
"Kau jangan asal menuduh orang! Aku tidak melakukan apapun. Bertemu istrimu saja, tidak!" Maura berteriak marah pada seseorang yang tengah menelponnya. Dia tidak terima dengan tuduhan dilayangkan padanya.
"Kau memang tidak melakukannya, tapi sepupumu itu yang melakukan, sama saja! Kau pasti bersekongkol dengannya untuk ini."
Maura memejamkan mata demi menetralisir amarah yang menguasai jiwa. Perdebatan sengit mereka dimulai beberapa menit yang lalu, dan pria itu selalu memojokkan dirinya. Dia berusaha keras untuk membela diri, tetapi semua terasa sia-sia. Pembelaannya hanya dianggap angin lalu saja.
''Oh, jadi ini taktikmu. Dengan mudahnya kau setuju menandatangani berkas itu, meskipun aku menolak syarat darimu."
Angelo masih melayangkan tuduhannya. Karena dia yakin hilangnya sang istri ada sangkut-pautnya dengan keluarga Haydar yang masih menaruh dendam kesumat padanya.
''Rupanya kau cukup licik, Nona Manis. Kau telah menyusun rencana di belakangku. Kau sengaja mengirim orang untuk memata-matai kantorku, ‘kan? Kau pikir aku tidak tau?"
''Terserah, apa katamu! Yang jelas aku tidak tau keberadaan istrimu! Bukan aku pelakunya!"
Maura memutus panggilan itu secara sepihak. Dia tidak ingin terlalu larut dalam emosi yang akan berimbas pada kandungannya.
''Siapa yang menghubungimu, Sayang? Sampai kau emosi seperti itu. Gak baik ibu hamil marah-marah terus." Emran memasuki ruang kerja sang istri.
Dia sudah tiba di kantor sejak beberapa menit yang lalu, bahkan mendengar percakapan itu. Akan tetapi, dia memilih menahan langkah di balik pintu sembari menunggu sang istri menyelesaikan urusannya.
''Ada orang yang menuduhku menculik istrinya," jawab Maura di sisa kemarahannya.
Wanita itu tampak masih mengatur nafas, satu tangannya tergerak memijat pelipis yang tiba-tiba berdenyut. Semenjak hamil, emosi Maura sering naik turun, tubuhnya juga mudah lelah. Maura yang dulu terkenal pendiam berubah manja, bahkan terkadang terkesan cerewet.
''Siapa?"
''Angelo Nikki Hayden. Dasar tidak tau terima kasih, sudah ditolong malah menuduh yang bukan-bukan."
Emran tersenyum saat mendengar curahan hati sang istri. Pria itu berusaha sebaik mungkin menempatkan diri menjadi suami yang selalu bisa menenangkan istrinya.
''Kalau kau kesal, cabut saja bantuanmu, beres, ‘kan?"
Maura hanya menatap sinis suaminya.
''Itu bukan aku! Meskipun aku kesal, aku tidak akan mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan."
__ADS_1
''This is my woman. Maura tidak sejahat yang dia tuduhkan," batin Emran bangga.
"Apa jangan-jangan si Rayyan biang keroknya?"
Suara lantang Maura berhasil menyentak lamunan pria itu, hingga harus mengusap dadanya.
"Cepat panggilkan anak itu! Bisa tidak bisa, dia harus ke sini sekarang juga," pinta Maura dengan menggebu-gebu.
"Tapi, Ra—"
"Cepat, Em!"
Emran menghela nafas pasrah, jika sang istri sudah memaksa disertai mata melotot, itu artinya permintaannya adalah hal yang wajib dituruti. Dia tidak ingin ikut terkena imbas kemarahan Maura yang berakhir meringkuk selama seminggu di luar kamar.
"Oke ... Oke, sabar! Aku telepon dia."
...----------------...
"Ada apa, Ra? Kau selalu seenaknya sendiri! Asal kau tau aku hampir membahayakan janin orang lain." Rayyan berseru kesal melenggang masuk begitu saja ke ruangan sepupunya. Dia melonggarkan dasi yang terasa mencekik.
''Kau yang seenaknya sendiri! Jika bukan karena ulahmu, pria itu tidak akan menuduhku menculik istrinya," sahut Maura dengan nada tak kalah kesal, "sekarang katakan! Di mana kau sembunyikan wanita itu?"
''Wanita mana?"
''Gak usah pura-pura! Kau pasti sudah menggerakkan kaki tanganmu untuk membalas dendam, ‘kan?"
"Sudah kubilang, lupakan, Ray! Ayahku sudah tenang. Biarkan Tuhan yang membalas. Ternyata kau sangat keras kepala! Ingat, Ray! Bukan cuma dirimu yang kehilangan, tapi aku juga. Terlebih aku hanya sekejap merasakan kasih sayangnya." Maura merendahkan nada bicaranya di akhir kalimat. Kaca-kaca bening tergambar jelas di kedua matanya.
Rayyan menghela nafas berat. Kini, dia paham dengan yang dimaksud wanita itu.
''Pasti dia sudah bergerak," batinnya.
"Aku tidak melakukannya, Ra," ucap Rayyan dengan nada rendah.
"Bohong! Kau berkelit untuk menghindar, ‘kan?" Maura segera menyahut dengan nada tinggi, tatapan nyalang ia tujukan ke arah pria yang berada tepat di depannya.
__ADS_1
Emran dengan sigap mengusap kedua lengan sang istri untuk menenangkan.
"Kau pikir hanya aku musuhnya, Ra! Musuh si Angelo banyak, Ra," sergah Rayyan dengan sarkas. Pada akhirnya, dia juga tersulut emosi.
Maura terbungkam seketika.
''Oke, aku akui. Aku memang sempat menawarkan kerja sama untuk membalas dendam dengan salah satu musuhnya, tapi aku batalkan atas permintaanmu. Tapi aku juga tidak bisa menghentikan orang itu membalas dendam atas kematian adiknya. Adiknya merenggang nyawa di tangan anak buah Angelo tepat sesaat setelah aku membebaskannya."
Maura termenung mencerna penjelasan sepupunya. Ada setitik penyesalan karena telah menuduh Rayyan.
''Kita bantu mencari wanita itu."
Keputusan wanita itu berhasil mengejutkan dua pria yang ada di sana.
''Apa kau serius, Sayang?"
Maura mengangguk mantap.
"Aku pernah merasakan bagaimana rasanya disekap seseorang, pasti wanita itu tengah ketakutan hebat, terlebih dia tengah hamil besar."
"Apa?!" jawab dua pria itu bersamaan.
Mereka sama-sama terkejut mengetahui kenyataan ini.
...----------------...
''Jason, halo, Jason!"
''Sial! dia mematikan teleponku. Awas saja sampai bertindak ceroboh sampai menyeret namaku." Kamila mengeram kesal melihat layar ponsel yang telah menggelap.
Jika bukan karena iming-iming uang berjumlah fantastis, dia tidak akan sudi bekerjasama dengan pria bernama Jason itu. Pria egois yang dominan, suka berlaku seenak jidat. Pria yang memperlakukan dirinya layaknya kacung yang bisa diatur seperti robot.
Karena pria itu pula, dia harus terjebak di rumah ini sebagai mata-mata berkedok pelayan. Mila yang seorang gangster harus rela merendahkan harga dirinya demi menuruti pria itu.
''Sebelum ketahuan, sebaiknya aku segera pergi dari sini," gumamnya.
__ADS_1
Akan tetapi, saat dia berbalik. Kamila dibuat terkejut hingga tanpa sadar menjatuhkan ponsel yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Seseorang tengah menatap tajam penuh intimidasi ke arahnya.
"Siapa kau?"