Rayyan dengan nada dinginnya.
Tidak ada pilihan lain bagi Angelo selain menurut. Semua ini dia lakukan demi istrinya.
Semenjak beberapa menit yang lalu, Maura berusaha menahan amarah dalam hatinya. Mungkin, jika tidak ada Emran wanita hamil itu sudah meledakkan kemarahan sejak tadi.
''Kau benar-benar picik, Ray! Aku kecewa padamu," geram Maura mengetatkan rahang.
Berulang kali, dia terlihat mengatur nafas untuk menetralisir amarah yang ada.
__ADS_1
''Aku sudah berkali-kali mengatakan, 'lupakan, Ray, lupakan!'. Ayahku sudah tenang, tapi ternyata kau keras kepala."
''Kau masih beruntung bisa merasakan kasih sayang ayahku selama bertahun-tahun, sedangkan aku ... Aku hanya sekejap itupun tidak genap satu tahun, bahkan waktu itu kau tega menghalangi jalanku untuk bertemu dengannya. Seharusnya yang lebih menderita aku, bukan kau. Aku putri kandungnya, sedangkan kau hanya sebatas keponakan, Rayyan!" Maura berteriak mengeluarkan semua yang dia tahan sejak tadi.
Runtuh sudah pertahanannya, air mata mengalir membasahi pipi wanita itu.
''Ssstt, tenangkan dirimu! Ingat kandunganmu," bisik Emran tepat di telinga sang istri, tangannya mendekap erat tubuh mungil itu.
''Kau egois, Ray!"
''Aku memang egois. Kau belum memahami seluk-beluk keluarga Haydar, Ra. Keluarga Haydar tidak akan tinggal diam ketika diusik. Aku tunjukkan padamu, inilah keluargamu yang sesungguhnya!" teriak Rayyan yang tidak bisa lagi menahan emosi, "aku dan kamu berbeda, Ra. Kita dibesarkan di tempat berbeda. Sejak kecil inilah didikan yang aku terima. Seandainya kita tumbuh bersama, mungkin kau juga akan melakukan hal yang sama."
Setelah mengatakan itu, Rayyan berlalu begitu saja. Dia tidak ingin berlarut-larut dalam amarah terlebih terhadap sepupunya yang tengah berbadan dua.
Rayyan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjebloskan Angelo ke dalam penjara. Menghadapi pria licik seperti Angelo memang diperlukan taktik yang penuh tipu muslihat.
Sejak lama, Rayyan mengetahui dalang di balik peristiwa itu. Hanya saja, dia berusaha mencari waktu yang tepat. Ketika Maura memaksanya untuk membantu Angelo, saat itu pula rencana ini terpikirkan di dalam otaknya. Sejak saat itu, dia berusaha menyusun rencana serapi mungkin agar tidak ketahuan Maura. Meskipun sempat ragu karena keadaan lapangan tidak sesuai bayangan. Namun, Rayyan tetap melanjutkan niat awalnya.
Sebelum berangkat ke tempat ini, dia sudah menghubungi pihak kepolisian untuk melakukan penangkapan. Ibarat kata, manusia hanya bisa berencana, sedangkan yang menjadi penentu mutlak tetaplah Tuhan Yang Maha Kuasa.
__ADS_1
Dalam bayangannya, setelah berhasil menyelamatkan Fania. Dia akan langsung menyerahkan Angelo kepada polisi. Namun kenyataan yang ada berkata lain, Fania menghilang entah kemana. Rencana terlanjur disusun, polisi juga sedang dalam perjalanan.
Tanpa memedulikan keadaan Angelo yang tengah kalut. Rayyan tetap melancarkan niatnya. Akan tetapi, dalam hati bertekad dia akan membawa Fania dalam keadaan utuh dan selamat ke hadapan pria itu.