
Hati tak bisa berbohong, tapi tak jua bisa memaksa. Badannya terasa lemas, sejak sepulang dari rumah Denisa kakinya seakan tak bisa menopang berat tubuhnya, jalanya gontai dan seakan melayang.
"Maaf, mas. Aku nggak bisa menolak lamaran kamu, aku sudah menjatuhkan pilihan ku siapa yang menjadi papi Dara."
"Apa mantan suami kamu itu, Nis?"
Wanita yang membuatnya rindu setengah mati karena tak berjumpa beberapa hari itu mengangguk dalam tunduknya. Dia dan Denisa diberi kesempatan untuk berbicara berdua di taman depan rumah Abian.
"Beri aku kesempatan, Nis. Kamu tahu aku begitu mencintai kamu. Aku mengabaikan banyak wanita demi kamu, hanya kamu yang membuat hati aku berdebar Nis."
"Dara hanya mau papinya Mas, kami juga saling mencintai."
Bagai dihantam batu besar mendengar kata keramat itu. Diapun menarik nafas mencoba menetralkan suasana hatinya, dia masih terus berusaha.
"Tidak ada kesempatan untuk aku, Nis? Padahal aku sudah mencoba menjadi laki-laki yang tidak memaksa, aku datang melamar mu langsung. Apa tidak ada pertimbangan lagi untuk ku? Aku mencoba menjadi laki-laki yang baik dengan tidak mempermainkan mu, aku datang dengan hubungan yang pasti, bukan menjadi laki-laki pemberi harapan palsu. Bukannya wanita menyukai laki-laki seperti ku?"
"Maaf mas."
"Pikirkan lagi, Denisa."
"Sudah ada adik Dara diperut Denisa, apa kamu masih akan tetap memaksanya?"
Entah sejak kapan dan dari mana, tiba-tiba Daniel muncul dari belakang mereka, dan merangkul pundak Denisa. Perasaan saat dia datang laki-laki menyebalkan itu tidak ada, bersembunyi dimana dia?
Bukannya yang dia dengar, laki-laki itu tak dapat restu dari pihak keluarga wanita? Oh astaga, apa katanya tadi, sudah ada adik Dara? Dia melakukan itu? Licik sekali caranya.
Ricko berdiri dan menatap Daniel. "Aku tidak masalah, aku akan menerima bayi itu dengan senang hati jika Nisa mau menerima ku, aku mencintainya tulus, bagaimana pun keadaannya, aku menerimanya," jawabnya yang membuat Denisa dan Daniel terkejut, tak menduga atas jawaban Ricko.
Mata Daniel menukik menatap tajam Ricko, dengan posesif dia menarik tangan Denisa dan merangkul pinggangnya.
"*Bagaimana Nis, kalau kamu tidak merasa nyaman bersamanya dan tertekan, aku menerima kamu apa adanya."
"Mas-" Denisa tak mampu berkata-kata lagi, dia menjadi takut dengan Ricko*.
"Kamu waras, Pak Dokter?"
"Cintaku tulus, apa itu salah?"
"Cih, kamu benar-benar naif. Sakìt jiwa, aku tidak akan menyerahkan Denisa untuk siapapun termasuk kamu. Bangunlah, jangan bermimpi di siang bolong, dan jangan berekpetasi terlalu tinggi, rasanya sakit." Daniel segera membawa Denisa pergi meninggalkan Ricko dengan sejuta rasa sakit hatinya.
"Bukan jodoh Nak. Tidak bisa dipaksakan, kamu sudah berusaha dan mengungkapkan perasaan mu," ucap seorang ayah yang menguatkan anaknya saat Ricko kembali dengan bahu melemah dan wajah tertunduk.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama dia melamun, dengan tangan yang sejak tadi terus mengaduk es kopi latte pada cangkir shake yang ada dihadapanya, pandanganya menerawang kosong pada dinding kaca yang memperlihatkan suasana di luar cafe.
Suasana cafe mendadak menjadi ramai sebab diluar tengah turun hujan, tak begitu lebat, namun siapapun yang berani menerobosnya dapat membuatnya kebasahan. Walau begitu, tetap membuat seorang dokter muda spesialis jantung itu merasa sepi, bahkan wanita yang duduk dihadapan pun tak mengusik lamunannya.
"Lima belas menit waktu ku terbuang percuma, cuma buat nemenin orang melamun." Wanita itu mengangkat arloji, tersenyum mencebik, melipat tangan didada dengan menyandarkan tubuhnya di sofa cafe tempatnya janji temu.
"Amanda, sejak kapan kamu disini?"
"Hampir lumutan tepatnya."
Menarik nafas, ia kembali mengaduk minuman yang belum ia cicipi sedikitpun. "Aku kalah, Man. Langkah mereka cukup cepat, menanam saham sepertinya menjadi modal untuk mereka bersatu."
Amanda kembali mencebik. "Udah ketebak sih, dengan begini kan menunjukkan kualitas siapa mereka sebenarnya. Dasar Daniel bòdoh nggak bisa memilih mana wanita berkelas mana wanita rendahan. Masa kejebak sama wanita yang sama untuk kedua kalinya."
"Bukan Denisa yang rendahan, aku yakin ini hanya trik Daniel untuk mendapatkan restu mama Denisa, kalau dia rendahan mungkin dia sudah gonta-ganti pasangan sejak dulu." Mana mungkin seseorang mau membuka aibnya terang-terangan jika bukan orang itu tidak waras dan urat malunya sudah putus.
"Mata kamu tertutup oleh cinta buta sih Ric," ketus Amanda, dia jadi ilfiil pada keduanya sekarang mengetahui kenyataan jika Daniel dan Denisa melakukan cara kotor dan kèji demi mendapat restu, "kamu terlalu baik buat dia, aku justru senang kamu nggak jadi sama dia, sebagai sahabat, aku mau kamu dapat wanita yang suci dan lebih baik dari dia. Bukan wanita bekas sana-sini, mau celup sana, celup sini."
"Opini mu terlalu jauh tentang dia Man. Dia bukan wanita yang seperti itu, kamu tahu aku baru kali ini menjatuhkan hati dengan seorang wanita, Denisa berbeda dari wanita yang lain." masih terus membela, Amanda merotasikan matanya jengah.
"Tau dari awal aku harus mendengar pujian wanita yang nggak tau diri, mending nggak usah dateng."
"Kamu sudah pesan minum, Man?"
Amanda mengangkat bahu, Ricko melebihi dirinya saat sakit hati, sampai jiwanya tak tahu terbang kemana.
* * *
"Tiga hari Daniel?" Dina tak tahu apa yang dilakukan Daniel sampai sudah mendapat restu dari mama Denisa. Pulang-pulang anaknya mengatakan meminta restu tiga hari lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Denisa.
"Aku takut mama Denisa berubah pikiran Ma."
"Mama harus apa Daniel? Mama tak bisa melawan takdir, Mama hanya berharap kamu jangan pernah bermain-main dengan pernikahan, jadikan ini yang terakhir."
"Amiin, maksih Ma. Mama wanita terbaik di dunia, Daniel tidak akan melupakan jasa-jasa Mama." Daniel mengecup pipi sang mama, wanita terbaik dalam hidupnya.
"Nggak udah muji, Mama nggak butuh itu." Dalam hati dia mengharu, dan berdoa yang terbaik untuk anaknya.
Tak ada ibu yang begitu kejam dengan anaknya, sebenci dan sekecewanya pada anak, tetap kasih sayangnya tak bisa terabaikan, tanpa persetujuan Daniel, Dina nampak menghubungi seseorang.
"Halo jeng. Iya aku Dina. Mau pesan kebaya dan beskap, untuk tiga hari lagi. Bisa? Ya buat anak aku lah, mosok buat aku." hehehe, menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, tiba-tiba salah tingkah sendiri, bayangan gagah papa Ricko lewat dalam pikirannya. "opo iyo ada yang masih sama aku." cekikikan menutup mulut.
__ADS_1
Daniel yang sudah memutar handle pintu dibuat tersenyum, dia nampak berkaca-kaca mengingat dia begitu menyebalkan. Daniel berbalik menghampiri Dina, memeluknya dari belakang.
"Makasih Ma, maaf sudah setua ini masih menyebalkan, masih membuat kesal Mama."
Mama mengharu, melepaskan tangan anaknya yang nakal. "Awas, jangan sok manis." Tapi hati tak bisa dibohongi, matanya menitikkan air asin yang tak ingin ia tunjukkan pada anaknya, Daniel tahu itu memutar tubuh sang mama. "Jangan menyakiti wanita lagi, sudah akhiri petualangan cinta kamu. Mama memikirkan Dara bukan memikirkan kalian," ujar Dina dengan suara serak dan bergetar karena menangis.
"Apapun alasannya aku terima kasih sama Mama." Daniel meletakkan kepalanya dipundak mamanya yang masih kokoh tak lekang oleh usia.
"Jaga Denisa dan Dara." Dina menepuk-nepuk punggung anaknya, mengusap air matanya yang tak ingin berhenti keluar.
* * *
Tak ingin mengulur waktu, keesokanya Daniel dan Denisa bertolak ke Subang meminta restu pada keluarga besar Denisa yang akan menjadi wali Denisa dengan menggunakan seorang supir, sebenarnya bisa saja dia menghubungi lewat jaringan telekomunikasi, tapi tak apdol rasanya.
Dia ingin menjadikan wanita yang begitu ia cintai merasa dihormati dan dihargai, dimulai dari menghormati seluruh anggota keluarganya, dan meminta maaf secara langsung atas perbuatannya dulu yang tak bisa mempertahankan rumah tangganya bersama Denisa.
Dan hal yang lebih penting lagi, mereka harus berziarah ke makam almarhum Papa Denisa. Barulah mereka kerumah paman Denisa yang dulu juga mewalikan Delia dan Dania.
Dara tak bisa ikut, karena kecapean tubuhnya mendadak panas.
"Hahaha, jodoh memang tak akan kemana ya, dulu kalian berpisah diusia pernikahan seumur nyamuk, baiklah aku akan datang menjadi wali kalian untuk kedua kalinya, pernikahan kedua, dengan orang yang sama." ledek paman Denisa. Daniel tersenyum, dengan sisa tawanya paman Denisa kemudian tiba-tiba terdiam.
Matanya tiba-tiba memanas, mengingat keponakan-keponakannya kini sudah menemukan jodoh mereka masing-masing, dan dari keluarga terpandang.
"Kami ini keluarga, tapi jauh, tak bisa memantau keponakan-keponakan kami disana. Aku selalu berpesan, dan hanya bisa menitipkan mereka, jangan pernah disakiti dan disia-siakan, kalau memang tidak suka lagi, kembalikan baik-baik dalam keadaan yang utuh, tanpa luka, baik luka yang terlihat, maupun luka yang tak terlihat," ucapnya berpesan, "kami memang dari keluarga tak punya, tapi jika salah satu keluarga kami ada yang tersakiti, kami akan bersatu, melawan mu."
Daniel mengangguk, dan berjanji pada paman Denisa untuk selalu menjaga Denisa dan Dara.
"Saya sudah siapkan bus untuk keluarga Subang paman, mohon kehadiran untuk semua keluarga besar Subang. Maaf, karena terbatasnya waktu, saya tidak bisa mengunjungi satu persatu." Paman pun mengangguk, kemudian Daniel dan Denisa berpamitan untuk bertolak ke Jakarta, sebab mereka juga harus melakukan feeting baju pengantin.
"Kak, terima kasih sudah mau capek-capek ke Subang menemui keluarga besar aku," ucap Denisa saat mobil sudah melaju membelah jalanan.
"Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Mi. Kamu dan keluarga kamu sudah memberi aku kesempatan, aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, membuktikan keseriusan ku." Denisa tersenyum, menatap dalam mata Daniel, untuk sesaat keduanya saling pandang dalam diam.
Setan disekitar mereka berebut menghasut untuk Daniel memakan bibir merah muda Denisa yang terlihat menggoda.
"Aku mau banget makan bibir kamu sampai bengkak, Mi. Tapi akan lebih nikmat kalo aku puasa sampai dua hari kedepan, buka puasanya akan terasa labih nikmat." diusapnya ujung bibir Denisa, Denisa tak tahu saja, jika adik kecil dibawah sana sudah menggelembung seperti balon yang ditiup, membuat celana Daniel terasa sesak.
Para setan melemah, ternyata laki-laki mantan cassanova itu imannya sudah kuat, mereka pun harus pergi dengan perasaan kecewa.
Karena perjalanan masih jauh, Daniel menarik kepala Denisa dan meletakkan dipahanya, dengan sayang Daniel mengusap-usap rambut Denisa, sampai tanpa sadar keduanya sama-sama terpejam karena kelelahan perjalanan jauh.
__ADS_1