My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa

My Ex Husband, story's Daniel dan Denisa
Kerokan


__ADS_3

Berkali-kali Daniel menghubungi nomor Denisa, tapi nomor Denisa tidak aktif, ini bukan faktor signal, tapi Daniel tahu Denisa pasti sengaja mematikan teleponnya.


Daniel meremas ponselnya geram, bisa-bisanya Denisa membohonginya, ini tidak bisa ditoleransi. Daniel berpikir kemana Denisa bersembunyi, tadi dia melihat Denisa keluar hanya membawa sebuah handuk dan pakaian ganti yang akan dia kenakan. Daniel terus berpikir, satu yang menjadi tujuannya yaitu kamar Sisi, karena setahunya, hanya Sisi yang dekat dengan Denisa selama ini, iya, Daniel yakini pasti Denisa ke kamar Sisi.


Danielpun kekuar dari kamar Denisa, mengecek denah kamar dan melihat nama-nama penghuninya, dan menemukan nama Sisi yang ternyata bersebelahan dengan kamar Denisa.


"Eh, Pak. Selamat malam." Sisi membungkukkan badan tanda hormat, terkejut karena yang mengetuk pintu kamarnya Daniel.


Ada apa?


"Apa ada Denisa dikamar kamu?" tanyanya langsung, matanya memgintip yang tak terhalang tubuh kebar Sisi, tngannya masih menggenggam ponsel miliknya.


"Maksudnya, dokter Nisa?"


"Hem, apa dia ada disini?" Sisi jadi takut melihat wajah dingin Daniel.


"Ti-tidak ada Pak," jawab Sisi menggeleng gugup, "a-apa ada hal penting, Pak?"


Daniel menggaruk alisnya. "Tidak ada," kemudahan dia berdehem, "tadi Amanda telepon, ingin bicara dengan dokter Denisa, katanya, dia sudah menghubungi Denisa, tapi hapenya nggak aktif." Jelasnya yang sudah pasti berbohong, sengaja Daniel mengatakan seperti itu, agar Sisi tak menaruh curiga, dan sudah pasti demi nama baik Denisa, seg1lanya dia pada Denisa, tetap tidak akan membahayakan nama Denisa.


"Tadi si katanya memang mau tidur dikamar saya, tapi saya tunggu dia belum datang, apa dikamarnya tidak ada, Pak?"


"Nggak ada, yasudah, maaf mengganggu."


"I-iya Pak." Jawab Sisi gugup, dia bisa melihat raut wajah marah Daniel.


Tidak ditemukanya Denisa, membuat Daniel cemas, dia takut terjadi sesuatu dengan Denisa, Daniel kembali lagi ke kamar Denisa, berharap Denisa sudah kembali, tapi tak juga menemukan Denisa, Daniel sampai mengecek kamar mandi wanita, beruntung malam ini sedang tidak ada siapa-siapa, kalau tidak, dia bisa dituduh ingin memgintip.


Daniel mendesah, dia memilih turun dari lantai tiga kamar Denisa, menuju kapal ferry dimana kamarnya berada, namun saat akan naik, dia melihat dua orang yang bisa dipastikan laki-laki dan perempuan sedang duduk berdua di dermaga.


Daniel menajamkan netranya, matanya menyorot tajam dari atas kamarnya dua sosok yang sedang duduk bersebelahan itu, mereka nampak begitu akrab dan dekat. Seketika dadanya memburu saat mengetahui siapa keduanya, dia pun menghubungi ketua dokter yang menaungi rumah sakit Citra Medika Healt.


"Tapi papa Mas Ricko sehat kan disana?" Denisa menoleh, menatap Ricko yang terlihat sedih karena merindukan sang papa.


Ya, ketika Denisa selesai mandi, dia melihat Ricko sedang melakukan sambungan telepon dengan papanya di aula, Ricko terlihat sedih, ternyata laki-laki itu sedang merindukan papanya. Sempat terkejut dengan keberadaan Ricko, takut Ricko tahu Daniel dikamarnya, jadilah Denisa menemui Ricko, dan keduanya mengobrol, Ricko mengajak Denisa ke dermaga untuk menemaninya yang tak bisa tidur, sekedar mencari angin.


"Papa sehat, hanya saja orang tua seusia papa, mulai sering sakit-sakitan," Ricko tersenyum, balas menatap Denisa.


"Hmm sama kayak mama aku mas."


"Dara apa kabar Nis? Aku kangen sama Dara."


"Sehat juga mas, apalagi aku, bisa video calon saja sudah senang banget rasanya."


Ricko menatap segerombolan ombak didepannya. "Kita itu merasa sangat membutuhkan orang yang selama ini terabaikan jika sudah berjauhan seperti ini ya Nis, dulu aku ke papa nggak ada rasa kangen sama sekali, sekarang giliran berjauhan seperti ini, baru merasa rindu, ingin memberikan yang terbaik, merasa menyesal, banyak lah pokoknya."


Denisa kembali menatap Ricko dari samping, rasa kagum itu kembali muncul, Ricko sosok laki-laki yang berbeda, jarang sekali seorang anak laki-laki mengungkapkan perasaannya terhadap orang tuanya, dia sendiri yang sebagai seorang wanita, jarang sekali mengungkapkan atau berat menyatakan jika dia merindukan mamanya. Ricko tipe laki-laki penyayang, beruntung sekali wanita yang bisa menjadi pendampingnya.


"Kalian ngapain berduaan disini?" Denisa dan Ricko menoleh, keduanya sontak berdiri, Denisa mengibaskan bagian pantattnya membersihkan debu yang mungkin menempel di celananya.


"Dok." Ricko menyapa dokter Evan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Malam-malam jangan diluar, angin laut nggak bagus buat kesehatan. Yuk masuk." ujar dokter Evan. Dia berbalik melangkah terlebih dahulu. "Eh, Dokter Nisa, kamu bisa bantu saya?"


"Ita Dok."


"Tadi ada anak buah kapal yang sakit, sepertinya masuk angin, kamu bisa periksakan sebentar, soalnya dokter yang lagi tugas, sedang ada pasien muntaber yang harus segera ditangani."


"Baik Dok, saya kesana, saya mengambil peralatan dulu."


"Aku temani Nis."


"Dokter Ricko sebaiknya membantu operasi dokter yang lain, malam ini kita banyak melakukan operasi."


Memang benar, malam ini mereka banyak memjadwalkan operasi, terbatasnya dokter bedah, terkadang mengharuskan dokter yang lainnya ikut membantu semampu mereka.


Mereka akhirnya berpisah, Denisa memgambil peralatan periksanya diruang UGD, sedang Ricko membantu operasi.


Denisa berjalan menuju kapal ferry yang berada disamping kapal tongkang yang dijadikan ruang rumah sakit, Denisa menundukkan kepala saat berpapasan dengan para abk yang lain, sedang dia kini menaiki tangga menuju anjungan, tadi dokter Evan memberi tahu, jika abk yang sakit berada dikamar atas, dekat kamar kapten nahkoda.


Denisa mengetuk pintu itu sebelum masuk. Dia terkejut saat yang membukakan pintu ternyata, Wahyu.


"Kok, pak Wahyu?" tunjuk Denisa.


Wahyu nyengir. "Kan ini kamar saya, Dokter cantik."


Pranggg


Terdengar suara barang yang dilempar dari dalam kamar, Denisa memanjangkan lehernya ingin melihat kedalam. Wahyu meringis, pasti Daniel pelakunya, tak suka dia memuji Denisa. "Teman saya yang sakit," ujar Wahyu mempersilahkan Denisa masuk.


Wahyu segera menutup pintu dan keluar, mengunci pintu dari luar. "Nasib-nasib, sekarang tidur dimana coba? Gini nih punya temen yang lagi kasmaran."


Denisa menoleh, menyadari pintu yang dikunci, kini dia menyesal dan merutuki kebodohannya yang tidak menaruh curiga sama sekali, karena tadi yang menyuruhnya dokter Evan.


"Senang, merasa bisa kabur?" suara bariton Daniel membuat Denisa kembali berbalik menatapnya. Wajah Daniel terlihat dingin dan menyeramkan.


"Aku nggak bermaksud kabur, tadi nggak sengaja bertemu mas Ricko."


"Jangan panggil dia seperti itu didepanku. Telinga ku mendadak alergi mendengar namanya." Daniel berjalan maju, mendekati Denisa, seraya melepas kaosnya. Denisa menjadi takut.


"Ka-kak mau apa?"


"Kerokin."


"Kerokin?"


"Aku masuk angin menunggu satu jam lebih dikamar sendirian." Daniel merebahkan tubuhnya tengkurap diatas tempat tidur. Denisa melongok dibuatnya, dia sudah berpikir yang macam-macam.


Denisa tak lantas menuruti perintah Daniel, dia diam ditempat. Dia memang berencana meninggalkan Daniel ke kamar Sisi, tapi tak menyangka jika akan bertemu Ricko.


"Tapi aku nggak punya koin." Denisa beralasan.


"Dinakas ada koin, sama minyak kayu putihnya."

__ADS_1


Denisa mendesah, tak ada alasan lagi untuk menghindar, dia melnagkah menuju nakas, mengambil koin dan minyak kayu putih yang sudah Daniel siapkan. Takut-takut Denisa ikut naik keatas tempat tidur.


Daniel menoleh, dan tersenyum saat merasa kasurnya bergerak. "Kamu kurang makan Mami selama disini? gerakan kasurnya pelan." Ucap Daniel random.


"Apasih? Aku terbiasa seperti warga sini, makan sehari sekali."


"Tapi kalau kita sudah menikah, kamu harus banyak makan, biar nanti kerasa empuk diatas kasur, bukan keras, yang terasa tulang dan kulit." Daniel terkekeh saat Denisa menatapnya tajam.


"Ini jadi dikerok nggak?"


"Jadi donk Mami."


"Kapan istri Kakak datang?Jadi kalau sakit ada istri yang kerokin."


"Ada selir, enakan selir yang kesokin. Jadi lebih menantang, ini aja celana aku udah sesak, Mami."


"Berenti ngomong mesum, aku nggak kerokin nih." Denisa mengancam.


"Iya sayang, kalau bahas yang begituan itu bikin nggak ngantuk loh, Mami. Jadi Mami nggak ngantuk, ngerokinya juga cepet." ujarnya terkekeh.


Denisa pun mulai membalurkan minyak kayu putih dipunggung atas Daniel walau kesal, dan disana Denisa baru melihat, jika dileher bagian tengah Daniel terdapat tato bertuliskan 3D.


"Kenapa Mami? Ada yang spesialkah" tanyanya sedikit menoleh. "itu bukti cinta aku sama istri dan anak-anak aku." lanjutnya.


"Hapus Kak, jaga perasaan dokter Amanda." ucap Denisa memulai tugasnya.


"Siapa kamu, ngatur-ngatur, istri bukan, pacar bukan." Ucapnya membuat Denisa melipat bibir, dongkol. "Lagian 3D siapa, kamu tahu? D yang satunya bukan kamu, kamu jangan geer ya." Awww teriak Daniel saat Denisa mencubit kecil punggungnya.


"Geli, mau lagi donk, Mami. Rasanya bikin gerak-gerak yang dibawah." Awww teriaknya lagi mendapat cubitan yang kedua dari Denisa.


"Mesum."


"Kan aku udah bilang, bahas seperti itu bikin nggak ngantuk."


Denisa tak lagi mau menaggapi, dia ingin cepat selesai, dan setelah semua punggung Daniel ia beri tatto, Denisa beranjak dari tempat tidur.


"Mau kemana?" cekal Daniel pergelangan tangan Denisa.


"Udah selesai, aku mau ke kamar."


"Gantian kamu yang aku kerokin."


"Nggak," Denisa menyilangkan tangan didada.


"Mami, kata orang tua jaman dulu, kalau kita nggak balik kerokin, kamu yang jadi sakit, sini buka bajunya, aku kerokin balik, aku nggak mau kamu jadi sakit."


"Nggak usah, jangan! Aku nggak pernah kerokan." Denisa semakin mengeratkan tangannya didada.


"Sini Mami, aku bukain bajunya." Tarik Daniel tubuh Denisa, dia sudah memegang ujung piama bergambar beruang milik Denisa, sedang Denisa sekuat tenaga mempertahankan bajunya agar tidak terbuka, dan jadilah mereka tarik menarik, Denisa mempertahankan baju miliknya, Daniel sekuat tenaga membuka baju Denisa. Hingga ...


Brettttt

__ADS_1


Baju Denisa robek, hingga memperlihatkan bagian dadanya terekpose.


__ADS_2