My Blacklist Man

My Blacklist Man
Kiriman Misterius


__ADS_3

''Ada apa, Tuan?'' Ramon bertanya secara tiba-tiba dengan pandangan fokus pada jalan di depannya.


"Aku kenapa?"


''Saya yakin Anda tidak melihat ke arah yang dimaksud Nona Fania tadi."


Angelo menghembuskan nafas kasar, kepekaan sang asisten memang patut diacungi jempol. Tanpa dia mengatakan pun, Ramon sudah merasakan.


"Ada yang mulai mengintai."


Ramon terdiam. Dia tentu paham akan kekhawatiran yang dirasakan sang atasan.


''Apa kau sudah menemukan pemilik mobil itu?"


''Sudah, Tuan. Tapi—''


"Tapi apa? Katakan yang jelas!"


''Itu plat nomor palsu, Tuan."


''Sialan! Kau sengaja mengerjaiku." Dengan menahan geram, Ello menendang kursi yang ada di depannya, lebih tepatnya kursi yang ditempati asistennya.


''Maaf, Tuan. Memang itu hasil penelusuran saya." Ramon menjawab dengan nada tenangnya.


''Sudahlah! Fokus nyetir. Kau itu sama saja memberi harapan palsu."


''Baik, Tuan."


...----------------...


"Permisi, paket!" teriak seorang pria ber-helm dari luar gerbang sebuah rumah mewah.


"Pak, Bu ... Paket!"


"Permisi!"


Karena tak kunjung mendapat jawaban dari dalam, pria itupun mengulangi teriakannya hingga seorang security tampak tergopoh-gopoh menghampiri.


"Cari siapa, Mas?"


"Apa benar ini kediaman Nyonya Fania Larissa?" tanya si kurir.


"Iya, benar. Ada keperluan apa, ya?"


''Saya hanya ingin mengantarkan paket, Pak," jawab kurir itu dengan sopan.


Security ber-name tage Suparman mengerutkan kening. Pasalnya dia tidak menerima pesan apapun dari sang majikan jika mempunyai pesanan online.


''Apa nyonya lupa, ya?" gumamnya dalam hati.


"Pak, malah bengong. Ini paketnya ... Masih banyak yang harus saya antarkan," kata pria itu seraya menyodorkan kotak berbungkus hitam.

__ADS_1


"Eh, i-iya, berapa totalnya, Mas?"


"Tidak bayar, Pak, tinggal terima."


"Oh, baiklah terima kasih ya, Mas."


Pria berseragam hitam itu tampak membolak-balikkan paket yang ada di tangannya. Dia heran karena biasanya ada nama pengirim dan jenis barang yang dikirim, tetapi kenapa di sana tidak tertera apapun, selain tulisan nama lengkap penerima dan alamat rumah.


"Aneh sekali paket apa ini? Kok gak ada nama pengirimnya."


Karena tak ingin ambil pusing, pria paruh baya itu segera masuk ke dalam rumah untuk menyerahkan bingkisan kotak berukuran sedang tersebut.


...----------------...


Sejak pagi Angelo tidak bisa memusatkan pikiran dalam pekerjaan. Pikirannya selalu tertuju pada pesan yang dikirimkan padanya tadi. Tangannya tergerak membuka kembali pesan tersebut, semakin dibaca amarahnya semakin naik.


[Aku mengintaimu, terima kejutanku sebentar lagi.]


Dia segera mendial nomor tersebut. Namun sayang, nomor itu sudah tidak aktif lagi. Berulang kali mencoba, tetapi selalu berakhir sama.


"Kurang ajar! Siapa yang berani bermain-main denganku?" Angelo mengeram kesal, hingga hampir melempar ponselnya jika saja tidak ada panggilan masuk.


"Hallo," jawab Ello dengan nada marahnya.


Terdengar suara panik Ina di seberang. Telinganya juga bisa menangkap keributan yang ada, hingga membuat keningnya berkerut dalam saat mendengar jeritan istrinya terdengar sangat nyaring.


''Ada apa, Ina? Kenapa kamu panik begitu?"


Angelo mendadak tidak tenang, berbagai pikiran buruk bersarang dalam benaknya.


''Oke, aku pulang sekarang."


...----------------...


Angelo tergesa-gesa memasuki rumahnya, suara raungan, jeritan dan tangisan menyambut kedatangannya. Dilihatnya, sang istri tengah ketakutan hebat, tubuhnya tampak bergetar dalam pelukan ibu mertuanya, sedangkan pelayan yang lain tampak berusaha membantu menenangkannya.


''Ada apa ini, Bu?"


''Hei, Fania ... Ada apa? Ini aku, suamimu. Ada apa? Kenapa kamu ketakutan seperti itu?"


''Singkirkan itu! Aku gak mau melihat! Buang, aku gak mau melihat!" Bukan hanya tubuhnya, suara Fania pun tampak bergetar.


Wanita hamil itu menelusupkan dalam-dalam wajahnya dalam dekapan sang ibu.


''Fania, lihat dulu siapa yang datang! Ada suamimu. Tenanglah, Nak! Tenang, ya...." Asih sejak tadi tak henti-hentinya berusaha menenangkan putri sulungnya.


''Gak! Aku takut, singkirkan itu! Buang dariku jauh-jauh."


Angelo pun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, tidak ada yang aneh semua tampak sama meja, kursi dan berbagai perabotan lainnya juga berada pada tempatnya. Lantas, apa yang membuat Fania ketakutan seperti itu, pikirnya.


Pria itupun beralih menatap lekat ke arah Ina. Si kepala pelayan pun menghela nafas pelan, kemudian meminta tuannya untuk mengikuti langkahnya. Ketika sampai di tempat yang aman, Ina pun menceritakan mengenai kiriman paket misterius yang ditujukan untuk Fania.

__ADS_1


''Paket?"


''Benar, Tuan."


Tanpa diminta, Ina langsung menunjukkan sebuah kardus yang sudah terbuka. Dan isinya sangat mencengangkan, terdapat bangkai induk kucing beserta kedua anaknya yang masih berlumuran darah segar diantar tumpukan kain-kain bekas. Di dekatnya terselip sebuah kertas yang juga ikut terkena percikan darah tersebut. Karena merasa penasaran, Angelo segera meraih kertas tersebut.


'Nyawa dibalas nyawa. Pembalasanku akan lebih kejam. Nasibmu akan sama seperti ketiga kucing itu.'


''Kurang ajar! Siapa yang melakukan ini?!" Angelo meremas kertas di tangannya hingga tak berbentuk. Rahangnya mengeras dengan mata memerah menandakan jika dia berada dalam puncak kemarahan.


''Panggil security!" titah Ello dengan nada berteriak.


Tanpa diminta dua kali, Ina segera melaksanakan perintahnya. Sehingga tak berselang lama seorang pria paruh baya tampak tergopoh-gopoh menghadap tuannya.


''Sa-saya, Tuan."


''Siapa yang mengirim itu?"


"Kurir, Tuan."


''Apa kamu yakin?"


"Sangat yakin, Tuan. Karena dia membawa dua kantong kain besar berisi banyak paket di jok belakang sepeda motornya," jawab security itu penuh kegugupan, secara tidak langsung dialah yang membuat majikan perempuannya histeris seperti itu.


''Apa kau melihat wajahnya?"


''Ti-tidak, Tuan. Dia menggunakan helm dan masker."


''Sepertinya ini memang sudah direncanakan," batin Ello menduga-duga.


''Ya sudah, kamu bisa kembali ke tempatmu."


''Tu-tuan ... Sa-saya tidak dipecat, ‘kan? Maaf, Tuan, saya tidak tahu jika isi kiriman itu seperti itu. Seandainya, saya tahu saya tidak akan menyerahkan pada nyonya. Saya juga tidak punya keberanian untuk membukanya. Maaf, Tuan ... Tolong jangan pecat saya, saya masih butuh pekerjaan ini." Pria paruh baya itu tampak memohonkan sambil bersimpuh di depan majikan.


''Tidak, Pak. Ini bukan salah bapak. Bapak hanya menjalankan tugas. Lain kali, hati-hati! Saya tidak ingin kejadian ini terulang kembali."


''Baik, Tuan."


Security itupun segera pergi setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali. Dirinya patut bersyukur tidak sampai mendapat amukan hanya sebatas peringatan.


Terdengar deringan keras dari ponsel yang membuat pria itu segera merogoh ponsel yang berada dalam saku celana. Dilihatnya, lagi-lagi nomor asing yang tengah menghubunginya.


"Halo!"


''Bagaimana kejutanku? sangat menarik, bukan?" Suara berat seorang pria menyapa indra pendengarnya.


"Siapa kau? hah! Masalahmu denganku, jangan ganggu keluargaku, Keparat?" Angelo berteriak seperti orang gila dengan ponsel setia menempel di telinga.


"Nyawa dibalas nyawa, pembalasanku lebih kejam!"


Suara tawa menggelegar sempat terdengar sebelum panggilan itu berakhir.

__ADS_1


__ADS_2