My Blacklist Man

My Blacklist Man
Rencana Terselubung


__ADS_3

Seorang pria terduduk lemas di depan jasad seorang pria yang merupakan adik kesayangannya. Tubuhnya bersimbah darah akibat luka tembak yang terdapat dibeberapa titik vital tubuhnya.


Jason Chloe Charles menatap nanar tubuh yang tergeletak di atas rerumputan itu. Air mata mengalir deras tanpa bisa dicegah, pandangannya menajam ke depan setajam mata elang yang tengah mengintai mangsanya.


''Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membalas kematian adikku," geramnya penuh dendam.


''Sammy, istirahatlah dengan tenang! Biar aku yang akan membalas mereka yang telah membuatmu seperti ini. Nyawa harus dibalas nyawa."


''Aku bisa membantumu membalaskan dendam."


Jason mendongak, seorang pria berdiri angkuh tepat di hadapannya.


''Siapa kau?"


''Rayyan Alvaro Haydar," sahutnya datar.


Pria itu membelalak sempurna, siapa yang tidak mengenal keturunan Haydar. Sejak puluhan tahun silam menyandang predikat raja bisnis baik di dalam maupun luar negeri. Yang terkenal akan kedermawanan dan kekejamanmya. Banyak pengusaha ternama yang tunduk dan hormat pada keluarga itu.


''Tu-tuan Rayyan."


''Apa kau bersedia menerima bantuanku?" tanya Rayyan lagi.


''Ta-tapi, kenapa tuan mau membantu saya?"


''Musuh kita orang yang sama. Bukan hanya adikmu dalang di balik kematian om-ku juga dia, si keparat sialan itu." Rayyan menyalakan cerutu di tangannya, kemudian berjalan mengitari kakak beradik itu.


Jason segera menyeka sisa air mata yang ada di pipi, lalu bangun dari posisinya.

__ADS_1


''Apa yang harus saya lakukan?"


Rayyan menyeringai, pria itu berhasil masuk dalam perangkapnya. Untuk menjebak orang-orang licik harus menggunakan cara yang sama.


''Kau hanya menjadi kaki tanganku, turuti semua perintahku tanpa banyak berkata."


''Baik, Tuan. Saya bersedia," jawab Jason tanpa berpikir panjang.


Hatinya sudah tertutup dendam, yang ada dalam pikirannya hanya membalas kematian adiknya. Dia bahkan tidak menyadari niat terselubung pria yang menjadi malaikat penolongnya.


''Bagus. Tunggu kabar dariku!"


Rayyan beranjak pergi meninggalkan Jason yang mematung sendirian. Pria itu kembali menatap nanar tubuh bersimbah darah yang ada di sisinya. Dia tidak menyangka jika pekerjaan yang dia serahkan beberapa bulan lalu adalah jembatan kematian untuk sang adik.


Kala itu, seseorang menghubungi dirinya menawarkan pekerjaan dengan iming-iming bayaran fantastis. Dia diminta menembak seorang pengusaha terkenal dari jarak jauh, secara bersamaan sang adik—Sammy mendatangi dirinya mengatakan tengah membutuhkan banyak uang untuk membayar hutang-hutangnya pada rentenir. Sammy mengatakan semua permasalahannya jika tidak bisa membayar dalam waktu dekat, semua aset berharga miliknya akan disita. Karena merasa kasihan, akhirnya Jason menyerahkan pekerjaannya pada sang adik.


Pada akhirnya, Sammy bersedia memberitahu identitas orang tersebut dengan syarat kebebasan. Setelah mendapat kesepakatan, Sammy benar-benar membeberkan identitas asli orang yang menyuruhnya dengan sejelas-jelasnya tanpa ada yang ditutupi. Sammy pun dibebaskan, lalu segera menghubungi sang kakak untuk menjemputnya. Dia juga mengirimkan titik lokasi yang berada di tengah hutan.


Sayang seribu sayang, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Baru saja pemuda itu menghirup udara bebas, seseorang telah mengintai dirinya dari kejauhan dengan mengacungkan senapan kearahnya. Sammy yang menyadari hal itupun segera berlari untuk menyelamatkan diri. Rupanya nasib baik tak berpihak padanya, orang yang sejak tadi mengintai dirinya berhasil melesatkan peluru, tembakan bertubi-tubi terdengar hingga mengenai beberapa bagian tubuhnya.


Laju larinya semakin melembat, darah segar membasahi pakaiannya. Sammy pun ambruk di atas rerumputan yang telah berubah warna akibat terkena tetesan darahnya. Malam itu pula, malam terakhir bagi hidupnya.


...----------------...


Disebuah ruangan temaram....


''Kerja bagus! Dan ini bonusmu." Seorang pria menyodorkan amplop tebal berwarna coklat pada pria yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Pria bertopi hitam itu segera meraih amplop yang diberikan. Dia menyunggingkan senyum puas melihat jumlah yang diberikan.


''Thanks, Bos. Lain kali kalau ada pekerjaan seperti ini hubungi aku lagi."


Pria yang disebut bos hanya mengangguk sekilas, lalu memberi isyarat dengan tangan untuk meminta orang suruhannya pergi.


Pria bertopi hitam menunduk hormat, kemudian berlalu meninggalkan si bos seorang diri.


''Permainan dimulai," gumamnya pelan. Namun, nadanya terdengar sangat mengerikan.


Sebuah deringan keras memecah kesunyian malam itu. Dengan malas dia meraih ponsel yang berada di dalam saku jasnya, lalu mengangkat panggilan tersebut setelah melihat identitas si pemanggil.


''Ada apa? Kau mengganggu waktuku," ujarnya diiringi decakan pelan.


Si penelpon di seberang sana tampak berceloteh panjang lebar yang membuat pria itu merasa jengah.


''Iya-iya, aku segera kesana, puas!"


Dia mematikan sepihak panggilan itu, lalu melangkah keluar meninggalkan markas rahasianya.


...----------------...


Alahay, si Rayyan ngikut dimari. Aku sempilin sekilas demi alur. Si kurma mulai menampakkan hilalnya, eh karma maksudnya....


Yuk ah, digoyang jempolnya sekalian saweran jangan lupa....


Babay....

__ADS_1


__ADS_2