My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
S4bu Raijua


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima hari dua jam perjalanan laut, dari Ferry Centre Batam menuju S4bu Raijua, kapal yang membawa rumah sakit apung milik Citra Medika Healt, hampir sampai di dermaga Raijua.


Denisa yang sedang duduk di sofa aula sambil membaca majalah, tersentak saat tangannya ditarik oleh Ricko.


Denisa mendongak.


"Kita hampir sampai, pemandanganya lagi bagus, kita tiba, tepat saat senja muncul, yuk, ikut aku," Ricko menggerakkan dagunya mengajak Denisa.


Denisa berdiri, mengikuti langkah Ricko dari belakang, membiarkan tangannya tetap digandeng Ricko menuju tepi, melihat hamparan laut. Mereka pun berdiri di pembatas besi, melihat hamparan laut biru.


Oh ya, Denisa berani melihat laut jika matanya sudah melihat ada daratan disekitarnya, tapi jika mereka sedang berada ditengah-tengah laut, yang tak terlihat darat atau pulau, dia dan beberapa teman-teman sejawat yang takut laut, memilih diam dikamar, memanjatkan doa.


"Itu pulau S4bu atau Seba, tempat yang akan kita tuju," Ricko menunjuk pulau yang terletak disebelah utara kapal mereka, saat ini posisi kapal mereka berada di laut Sawu.


"nah, kalau itu pulau, Raijua, masih masuk kabupaten S4bu," tunjuknya lagi pulau kecil yang tak jauh dari pulau sabu, mata Denisa mengikuti arah yang ditunjuk Ricko. Kemudian Denisa menoleh kearah Ricko yang sedang menjelaskan tempat yang menjadi tujuan mereka mengabdi.


Dilihat dari samping begini, Ricko begitu tampan, apalagi saat pancaran warna jingga matahari menerpa kulit wajahnya, membuat kulit eksotis Ricko memancarkan cahayanya, dan itu menambah kesan seksi untuk Ricko dua kali lipat. Tanpa sadar Denisa mengagumi ketampanan Ricko.


"Dulu aku dan Amanda memilih koas disini, dipuskesmas yang ada di Raijua, tak disangka jika Amanda sekarang benar-benar mewujudkan impianya menjadi relawan kesehatan disini," Ricko tersenyum, menoleh, menatap Denisa yang juga menatapnya. "Kamu belum pernah kesini kan?" Denisa mengangguk.


"Tahu pulau ini juga baru sekarang, mas."


Ricko tersenyum, "sekarang S4bu Raijua sudah mulai dikenal, berkat kemajuan teknologi, dan kedatangan para selegram yang membuat vlog, dan televisi juga sudah mulai meliput pulau S4bu Raijua. Dulu padahal pulau Raijua bahkan tidak masuk di peta Indonesia."


"Oh ya?" Ricko mengangguk.


"Pulau ini terletak paling luar selatan Indonesia, terletak diantara pulau Sumba dan pulau Rote yang sudah dikenal lebih dulu. S4bu Raijua diresmikan tahun 29 oktober 2008 oleh menteri dalam negeri kita yang menjabat saat itu, hasil pemekaran dari Kabupaten Kupang." Jelas Ricko mendetail, Denisa mendengar dengan antusias. "Kamu pasti kaget denger harga BBM disini perliternya berapa?"


"Emang berapa mas?" tanya Denisa menunjukkan mimik wajah penasarannya, Ricko melihat itu jadi sangat gemas.


"Waktu aku sama Amanda kesini, harga BBM sedang tinggi-tingginya disini, 70 ribu perliter."


"Yang bener mas?" Denisa melotot tak percaya.


"Harga normalnya disini 25 ribu per liter tapi itu dulu loh, empat atau lima tahun yang lalu, nggak tahu sekarang, jadi bersyukur kita yang tinggal ditempat yang bisa menikmati harga BBM murah. Bisa kita bayangkan, bagaimana yang dirasakan saudara kita yang tinggal di pulau terluar Indonesia, bukan?" Denisa kembali hanya mengangguk.

__ADS_1


"Aku salut dengan masyarakat yang tinggal disini, mereka tidak pernah mengeluh. Masyarakatnya semua ramah, saling menghargai adalah simbol persaudaraan pulau S4bu. Kamu harus berterima kasih sama Amanda, yang sudah mengirim kita kesini."


Denisa menunduk mendengar ucapan Ricko, dia menyesal sempat membenci Amanda beberapa hari kemarin. Ya, kemarin, tepat saat mereka baru saja menempuh dua hari perjalanan laut. Amanda mengumumkan pernikahannya dengan Daniel di grup aplikasi pesan, jika dia dan Daniel kini sudah sah menjadi suami istri.


Denisa kembali teringat, pesan yang Amanda kirimkan padanya.


"*Nis, kamu jangan marah atau benci sama aku ya! Kami memang berjodoh, aku tidak bisa mengendalikan kehendak Tuhan perihal jodoh, Nis. Restui kami ya, akhirnya, aku bisa merasakan menjadi kamu.Tapi ... mas Daniel menikahi bukan karena terpaksa atau bentuk mempertanggung jawabkan sesuatu, ini murni keinginannya, dia mencintai ku."


"Untuk Dara, kamu tenang aja. Mas Daniel tetap menjadi papi untuk Dara, dan doakan secepatnya kami bisa memberikan adik untuk Dara. Aku juga siap menjadi ibu sambung Dara*."


Benci? Marah? Apa alasan dia membenci atau marah pada Amanda? Amanda tidak merebut Daniel dari dia. Lagi pula, Denisa sadar jika dia dan Daniel tidak memiliki hubungan apa-apa, hanya sebatas mantan suami, itupun jika Daniel menganggapnya mantan istri. Jadi untuk apa dia marah?


Denisa memang sempat sedih, kesal, dan kecewa oleh kabar itu, tapi untuk apa? Semua yang dia rasakan tak beralasan, dia hanya terbawa perasaan saat Daniel kembali hadir, sebenarnya itu bukan untuk dia, tapi untuk Dara.


Dan Denisa mulai sadar, jika dia tak sebanding dengan Amanda. Lihat apa yang Amanda lakukan saat ini? Benar-benar tindakan yang sangat mulia. Satu lagi, kesedihan yang Denisa rasakan juga tak sebanding dengan kesedihan yang Amanda rasakan saat ini, karena setelah satu jam pernikahannya dengan Daniel, papa Amanda juga menghembuskan nafas terakhirnya.


"Papa udah nggak ada Nis. Papa pergi ninggalin aku, yang aku punya saat ini cuma mas Daniel, dan mama Dina. Aku sendirian jika nggak ada mereka, Nis."


Denisa patut bersyukur, jika dia masih memiliki banyak saudara, saat ayahnya pergi meninggalkannya.


"Hai gaes, kita sudah sampai di pulau S4bu, kita akan bersandar di pelabuhan Seba. Aku mau mengabarkan, kita melewati jalur cukup berbahaya, karena disini merupakan pertemuan arus," trnyata itu Wahyu, dia menjelaskan keadaan laut yang mereka lewati, "kita siap-siap, karena kedatangan kita sudah sangat ditunggu dan kita akan mendapat upacara sambutan adat."


"Kita percayakan dengan Kapten nahkoda kita." ujar Ricko menenangkan, melihat wajah panik Denisa. Denisa mengangguk, mengikuti langkah Ricko, dan tangan Ricko tetap siaga menggandeng dan melindungi Denisa.


Benar, kedatangan Denisa dan kawan-kawan ternyata sudah sangat ditunggu. Senyum merekah tak bisa pudar dari bibir tipis Denisa. Perjalanan yang cukup panjang, dan melelahkan kini terbayar dengan sambutan ramah masyarakat S4bu.


Meski hari berganti petang, matahari mulai kembali keperaduanya, tak menyurutkan semangat warga S4bu melakukan acara adat penyambutan.


Denisa melihat penyambutan yang begitu meriah dari Tua-tua adat dan masyarakat adat S4bu, hati Denisa dibuat bergetar dan merinding, walau penyambutan itu menggunakan bahasa asli sabu, walau tidak mengerti artinya, namun begitu menusuk didalam kalau dan dipahami Naluri Ana Dohawu.


Para tetua adat mengenakan kain khas S4bu Raijua.


"Itu yang dipakai seperti sarung, dikenal dengan sebutan Hawu. Nah kalau yang dipakai seperti selendang, yang kedua ujungnya menggantung didepan, itu namanya Naleda, itu untuk pakaian yang biasa dipakai malam hari." Jelas Ricko, paham yang ada dipikiran Denisa.


* * *

__ADS_1


"Yu, gimana keadaan Denisa?" Daniel menelepon Wahyu.


"Dia sehat, sangat sehat. Apalagi ada dokter tampan yang selalu siaga jagain dia." Jawaban Wahyu seolah ingin memanasi Daniel.


Terdengar suara ******* dari Daniel. "Aku titip Denisa ya, mungkin seminggu lagi aku menyusul, setelah masalah disini selesai."


"Udah, nggak usah pikirin yang disini, yang disini udah bahagia. Nikmatin aja menjelajahi hutan belantara."


"Kabari aku jika terjadi sesuatu sama Denisa."


"Iya, kalau ingat, soalnya Internet disini jelek, ini aja suara lo putus-putus." Jawab Wahyu sedikit kesal, memindahkan ponselnya didepan mulut.


Wahyu masih berada di aula, dan kini akan menuruni tangga, untuk bergabung dengan tim lainnya. Karena sibuk dengan gadgednya, dan tak memperhatikan jalan didepannya, menabrak sesosok bertubuh besar, hingga membuat Wahyu teejatuh.


Wahyu membelalakkan mata melihat wajah didepanya.


"Jalan-jalan pake mata donk, badan doank digedein, tapi mata merem."


"Saya nggak sengaja Pak, saya tuh lagi mabok laut."


"Lo siapa sih? Kok bisa ikut, untung nih kapal nggak tenggelam keberatan muatan." Wahyu menekan tangan kanannya kebelakang untuk berdiri. "Bantuin donk, udah berbuat nggak mau tanggung jawab." Tangan kirinya terulur meminta bantuan.


"Nggak mau, udah ngatain masih minta tolong, kepala saya pusing, nggak bisa bantu orang, yang ada nanti saya ikuta jatuh." Sisi melewati Wahyu begitu saja, dan tak sengaja kaki besarnya menginjak telapak tangan Wahyu.


"Aaaaaaaaaa, emakkkkk sakiiitttt."


.


.


.


.


*Teman-teman, yang aku tulis ini cuma fiktif dan hayalan semata, jika ada kesalahan atau yang dianggap tidak masuk akal, harap maklum. Risetnya hanya melalui Internet, bukan datang langsung ke tempatnya, dan jika ada kesalahan penulisan adat, bisa kasih tau aku langsung, karena aku juga baru mencari tau tempat ini.

__ADS_1


Dan untuk penulisan nama S4bu sengaja aku pakai angka 4, pengganti huruf A, takut nggak lulus review*.


__ADS_2