
"Omaaa, Omaaa, tunggu!" panggil Dara sambil berlari mengejar langkah Dina yang sudah keluar, suara cemprengnya membuat Dina menghentikan langkahnya, dia berbalik, melihat Dara sudah ada dihadapanya.
"Oma yang waktu itu tolongin Dara 'kan, dan anter Dara pulang waktu itu, iyakan?" refleks kepala Dina mengangguk kecil, diam dan menatap lekat Dara.
"Waktu itu Dara belum sempat ucapin terima kasih. Dara punya sesuatu buat Oma." Dara melepaskan tas ransel kuda poni ber hoodienya dari punggungnya, meletakkan dilantai, membuka reseleting tasnya dengan hati-hati, mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dina memperhatikan setiap yang Dara lakukan.
"Tadi Dara dapat hadiah dari bu guru, katanya Dara pintar menghapal, jadi dikasih hadiah. Oma terima ya, ini lucu." Dara meletakkan benda kecil itu di telapak tangan Dina. Dina melihat barang yang diberikan Dara, sebuah bross warna hijau berkarakter keroppi yang terbuat dari kain flanel.
"Tadi Dara dapat tiga, satu lagi buat mami, satu lagi buat papi Daniel kalau papi sama mami jemput Dara nanti," ucapnya polos dan menyebutkan nama Daniel. Dan itu berhasil membuat darah Dina berdesir dan merinding. "Nanti kalau kita ketemu lagi, dan Dara udah gede, Dara beliin yang mahal. Oma datang kesini lagi ya, kalau nggak ketemu Dara." Lanjut Dara. Dara tersenyum lebar pada Dina, menunjukkan rentetan gigi kecilnya yang sedikit berkarat.
Delia menghapus sudut matanya yang berair, melihat yang dilakukan Dara.
"Dara pintar sekali, kamu baik banget sayang, Om Abian makin bangga deh sama Dara." Abian memeluk pundak Dara, dan menariknya menjauh dari Dina, menghalau Dina yang ingin memeluk Dara. "Pasti mami Denisa yang ajari Dara jadi anak yang sopan ya." Sindir Abian tepat dihati Dina.
__ADS_1
Dina mendongak,menghalau air asin yang akan turun.
"Biarkan saja Bu, jika air hujan mau turun. Karena turunnya air hujan akan tumbuh sesuatu, tapi bisa juga air hujan menenggelamkan dan menghanyutkan apapun disekitarnya karena derasnya. Tapi air hujan tidak akan bisa menumbuhkan pohon yang sudah mati, jadi, sebelum pohon itu mati, lebih baik seringlah menyiramnya," ucap Abian tersenyum mengejek, dia membawa Dara masuk, meninggalkan Dina yang masih terpaku ditempatnya.
* * *
"Apa yang kamu lakukan, Amanda? Kenapa kamu jadi seperti ini?" marah Ricko menyeret Amanda keluar, berbicara sedikit jauh dengan suara tertahan, dia paling tak bisa meninggikan suara jika berhadapan dengan wanita. Setelah menyelamatkan Denisa, dia membawa Denisa kerumah warga sekitar pantai. Denisa masih pingsan setelah terhempas ke tengah laut, beruntung Ricko mengikutinya tadi.
"Aku lihat kamu menampar Denisa, dan kamu memukulnya. Apa yang buat kamu jadi berubah Man? aku nggak kenal kamu yang sekarang."
Amanda berdehem, membuang muka ke kanan, bertolak pinggang. "Aku ngelakuin itu semua karena ada alasannya. Denisa berbuat salah, jadi wajar aku ngelakuin itu."
"Wajar katamu? Memang apa kesalahan Denisa sampai buat kamu semarah ini? Apa karena Daniel?" Amanda diam, rahangnya mengeras dengan gigi yang gemerutuk. "Hanya karena dia kamu sampai hampir membuat nyawa Denisa melayang, Man. Bagaimana kalau sampai ini terjadi? Lagi pula Denisa nggak salah apa-apa, yang salah itu suami kamu, kenapa nggak kamu urus saja dia yang terus ganggu Denisa. Atau nggak, kamu marahin suami kamu, jangan hanya pihak perempuan disalahkan."
__ADS_1
Amanda kini menatap Daniel, ternyata belum ada yang tahu statusnya sekarang, termasuk Denisa. Tapi mulutnya lancang memberitahu itu tanpa ia sadari.
"Itu semua karena kamu diam aja Ric. Coba kalau kamu gerak cepat, dan langsung ajak Denisa ke pelaminan, nggak mungkin Daniel sampai menggoda mantan istrinya. Lagi pula hubungan aku sama Daniel baik-baik aja sebelum ketemu Denisa."
"Lagi kamu salahin Denisa? aku udah bilang, salahin suami kamu." Ujarnya dan inginkembali lagi melihat keadaan Denisa, tapi kaki yang sudah melangkah dibuat terhenti ketika Amanda kembali bersuara.
"Kamu tuh cinta nggak sih sama Denisa? Kalau cinta kejar, jangan sampai keduluan orang lain."
"Orang itu sudah beristirahat, lagi pula aku percaya penuh Denisa bisa menjaga dirinya."
Amanda mendengus. "Ternyata kamu masih tertipu sama tampilan wajah Denisa yang lugu ya Ric. Nggak tahu bagaimana Daniel bisa nikahin dia dulu."
"Sudahlah Man, aku nggak terlalu perduli dengan masa lalu Denisa, setiap orang pasti punya masa lalu. Pesan ku, kembalilah pada Amanda yang dulu. Sayang sekali semua kebaikan kamu Man, kalau sifat kamu seperti ini. Kamu berubah karena laki-laki yang nggak pantas kamu perjuangin." Setelah mengatakan itu, Ricko kembali melanjutkan langkahnya. Amanda mendesah kecewa, Ricko tak membelanya.
__ADS_1