
''Fania, tolong buka pintunya. Aku membawakan makanan.'' Ina berseru dari luar kamar diiringi suara ketukan pintu.
Sejak pertengkaran hebat dengan Angelo pagi tadi, Fania mengurung diri dalam kamar hingga malam tiba, sedangkan Angelo sendiri langsung pergi entah kemana dengan memendam amarah dalam dadanya.
''Fan ... Buka dulu pintunya. Kamu harus makan! Ingat kesehatanmu dan dua makhluk kecil dalam perutmu, Fan. Marah boleh tapi jangan mogok seperti ini." Ina masih berusaha membujuk wanita muda itu.
Tidak ada tanggapan yang berarti sejak beberapa menit lalu. Hanya keheningan yang didapat.
''Baiklah, Fan, makanannya aku taruh di depan kamar. Jangan lupa diambil!" pungkas Ina.
Pada akhirnya, wanita baya itu menyerah, lalu meletakkan nampan yang sejak tadi berada dalam kuasanya di atas nakas yang berada di depan kamar Fania.
''Bagaimana, Ina?" tanya Gustav yang sejak tadi menunggu kedatangannya.
Ina menggeleng lemah diiringi hembusan nafas berat.
''Aku tidak tau harus gimana menghadapi mereka, Gustav," ujarnya dengan nada lemah.
Gustav tidak memberi reaksi apapun. Pria baya itu juga tampak berfikir.
''Tidak ada yang bisa kita lakukan. Biarlah mereka menyelesaikan masalahnya sendiri."
''Apa kau tidak ada inisiatif untuk membujuk tuan? Biar bagaimanapun kau yang lebih dengannya." Ina menatap lekat pria seumurannya itu.
Gustav menghembuskan nafas kasar. ''Akan sulit jika Ello masih dikuasai amarah. Salah-Salah justru aku yang menjadi sasaran. Kau tau sendiri ‘kan bagaimana wataknya."
Ina mengangguk pelan yang dikatakan pria itu ada benarnya juga. Timbul setitik penyesalan dalam hatinya karena telah melaporkan perbuatan Fania. Dia melihat dengan jelas raut kemarahan tuannya. Namun, Angelo berusaha menahan mengingat Fania tengah membawa calon buah hatinya.
Sebenarnya, Angelo tidak hanya diam. Dia menunggu Fania mengakui kesalahannya, bukan pengakuan yang didapat malah penghindaran.
''Ini semua salahku, Gustav. Seandainya, aku diam, mereka tidak akan bertengkar seperti ini," sesal wanita baya itu.
''Ini bukan salahmu." Suara bass seseorang mengalihkan perhatian kedua manusia baya itu.
Dengan penuh ketenangan, Angelo menghampiri keduanya.
__ADS_1
''Justru aku berterima kasih, Ina. Ini sepenuhnya bukan salahmu. So, do not blame yourself," sambungnya.
(Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri).
''Dimana Fania? Aku tidak melihatnya di kamar ibu." Angelo celingak-celinguk mencari keberadaan calon istrinya.
''Sejak pagi dia mengurung diri di kamar. Aku khawatir seharian ini perutnya belum terisi sama sekali. Aku sudah membujuknya, Tuan."
''Biar aku yang membujuknya," tukas pria itu.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan ayah angkatnya.
''Jujurlah, El. Aku yakin Fania bisa menerima, sebelum semuanya terlambat."
Angelo hanya mematung tanpa memberi respon apapun, bahkan berbalik pun tidak. Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar calon istrinya.
''Apa dia akan melakukannya?" bisik Ina.
Gustav hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda tidak tahu. Dia melenggang begitu saja menuju kamarnya untuk beristirahat.
''Fania, buka pintunya ... Ini aku, aku ingin bicara."
Fania yang tengah menikmati coklat putihnya berhasil dibuat menegang saat mendengar suara pria itu, siapa lagi kalau bukan Angelo. Dengan terburu-buru, dia menyembunyikan sisa coklatnya di bawah bantal, lalu segera membereskan semua sampah makanan yang berceceran di tempat tidur.
Ya, Fania memang tidak keluar kamar selama seharian, tetapi bukan berarti dia kelaparan. Justru dia tengah menikmati berbagai makanan yang sengaja dipesan melalui adik-adiknya. Fania menitipkan banyak makanan siang tadi. Dia juga meminta si kembar untuk memberikan secara diam-diam.
''Ck, ganggu orang aja. Gak tau apa ini orok dua minta ngemil mulu," gerutunya dengan tangan menyatukan semua bungkus makanan dalam satu kantong plastik besar.
''Baiklah, jika kamu tidak mau membukanya. Tapi jangan salahkan aku mendobrak pintu ini!"
''Mampus gue! Mana masih banyak banget lagi. Aduh ... kenapa tadi gak gue beresin sekalian," gumamnya merutuki diri sendiri.
Fania semakin resah saat mendengar suara hantaman keras pada pintu kamarnya. Beberapa saat kemudian pintu berhasil terbuka yang membuat Fania mematung hingga tanpa sadar menjatuhkan sampah makanan tersebut.
''Apa yang kau lakukan?" Angelo melangkah pelan menghampiri wanita itu.
__ADS_1
''Ti-tidak ada." Fania segera menendang kebelakang sampah tersebut hingga masuk ke kolong tempat tidur.
Angelo memicingkan matanya. Dia merasa wanita itu sedang menyembunyikan sesuatu.
''Ke-kenapa menatapku seperti itu?'' tanya Fania dengan gugup.
''Jangan mendekat! Aku masih marah. Aku gak mau ketemu kamu, aku gak mau lihat wajahmu."
Bukannya menurut Angelo justru semakin memangkas jarak. Dengan refleks, Fania memundurkan tubuhnya hingga terhenti ketika membentur pinggiran ranjang.
''Aku bilang jangan mendekat! Atau aku—''
''Aku apa? Kau mau melakukan apa, hem?" Angelo berbisik tepat di depan wajah wanita itu. Sehingga Fania bisa merasakan sapuan nafas hangat yang menerpa permukaan kulitnya.
''A-aku akan ... Akh!" pekiknya ketika tubuhnya terhuyung ke belakang, bahkan tanpa sadar menarik kerah baju Angelo yang membuatnya ikut terjatuh di atas kasur empuk itu.
Fania menelan ludah kelat saat menatap manik tajam itu, sedangkan Ello tak berkedip sedikitpun memandangi wajah calon istrinya.
''Kau berat, menyingkirlah!"
Namun, Ello tak bergeming sedikitpun dari posisinya.
''Apa kamu ingin membunuh anakmu? Menyingkirlah!" pinta Fania dengan kesal.
Seketika pria itu tersadar jika bobot tubuhnya turut menindih perut Fania. Dia segera menggulingkan tubuhnya di samping wanita itu.
''Mau kemana?" Angelo menahan tangan Fania yang hendak beranjak.
''Nengok ibu," jawabnya singkat diiringi lirikan sinis.
''Jangan menghindar lagi."
''Aku tidak menghindar, memang sudah waktunya aku menengok ibu. Dia sudah tidur apa belum," sahut Fania ketus.
''Ini sudah larut, ibumu sudah tidur. Sebelum kesini aku sudah menengoknya. Jadi, tidak alasan lagi bagimu untuk mengelak."
__ADS_1
Fania menggigit bibir bawahnya. Pria ini telah membuatnya kehabisan alasan, mau tak mau dia harus tetap berada di sini.