
Drrrt-drrrt-drrrt
''Fan, kesini cepat! Nona Siska nyariin." Suara panik rekan kerjanya menyapa pendengaran Fania untuk pertama kali.
''Ada apa?" Fania merespon dengan suara lesu.
''Cepetan kesini! Sebelum lo kena masalah."
Fania mengerutkan keningnya. Dia merasa tidak membuat kesalahan apapun, kecuali beberapa hari kemarin tidak masuk karena mual muntah hebat.
"Ada masalah apa? Aku gak melakukan apa-apa, Reva."
''Aduh, udah, Fan. Gak usah banyak tanya. Ini bukan waktunya buat ngeles. Cepetan kesini! Nona Siska ngamuk-ngamuk nyariin lo."
Gadis itu memejamkan mata sejenak, kenapa hari ini begitu banyak kejutan dalam hidupnya. Setelah ini apa lagi yang akan dia terima. Yang jelas, dia harus menyiapkan mental dan hati untuk menerima kenyataan yang akan terjadi.
''Oke, aku ke sana sekarang. Katakan pada Nona Siska dua puluh menit lagi aku sampai." Fania segera mematikan sambungan teleponnya.
Dia segera memberhentikan kendaraan umum yang melintas. Sebuah angkot berhenti tepat di depannya. Tanpa basa-basi, Fania segera naik, lalu mengatakan tujuannya.
Dua puluh menit kemudian Fania berhasil mencapai tempat kerjanya. Bukan perkara mudah untuk sampai ke tempat ini, kondisinya yang sedang hamil membuat indra penciumannya sangat sensitif terhadap bau. Dia harus rela berdesak-desakan dengan menahan mual selama di dalam angkutan yang kebetulan lumayan penuh.
Sebelum masuk, Fania menitipkan ranselnya pada pos satpam agar teman-temannya tidak curiga dengan apa yang dia alami saat ini.
__ADS_1
''Permisi!"
Semua pegawai yang ada di ruangan luas itu serempak menoleh tak terkecuali si pemilik tempat—Nona Siska.
''Nah, ini dia si biang kerok akhirnya datang juga." Suara lantang Nona Siska semakin menambah kebingungan Fania.
''Ada apa, Nona?"
''Ada apa, ada apa. Kamu gak sadar telah membuat saya rugi besar. Banyak klien yang mengeluhkan hasil kerjamu beberapa hari terakhir. Mereka memilih kabur mencari jasa lain karena pekerjaanmu yang tidak becus," ucapnya berapi-api.
''Tapi saya tidak melakukan apa-apa, Nona. Saya berusaha keras untuk memuaskan mereka." Fania berusaha membela diri.
''Dari awal sebelum saya menawarkan proyek ini saya sudah memperingatkanmu, hati-hati, Fania! Jangan kecewakan klien. Tanpa pikir panjang kamu menyanggupi dengan menerima beberapa proyek pernikahan. Giliran proyek sudah berjalan, kamu malah melarikan diri sering bolos dengan alasan sakit, ini, itu dan segala ***** bengeknya. Kalau kamu udah gak niat kerja sama saya, pintu keluar terbuka lebar untukmu tapi jangan membuat saya rugi, dong. Saya tidak menyesal kehilangan satu pegawai sepertimu."
Fania memejamkan mata, kini dia sadar akan kesalahannya hingga membuat atasannya marah besar seperti itu. Sejak awal seharusnya dia tidak menyanggupi proyek ini. Waktu itu, yang ada dipikirannya hanya pekerjaan agar bisa melupakan malam menyakitkan itu. Namun, siapa sangka proyek baru berjalan sebagian dirinya harus mengalami mual muntah hebat seperti ini hingga berimbas pada pekerjaannya.
''Lupakan janjimu! Hari ini juga kamu saya pecat tanpa pesangon," sahut Nona Siska menyilangkan tangan dengan angkuh.
Fania tersentak mendengarnya. Dia menggeleng keras tidak menerima dengan keputusan itu. Harapannya hanya pada pekerjaan ini untuk menunjang kehidupannya ke depan.
''Saya mohon, Nona. Maafkan saya. Tolong, jangan pecat saya. Saya benar-benar butuh pekerjaan ini,'' pinta gadis itu dengan mengatupkan kedua tangannya.
''Keputusan saya sudah bulat dan tidak bisa digugat," jawab Nona Siska acuh.
__ADS_1
''Saya mohon, Nona."
''Pergi secara sukarela atau satpam yang akan menyeretmu."
''Baik, saya terima keputusan Anda. Tapi tolong, berikan hak saya. Bonus lembur saya selama beberapa hari terakhir belum Anda berikan." Fania menghapus kasar air matanya. Dia harus kuat tidak boleh terlihat lemah.
''Kamu benar-benar tidak tau malu, ya, Fania. Setelah membuat saya rugi besar. Dengan entengnya kamu minta bonus. Asal kamu tau, pesangon dan bonusmu saja tidak bisa menutupi kerugianku."
''Segera pergi! Sebelum aku meminta satpam mengusirmu," usir wanita berpenampilan glamour itu.
Karena merasa usahanya sia-sia, dengan terpaksa Fania beranjak dari tempat itu. Dia menatap satu per satu teman-temannya yang menatap iba ke arahnya. Mereka sama seperti dirinya hanya sekedar bawahan yang tentu saja tidak mempunyai kuasa untuk membantu. Mereka sangat paham dengan tabiat Nona Siska jika ada yang ikut campur dengan urusannya maka dia tidak segan untuk memecatnya. Tentu, mereka juga tidak ingin bernasib sama seperti Fania.
...----------------...
Fania melangkah gontai menyusuri trotoar dengan menggendong ransel besarnya. Dia tidak tau lagi harus kemana, saudara kedua orang tuanya berada di pelosok desa, sedangkan dirinya ada di kota besar. Tentu jika ingin kesana harus merogoh kocek yang lumayan padahal tabungannya sangat menipis. Jika digunakan untuk menyewa tempat tinggal hanya akan tersisa untuk dirinya makan selama seminggu, terlebih dia baru saja kehilangan pekerjaannya. Bagaikan jatuh tertimpa tangga, itulah yang patut disematkan untuk nasibnya.
Fania memutuskan berhenti di sebuah halte bus ketika merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Mau tidak mau, dia kembali memuntahkan semua isi perutnya yang berupa air karena memang dari pagi belum terisi apapun. Dia menyandarkan tubuh lemahnya pada sandaran kursi tunggu. Air mata mengalir begitu saja meratapi nasib malangnya.
Dia meremas kuat perutnya saat teringat semua kepahitan yang dialami. Hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat semenjak kehadiran janin ini. Sungguh, dia sangat membencinya.
''Janin sialan! Kenapa loe hadir dalam perut gue! Gara-gara loe, gue mesti ngalamin kesialan ini. Gue benci! Keluar loe, keluar dari perut gue!" Fania berteriak memaki makhluk tak berdosa itu, bahkan memukul perut ratanya bertubi-tubi.
Beruntung, area sekitarnya lumayan sepi karena hari memang sudah larut.
__ADS_1
''Iya, gue mesti melenyapkan lo. Gue gak mau sial lagi."
Fania berniat melanjutkan lagi langkahnya. Namun, baru hendak melangkah, dia merasakan semua yang ada di sekelilingnya berputar. Sehingga pada akhirnya, gadis itu jatuh tak sadarkan diri.