
Tiga hari berlalu, malam itu setelah mendengarkan apa yang dikatakan mamanya, keesokan harinya Denisa menceritakan masalahnya pada Dania dan Denisa, dan jadilah dia memilih memutuskan hubungannya dengan Daniel.
"Restu ibu itu penting dalam berumah tangga, kadang yang dikatakan mereka benar, jika feeling seorang ibu mengatakan ini lebih baik jangan dilanjutkan, lebih baik jangan dilanjutkan. Ditakutkan ada sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, suatu saat jika terjadi apa-apa dalam rumah tangga kita, kita tetap akan kembali pada ibu juga, dan beliau lah yang lebih sakit dari apa yang kita rasakan." Nasihat Delia dan Dania saat itu.
Sudah setengah jam Daniel memakirkan mobilnya tak jauh dari rumah Abian, memantau dari jauh keadaan rumah Abian dari luar. Saat Denisa menelponya kemarin sambil menangis, dan memutuskan mengakhiri hubungan mereka, serta meminta Daniel untuk tidak lagi menemuinya atau menghubunginya Daniel jadi tak bisa makan dan tidur. Hari itu juga Daniel datang kerumah Abian, tapi Abian tak melarang dan mengusir Daniel untuk bertemu dengan Denisa ataupun Dara. Nomor ponsel Denisapun tak lagi bisa dihubungi, bahkan nomor Dara pun ikut tidak aktif.
Tak pantang menyerah, setiap hari Daniel terus datang dan berusaha agar bisa bertemu Denisa walau pulang dengan tangan kosong. Jujur saja, tak bisa mendengar suara atau melihat wajah Denisa sudah membuat Daniel hampir setengah gìla. Dia tak bisa jika hidup tanpa Denisa, jika ditanya mengapa? Daniel tak tahu jawabannya, yang pasti, tiga hari tidak melihat wajah dan suaranya saja, membuat Daniel kehilangan gairah hidup dan nafsu makan.
Dina yang saat ini sudah berada dijakarta bersama Amanda saja sampai mentertawakanya. Eits, Amanda belum tahu ya, sebab dia sedang sibuk mensurfei lokasi untuk dijadikannya tempat untuk membuka rumah sakit baru, dan dia tinggal di apartemen yang baru disewanya.
"Dasar anak bodòh, hidup sudah enak malah dibikin susah sendiri. Coba saja kamu tidak menyakiti Amanda, tidak akan kamu mendapat karma seperti ini, Daniel." Cibir Dina pada anaknya.
"Ini proses Daniel menjadi lebih baik Ma, karma atau bukan tergantung kita memandangnya, karma hanya Tuhan yang tahu. Mama ini senang banget liat anaknya susah." Sahutnya sewot.
"Ya, ya. Terserah kamu saja." Jawab Dina sudah pasrah.
Dina hanya mencebik, Daniel selalu saja menjawab, tapi dalam hatinya mendoakan yang terbaik untuk putra semata wayangnya itu, sejahat-jahatnya seorang ibu, tetap mengharapkan yang terbaik untuk anaknya, apalagi ada Dara yang mengikat hubungan mereka.
Daniel mengetukkan jemarinya distir mobil, mencari akal biar bisa masuk kerumah Abian dan menemui Denisa. Sudah satu jam lebih Daniel memakirkan mobilnya tak jauh dari rumah Abian, jampun sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Seketika bibirnya tertarik membentuk senyuman saat melihat dua anak laki-laki yang sedang berjalan melewati mobilnya.
"Baik Abian, mari kita bermain-main sejenak, aku anggap ini adalah tantangan dari mu."
Bergegas Daniel keluar dari mobil dan memanggil keduanya.
"Hei, bocah." Panggilnya seperti mau ngajak tawuran.
Kedua bocah itu menoleh kebelakang. "Apa woi?" Sahutnya tak kalah menantang.
"Sini kalian, butuh duit nggak?" ucapnya langsung.
Kedua anak laki-laki itu saling pandang, sedikit heran tiba-tiba ada orang yang memanggil dan menawari uang, kemudian terlebih dahulu mereka melihat mobil yang dipakai Daniel, baru keduanya melangkah mendekat.
__ADS_1
"Apa Bang?"
"Kalian lihat rumah besar ini?" tunjuknya rumah besar Abian. Dan kedua anak laki-laki itu ikut melihat arah yang ditunjuk Daniel. "Aku mau masuk kedalam rumah mewah ini, tapi nggak bisa, aku punya pacar yang tinggal dirumah itu, tapi hubungan kami putus gara-gara tidak direstui oleh orang tua pacar ku," jelasnya sedikit curhat.
"Inget kata Dilan nggak rindu kalau itu berat? nah rindu ku itu kalau ditimbang bisa mencapai ton-nan." Dan anehnya kedua anak itu mendengarkan dengan sangat serius dan mengangguk apa yang dikatakan Daniel, "kalian lihat juga kan kalo ada dua satpam yang berjaga didepan sana," tunjuknya lagi pada penjaga pagar rumah Abian.
"Aku mau masuk kesana tapi butuh bantuan kalian, inget harus berhasil dan nggak boleh gagal karena aku akan memberi kalian duit banyak," ucapnya lagi, kemudian membisikkan sesuatu kepada kedua anak itu, mereka seperti dihipnotis Daniel, mendekatkan kepala mereka dan mengangguk setelah mendapat arahan apa yang harus mereka lakukan.
Prankkkkkk
Plak
Sebuah batu dan suara kayu yang mengenai pagar rumah Abian menimbulkan suara yang cukup nyaring.
"Woi, siapa itu?" ujar salah satu dari penjaga itu, dan dia melihat satu pemuda dari arah utara. Diapun keluar dari pos dan mengejar satu pemuda itu.
Ketika salah seorang satpam mengejar, terdengar kembali suara lemparan batu dan kayu. Satpam yang tinggal dan sedang melihat temanya mengejar itu mencari asal suara, dan diapun melihat pemuda satu lagi dari arah selatan, iapun mengejar pemuda itu.
Rencana Daniel berhasil, saat pos kosong, dia langsung membuka pintu pagar rumah Abian dan berlari masuk. Berhasil masuk, saat sudah didepan pintu besar itu, Daniel kini dihadapkan pada masalah lain, dia tidak tahu letak kamar Denisa, ada dilantai atas atau bawah.
Kemudian Daniel mengendap lagi, dan mengintip jendela berikutnya, saat itu juga darahnya langsung berdesir saat melihat wanita yang sedang tidur menghadap padanya. Lama Daniel menatap wajah cantik yang tidur itu, hingga tangannya terangkat, seolah membelai wajah putih nan mulus itu namun terhalang kaca jendela.
"Aku rindu kamu, Mami." Mata Daniel sudah memanas, dia tak rela jika ada laki-laki lain yang menemani Denisa tidur, tubuh Denisa hanya dia yang boleh melihatnya, dia pernah merasakan nikmatnya bersama, jadi tak ada yang boleh menyentuh wanitanya sedikit pun.
"Kamu mau bermain-main dengan ku Abian?" seringai Daniel muncul ide buruk dikepalanya.
Daniel mengetuk jendela kamar Denisa, membuat Denisa terjaga dan membuka mata. Pandangan langsung menuju pada sosok tampan yang sedang tersenyum padanya.
"Kakak," lirihnya masih belum dengan kesadaran penuh. Daniel melambaikan tangannya dan kembali mengetuk jendela kamar Denisa, Denisa mengucek mata, dan matanya seketika terbelalak jika yang dilihatnya nyata.
"Kakak?"
"Bukain," katanya tanpa bersuara.
__ADS_1
Denisa membuka selimutnya dan menurunkan kakinya dari ranjang berjalan menuju jendela. Rasa percaya tak percaya, Denisa langsung membuka jendelanya.
Ceklek.
Daniel langsung menarik tubuh Denisa dan memeluknya.
"Aku kangen." Ujarnya menghirup dalam aroma rambut Denisa.
"Kak, kenapa Kakak bisa disini?"
"Aku kangen." Hanya itu yang bisa ia katakan. Daniel melerai pelukanya. menangkup pipi Denisa dan mengusap-usap pipi Denisa, "aku masuk ya?"
"Jangan, nanti ketahuan." larangnya dengan suara ditahan.
"Nggak papa, biar kita digrebek dan dinikahin."
"Kak, jangan nekat."
Daniel tak mengindahkan ucapan Denisa, dia membuka lebar jendela jungkit kamar Denisa, dan naik ke jendela itu. Denisa memundurkan kakinya agar Daniel bisa masuk.
"Astaga Kakak, kalau ketahuan gimana? Kak Abian pasti marah besar nanti." Kata Denisa dengan masih suara tertahan. Daniel menutup jendela perlahan.
"Aku nggak perduli, yang penting aku bisa ketemu kamu, dan aku nggak mau kita putus, kita akan menikah aku pastikan itu."
"Kak, jangan memaksakan, aku takut."
Daniel memegang kepala Denisa. "Apa yang kamu takuti? Aku yang tidak setia? masa laluku? Denisa harus dengan apa aku bilang, aku cinta sama kamu, kamu jangan ragu, beri aku kesempatan, restu itu tidak penting yang penting kamu mau sama-sama berjuang bareng aku."
Mereka berdua saling tatap dalam diam. "Kamu cinta kan sama aku Denisa, aku hanya butuh jawaban kamu, kamu cinta apa tidak? Jika cinta, ayo berjuang bersama-sama."
Denisa masih diam tak menjawab, diselaminya mata Daniel untuk mencari ketulusan dan kejujuran.
Tok Tok Tok.
__ADS_1
"Denisa, Dek. Kamu lagi sama siapa?" Suara Delia sang Kakak terdengar memanggil dan mengetuk pintunya