
''Aku mempunyai dendam pada pada seseorang yang menyebabkan kematian orang tuaku."
Fania yang semula mengabaikan keberadaan calon suaminya beralih menatap lekat ke arahnya. Ello pun membalas tatapan itu tak kalah lekat, kemudian melanjutkan ucapannya, ''Perkataanmu waktu itu memang benar, aku terpuruk sebab kepergian orang tuaku, hingga menyalakan dendam membara dalam hatiku."
''Dan yang kutemui kemarin adalah salah satu orang yang bekerjasama denganku. Dia tertangkap polisi karena terbukti bersalah, sedangkan aku ... Polisi tidak punya cukup bukti untuk memenjarakan aku."
''Salah satu? Itu artinya...." Fania menimpali dengan wajah bingungnya.
''Ya, apa yang ada dipikiranmu benar, Fania. Aku bekerjasama dengan beberapa orang. Dan sekarang, salah satu dari mereka ada yang tengah mengincar untuk menuntut balas. Bukan hanya itu, kemungkinan ada lagi salah satu musuhku yang ingin melakukan hal yang sama. Kita harus waspada dan siap dengan serangan mereka."
Fania mematung di tempat, ketakutan hebat tiba-tiba menghantui pikirannya. Mungkinkah dia dan bayinya juga akan menjadi target mereka.
Angelo menyadari kegelisahan Fania. Dia segera membawa wanita itu dalam dekapannya.
''Apa yang ada dipikiranmu?"
''A-aku takut."
''Tenanglah! Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya. Aku akan memastikan kau tidak akan terlibat dalam masalahku ini." Angelo berusaha menenangkan Fania, meskipun dia juga ragu dengan ucapannya sendiri.
Akan tetapi, Dia bertekad kuat tidak akan pernah membiarkan siapapun menyentuh apalagi melukai orang-orang terkasihnya, terutama Fania dan calon buah hatinya.
''Jangan membuatku khawatir seperti kemarin."
Fania mendongak mendengar nada berat pria itu. Tatapannya terlihat sendu.
''Kepergianmu kemarin membuatku khawatir, terlebih saat kau tidak ingin didampingi."
''Itu demi kelancaran misiku," sahut Fania dengan bibir mengerucut lucu.
''Misi?" Angelo menaikkan salah satu alisnya.
''Misi menguak misteri," jawabnya dengan wajah polos.
Pria itu menghela nafas pelan ketika mengetahui bahwa semuanya telah direncanakan.
''Sejak kapan kau curiga?"
Fania pun menceritakan semua dia ketahui termasuk percakapan malam itu yang tanpa sengaja dia dengar.
__ADS_1
''Apa aku salah jika aku ingin tahu tentang calon suamiku?"
''Aku sudah memberi pancingan tapi ikannya gak mau makan."
Kening Angelo berkerut dalam karena tidak memahami ucapan calon istrinya.
''Kamu mancing di mana?"
"Aish, itu perumpamaan, Tuan El! Dasar gak peka," ucap Fania menahan kesal. ''Aku berusaha terbuka dengan menceritakan masalahku, berharap kamu juga mau terbuka. Eh, yang ada malah bikin orang penasaran."
Angelo terkekeh pelan. Fania terlihat lebih menggemaskan ketika merajuk.
''Sekarang, tidurlah! Hari sudah malam. Ibu hamil gak boleh begadang."
Fania hanya bergumam tidak jelas, tak menunggu lama terdengar hembusan nafas teratur yang menandakan jika dia sudah terlelap.
''Kamu cantik, entah sejak kapan aku terpikat padamu, bahkan aku tidak bisa marah terlalu lama. Meskipun kamu sudah membuatku kecewa."
Angelo memandangi wajah lelap wanita di sampingnya. Dia merasa lega karena pertengkarannya sudah usai. Dia sudah menceritakan garis besar masa lalunya.
"Apa kau masih mau menerimaku, seandainya kau mengetahui semua kejahatanku yang lain. Aku seorang pembunuh, Fan." Angelo menatap sendu wanita itu.
''Aku harap kau tidak akan pergi, meski suatu saat kau mengetahui semuanya."
Rasa kantuk tiba-tiba menyerang. Namun, ketika hendak memejamkan mata Angelo seperti merasakan ada hewan kecil yang merambat pada tubuhnya. Lama-kelamaan, dia merasakan sakit yang berujung gatal. Perlahan, dia menyingkirkan kepala Fania yang berbantal lengannya. Kemudian beralih mencari hewan tersebut. Dilihatnya segerombolan semut tengah berbaris menuju ke sebuah tempat, dan itu berpusat pada bantal yang tengah dia pakai.
Tanpa pikir panjang, Angelo segera mengangkat bantal tersebut. Matanya membelalak sempurna ketika melihat sebungkus coklat yang sudah dipenuhi oleh para semut yang mengerubunginya.
''Astaga, Fania ... Kenapa dia menyembunyikan ini di sini," gumamnya.
Dia segera mengambil sisa coklat tersebut, lalu mengibaskan bungkusnya supaya semut-semut itu tidak menjadikan tangannya sebagai sasaran empuk lagi. Dia hendak membuangnya melalui jendela kamar. Namun, baru beberapa langkah, dia mencium bau-bauan tidak sedap seperti bau makanan basi. Hidung bangirnya tampak mengendus-endus layaknya kucing mencari ikan asin untuk menemukan sumber bau tersebut.
Sumber bau berakhir pada kolong tempat tidur, Angelo segera berjongkok untuk mengetahui apa yang ada di bawah sana. Lagi dan lagi, matanya terbelalak ketika melihat satu kantong plastik besar berisi sampah makanan. Tangan kekarnya segera meraih kantong plastik tersebut. Dilihatnya, ada sisa nasi padang yang tidak termakan habis bercampur dengan beberapa bungkus plastik bertuliskan merek snack.
''Jadi, ini sumber baunya," gumamnya, ''pantas seharian tidak keluar kamar, stok makanannya aman. Dasar bumil!"
Angelo menggeleng pelan menatap wanita yang sudah berselancar ke alam mimpinya.
''Cerdik juga dia."
__ADS_1
Dia segera berlalu keluar kamar untuk membuang sampah-sampah itu ke tempat sampah yang ada di luar, sekalian mencari udara segar. Rasa kantuknya sudah menguap entah kemana.
''Nah, gini ‘kan beres,'' ujarnya seraya mengibaskan tangan beberapa kali seolah sedang membersihkan debu.
Keheningan malamnya dikejutkan dengan deringan nyaring ponsel yang berada di saku celananya. Angelo segera merogoh ponsel tersebut, dilihatnya sederet nomor asing tertera di layar datarnya.
''Siapa ini?"
Tanpa berpikir panjang dia segera menekan ikon telepon berwarna hijau untuk mengetahui siapa yang menghubunginya tengah malam seperti ini.
''Halo."
''Hallo, Tuan Angelo Nikki Hayden. Kita berhubungan lagi."
Suara berat seorang pria menyapa indra pendengarannya.
''Siapa kau?"
''Aku karmamu."
''Jangan cari masalah denganku! Atau kau akan tau akibatnya," geramnya penuh penekanan.
Suara tawa menggelegar di seberang sana seolah tengah mengejek kemarahannya.
''Nyawa harus dibalas nyawa, camkan itu!"
Tut!
''Hallo!''
''Siapa kau?
''Hallo, Pecundang! Siapa kau?"
Angelo berteriak seperti orang gila dengan ponsel masih menempel di telinga. Dia mengumpat kasar ketika melihat layar telah menghitam.
Dia mencoba menghubungi nomor itu kembali, tetapi nomor sudah berada diluar jangkauan.
''Sial! Siapa dia? Berani-beraninya mengusik ketenanganku."
__ADS_1
''Aku harus mencari tahu, sebelum dia bertindak lebih jauh."