My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Ada Setan


__ADS_3

Di club malam.


Akhirnya Amanda dan Ricko memutuskan berakhir disini. Mereka minum berdua demi menghibur diri. Ceritanya ...


"Kamu pernah sadar nggak sih, Ric. Status aku tuh apa? Janda, apa perawan?" Amanda terkikik atas pertanyaannya sendiri, dia sudah setengah mabuk.


"Janda, perawan, janda, perawan." gumam Amanda menghitung jarinya.


"Kalo janda, wanita disebut janda itu kayak gimana sih Ric? udah jebol gawangnya gitu? kalo perawan, perawan itu belum nikah kan? Lah aku apa?"


"Aku udah pernah nikah, tapi nggak sampai dua puluh empat jam, diceraiin. Nggak ada buku nikah juga, karena kami belum sempat mendaftar ke KUA." Amanda memandang cangkir berisi wine ditanganya, kemudian menguncangnya, membuat air berwarna merah itu berguncang, lalu dia meneguknya hingga isinya habis.


Amanda meletakkan kembali cangkirnya dimeja, meminta Ricko menuangkan lagi.


"Kamu gadis, Man. Kamu juga masih perawan, bukan janda, bukan janda kembang juga." jawab Ricko sambil menuangkan kembali botol wine kedalam gelas milik Amanda, kemudian Amanda meneguknya lagi, habis dalam satu tegukan.


Ricko menggeleng, biarlah Amanda malam ini mabuk, dia biarkan Amanda meluapkan semua perasaannya, dia akan menemani sahabatnya itu sampai puas, dia tak tega jika harus meninggalkan Amanda seorang diri. Gadis itu tak memiliki siapa-siapa lagi kecuali dirinya.


Amanda mengangguk, setuju dengan jawaban Ricko. "Eh, Ric. Tadi kata kamu apa? janda kembang? ada gitu janda kembang? Janda kembang itu kayak apa Ric?"


"Aku juga nggak tahu."


Setengah sadar Amanda tersenyum kecut.


"Malam ini mereka pasti mengarungi lautan cinta yang memabukkan ya Ric? Dan aku juga mengarungi lautan yang memabukkan, yang tak kalah nikmat dari malam pertama mereka. Ah malam pertama omong kosong, mereka sudah melakukannya, wanita yang kamu cintai itu bermain curang, dia menyerahkan keperawananya untuk menjerat lelaki kaya." Hahaha, Amanda terbahak, sejurus kemudian diam.


Ricko tetap diam mendengarkan curhatan Amanda, dia minum, tapi dia masih aman, dia tak boleh ikut mabuk, mereka hanya membawa satu mobil, dia tak ingin mati sia-sia karena patah hati, masih ada papanya yang harus ia bahagiakan.


Ricko lebih bisa mengontrol dirinya.


"Menurut kamu, mereka ham segini mereka sudah berapa ronde ya, Ric?" Amanda bersendawa, kemudian meneggelamkan wajahnya pada tangan yang dilipat diatas meja.


"Nggak usah mikirin itu, lebih baik kamu minum lagi, habis ini kita sama-sama berusaha move-on. Besok aku temenin kamu cari lokasi lagi untuk membuka cabang rumah sakit, tapi jangan dijakarta, cari kota lain, di sini kamu akan sulit move-on, kamu pasti akan sering ketemu dia."


Amanda mengangkat kepalanya dengan mata memicing, memandang Ricko, matanya sudah terbuka. "Move-on itu apa Ric? Aku baru denger kata-kata itu."


"Kamu pinter, Man. Tapi ternyata kamu bòdoh kalau lagi mabuk."

__ADS_1


"Apa sih, Ric? aku nggak lagi mabuk kok, mana ada dokter pinter kayak aku mabuk."


Ricko kembali menghela nafas. "Yaudah yuk, kita pulang aja, kamu nanti kelewat mabuk, makin ketahuan bodohnya."


"Mamiii ..."


Teriak Dara, mencari maminya yang tak ada ditempat tidur. "Mami mana, Pi?" tanyanya pada Daniel yang mengikuti langkahnya dibelakang.


Daniel melihat kearah pintu kamar mandi yang tertutup. "Mami mandi, kamu tunggu disini sebentar ya, Papi pakai celana dulu, Papi habis mandi juga," mengusak rambut anaknya sayang, lalu berlalu keruang walk in kloset. Dara mengangguk patuh.


Tak lama Daniel kembali dengan celana kolor rumahan, Denisa belum ada, istrinya itu lama juga ternyata mandinya. "Anak Papi yang cantik udah makan malam belum?"


Dara menggeleng. "Belum."


"Kita tunggu Mami, nanti kita makan sama-sama, Dara maunya makan dikamar apa di bawah?"


"Dibawah enak kali ya, Pi. Dara belum pernah makan di restoran hotel."


"Oke, sambil nunggu mami, kita main game dulu yuk, Dara suka main game nggak?"


"Suka," jawab Dara cepat, dengan wajah antusias, "Papi punya game stumble guys gak? Dara suka main itu, seru Pi. Aku diajarin Awan dan Angkasa.


Daniel yang tadi sempat melemas karena acaranya terganggu, kini berubah 180 derajat, tak ada buruknya dengan kehadiran Dara, dia jadi makin dekat dengan anaknya, dan tahu apa yang sering Dara lakukan, juga tahu apa kesukaan anaknya itu.


Setelah berhasil mendownload game yang Dara sebutkan tadi, kini keduanya asyik tenggelam dalam permainan game tersebut, terkadang mereka tertawa bersama, saat karakter yang dijalankan Daniel terkena pukulan dari halang rintang, dan mendesah kecewa saat karakternya jatuh ke jurang, dan dia tereliminasi, ronde berakhir.


Kini ponselnya berpindah ke tangan Dara, anaknya itu mengajari cara bermainya, Dara terlihat cukup lihai dalam memainkan game yang baru pertama kali Daniel tahu.


Pintu kamar mandi terbuka, keduanya menoleh, Denisa keluar dengan rambut yang digelung dengan handuk kecil dan memakai batrobe yang telah disediakan pihak hotel.


"Mami mandinya lama banget." protes Dara langsung.


Denisa terkejut ada Dara dikamarnya. "Loh, kok Dara disini? bukanya tidur sama Awan dan Angkasa?"


"Aku terlalu senang saat kakak ipar kamu menawarkan kebaikannya, lupa kalau dia nggak akan baik-baik banget sama aku." Daniel yang menjawab, menjelaskan keberadaan Dara yang kini bersama mereka.


Denisa langsung paham maksud ucapan Daniel.

__ADS_1


"Ganti baju gih, kita makan malam sama-sama dibawah." Denisa mengangguk, berlalu ke ruang ganti.


* * *


Sejam kemudian mereka sudah kembali ke kamar lagi setelah makan malam lengkap bersama keluarga kecil mereka. Daniel dan demi tidak terlihat seperti pengantin baru, malah terlihat seperti keluarga bahagia yang sedang berlibur, Dara berjalan ditengah digandeng Mami papinya, dia terlihat begitu senang.


Saat sudah naik ke tempat tidur, Dara kembali mengajak papinya bermain game kesukaanya itu, dia belum puas.


Denisa ikut bergabung dengan Dara berada ditengah antara dia dan Daniel, menyender pada kepala ranjang, biasanya Denisa melarang Dara bermain game, tapi malam ini dia membebaskan anaknya, Dara terlihat begitu bahagia, tak mungkin dia mematahkan kebahagiaan Dara yang Dara idam-idamkan, mempunyai papi yang untungnya, papi yang ia miliki adalah papi biologisnya sendiri


Denisa juga ikut memainkan game itu, dia berkali-kali gagal sebab tak terbiasa, hingga setengah jam, suara cempreng Dara tak terdengar lagi, anaknya itu sudah tenggelam dalam mimpinya.


"Astaga, pantesan sepi." Daniel terkekeh, merebahkan tubuh Dara, agar leher anaknya tak sakit.


"Anak kita cantik ya, Mi. perpaduan wajah kita berdua." ucap Daniel memandang lekat wajah damai Dara. Denisa mengangguk.


"Emmm, tapi sofa itu kayaknya nyaman buat Dara." tunjuk Daniel sofa panjang diujung ranjang mereka dengan dagunya, Denisa memandang arah yang ditunjuk Daniel.


"Kita bikin adik buat Dara, Mi. Demi adik yang harus cepat lounching, malam ini Dara harus berkorban."


Dan dia mengangkat tubuh Dara dibawa ke sofa, dia membuat Dara senyaman mungkin seperti ditempat tidur biasa, menyelimuti Dara, menghalau dari dinginya pendingin ruangan, sesuatu yang sudah diujung harus segera dituntaskan, akan berakibat membuat pusing tujuh keliling jika ditahan, dan Daniel tak bisa menahannya.


Meredamkan suara agar Dara tak terganggu, ditengah gelap ruangan, Daniel mengungkung tubuh Denisa dibawahnya.


Lima tahun lalu, mereka sudah melakukannya, tapi dalam keadaan Daniel tak sadar, kini dia melakukannya secara sadar, masih sulit bagi Daniel menembus pertahanan Denisa, rasanya sama seperti pertama kali, dan dia senang Denisa menjaganya dengan baik, hanya dirinya pemilik seutuhnya segala jiwa raga Denisa.


"Terima kasih Denisa, ini merupakan kado yang kamu beri untukku, aku mencintai kamu, aku sayang kamu." dikecupnya kening Denisa penuh rasa cinta dan sayang saat mereka telah mengarungi samudera cinta, mereka berpeluh dengan nafas pendek-pendek, Daniel menarik selimut menutupi tubuh polos mereka.


Denisa merapatkan tubuhnya menempel pada dada Daniel yang nyaman, tak lama kemudian mereka terlelap, berharap mereka bangun lebih dulu ketimbang Dara, bahaya jika mereka bangun kesiangan.


Sampaiii ...


"Mamiiiiiiiiiii ..."


Denisa dan Daniel sama-sama terkejut, mereka langsung terduduk karena suara teriakan Dara, mereka ikut panik.


"Kenapa sayang?" tanya Denisa, Dara tak menjawab, dia langsung naik ke tempat tidur, nyelip ditengah antara Daniel dan Denisa, mukanya terlihat pucat dan sangat ketakutan.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" tanya Daniel ulang, dia begitu khawatir.


"Kenapa Dara bisa disofa, Pi? perasaan semalam Dara tidur dikasur sama Mami Papi," jelas Dara, " kata Awan, kalau kita pindah tempat tidur tanpa kita sadar, berarti yang mindahin setan. Dara takut, Mi. Disini ada setanya." Dara memeluk Denisa, dengan wajah yang terlihat sangat ketakutan.


__ADS_2