
Hari berganti, belum ada tanda Denisa melahirkan, ini sebenarnya sudah melewati lima hari dari perkiraan lahir. Padahal dari sejak usia kandungan tujuh bulan Denisa rajin jalan pagi ditemani Daniel, ia pun ikut senam hamil setiap tiga kali dalam seminggu.
Obat perangsàng dari dokter kandungan juga sudah diberikan, Denisa sebenarnya sudah disarankan untuk melakukan operasi, tapi mengingat air ketubanya masih cukup, dan kandunganya masih baik-baik saja, Denisa mencoba untuk melahirkan secara normal, itu juga disetujui dokter yang menanganinya, namun jika sudah tidak memungkinkan untuk normal, baru Denisa memilih mengambil jalan operasi.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, seisi rumah yang lain sudah terlelap di dunia mimpi mereka, malam ini Dara tidur brrsama mama Denisa, tapi tidak dengan Denisa dan Daniel, Daniel dengan sabar mengusap punggung istrinya yang terasa panas.
"Sayang, kalau kamu udah nggak kuat, jangan dipaksakan lahiran normal, besok kita jadwalkan operasi aja."
"Iya, lihat besok aja, Kak." gumam Denisa dengan mata terpejam, menikmati usapan lembut tangan suaminya. Sungguh Denisa merasa beruntung, Daniel menjadi suami siaga untuknya.
"Dedek, anak Papi yang pinter, yuk keluar yuk! Kasihan Mami udah engap, dedek betah banget didalam. Emang nggak mau ketemu Mami sama Papi? Kak Dara sama nenek juga, mereka udah nggak sabar loh mau ketemu dedek. Yuk jangan didalem aja, dedek nggak penasaran sama wajah Papi yang tampan?" bisik Daniel diperut istrinya, Denisa terkekeh mendengar kenarsisan Daniel mengajak anaknya bicara.
"Papi kamu percaya diri sekali ya Dek."
"Iya donk! Kalo nggak gitu, mana mau Mami sama Papi." jawab Daniel semakin narsis, "dari awal bertemu juga Papi udah yakin bisa dapetin Mami kamu lagi."
"Hem, tahu begini, Mami tolak aja ya dari awal."
"Papi tetap kejar sampai dapat, siapapun yang deketin Mami, Papi sikat. Enak aja, pokoknya bagaimana pun caranya, Mami harus jadi milik Papi lagi."
"Egois itu namanya." Denisa membalikkan badan menghadap suaminya.
"Bukan egois, itu namanya gigih. Laki-laki pejantan yang baik tidak akan berkata, 'maaf aku bukan Laki-laki yang baik untuk kamu'. Tapi dia akan memperjuangkan sampai dapat." Denisa tak dapat menahan rasa bahagianya diperjuangkan oleh Daniel.
"Makasih." Tanganya mengusap lembut pipi Daniel.
Daniel mengambil tangan Denisa, dan mencium punggung tangan Denisa mesra. "Kalo Mami begini, Papi pengen nengokin dedek deh."
"Mesùm, nggak kasihan perut istrinya yang udah besar."
"Mami kan tinggal nikmati aja, Mi. Papi yang kerja keras."
"Udah, ah. Makin nggak bener papi kamu dek. Mami kebelet dulu."
"Lagi?" Daniel mendesah frustasi. Entah sudah keberapa puluh kali Denisa keluar masuk toilet untuk buang air kecil, Denisa bangkit dengan sedikit kesusahan, karena perutnya yang besar.
"Aku bantu."
"Nggak usah, Kak. Aku bisa sendiri, hamil besar nggak boleh malas." Denisa tersenyum perlahan menurunkan kakinya. Daniel yang tak sabar, turun lebih dulu dan bergegas menghampiri Denisa.
"Kak!" pekik Denisa terkejut karena Daniel langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.
"Biarin aku manjain kamu, kamu nolak pun aku maksa. Aku kasihan dari tadi kamu bolak-balik kamar mandi terus."
"Kan emang begini kalau sudah bulanya." Tak bisa melawan lagi jika sudah seperti ini, Denisa hanya bisa pasrah.
Setelah selesai dengan ritualnya, Denisa keluar dengan wajah yang berubah sendu. Daniel kini sangat peka dengan perubahan sekecil apapun dari Denisa menyadari itu.
"Kenapa sayang?"
"Kayaknya baby-nya udah mau ketemu kita."
__ADS_1
"Apa?" Daniel mememkik terkejut. "Mana yang sakit? Bagian mana? Ayo kita kerumah sakit sekarang." digendongnya lagi Denisa menuju tempat tidur. "Masih bisa tahan kan, aku ambil perlengkapannya dulu."
Denisa kembali mengulas senyum atas kesiagaan Daniel. "Jangan panik Kak. Ini masih awal, kalau mulesnya udah sering, sepuluh menit sekali, baru kita ke dokter."
Daniel yang sedang menyiapkan tas yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari melihat Denisa yang menuruni tempat tidur.
"Kamu mau apa? Diam ditempat." Perintahnya tak ingin dibantah. Denisa terkekeh dan itu membuat Daniel makin gusar. "Mami kol ketawain Papi sih?"
"Emang harus seperti ini, banyak gerak. Banyak jalan, biar prosesnya cepat."
"Kamu bisa sesantai itu, tapi aku mana bisa sayang. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kalian."
"Iya, Pi. Tapi Mami udah tau kok ini akan baik-baik aja. Emang harus seperti ini, jika dirumah sakit pun, mami pasti disuruh jalan dulu." Ujar Denisa sambil berjalan didalam kamarnya.
Daniel menarik nafas, kemudian menelepon mamanya yang tidur dibawah. Memberi tahu jika Denisa sudah mau melahirkan. Daniel merutuki panggilanya yang langsung dijawab, semalam ini mamanya masih belum tidur, dan yang lebih menyebalkan, nafasnya terdengar terengah.
"Kita berdua saja Kak yang kerumah sakit, mama-mama biar pada dirumah saja, kasihan mereka, takut kecapean."
"Iya, setidaknya aku sudah memberitahu mereka."
Lima belas menit berlalu, Denisa merasakan perutnya semakin sering merasakan kontraksi, sudah tak sanggup lagi berdiri.
"Aku sudah bilang tadi, lebih baik kita segera ke dokter." Denisa pun mengangguk. Daniel menggendong Denisa menuruni anak tangga, membawanya kedalam mobil yang sudah supirnya siapkan.
"Mama menyusul besok pagi saja, doakan kelahirannya lancar, Mami sama dedeknya sehat." ucapnya setelah masuk ke mobil.
"Iya sayang, kalian hati-hati." ujar Dina dan mama Denisa, melepas mobil mereka yang menjauh meninggalkan pekarangan rumah.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di klinik milik Denisa itu, tanpa menunggu brankar, Daniel menggendong istrinya menuju ruang persalinan.
Melihat istrinya yang menggeram menahan kesakitan, Daniel semakin kasihan saja, andai bisa ditukar, dia ingin, dia saja yang merasakan sakit dan menanggung semuanya, namun apalah daya, apapun yang ia miliki di dunia ini, tak bisa menukar itu semua.
Kini Daniel melihat sendiri perjuangan Denisa, dari ngidam hingga sampai titik ini, begitu besar perjuangan seorang wanita, apalagi Denisa yang berjuang mati-matian demi bisa melahirkan secara normal, segala cara istrinya itu lakukan, Daniel juga tahu, Denisa sempat stress karena keterlambatan lahiran dari hari perkiraan, meski istrinya itu berusaha menutupi darinya.
Dan didepan mata kepalanya sendiri, kini dia melihat bagaimana Denisa bertaruh nyawa demi keselamatan buah cinta mereka. Daniel menyaksikan, bagaimana proses keluarnya buah hatinya, dia melihat inti tubuh istrinya yang kecil bisa membesar dengan sendirinya, kala ujung kepala dengan rambut-rambut hitam itu perlahan keluar.
Tangisnya pun tak bisa dicegah, kala mendengar tangisan melengking itu terdengar jelas menggetarkan hatinya. Daniel mengharu, tanganya bergetar disaat suster meletakkan bayi merah yang sudah dibedong itu diletakkan di tangannya untuk digendong dan diberi seruan nama sang pencipta.
Masih dengan derai air mata, Daniel meletakkan anaknya untuk mendapatkan asi pertamanya. Daniel mencium kening Denisa lama, sambil menggumamkan rasa terima kasih yang tak terhingga, atas perjuangan hebat istrinya.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah berjuang untuk anak kita."
Kabar bahagia ini langsung Daniel bagikan di grup chat keluarga, ucapan selamat pun ia terima, dan grup chat begitu ramai.
"Aku ada ide nih buat kasih nama." dari Abian.
"???" Mahesa membalas.
"Eh ini anaknya cwk, apa cwk sih?" balas Abian lagi bertanya.
Merasa ketikan Abian yang ambigu, Daniel membalas.
__ADS_1
"Cwk."
"Eh anjirrrr, serius ini. Kita bingung nanti kasih kadonya. Bingung juga kasih namanya."
"Nggak butuh saran nama dari lo. Yang ada nggak jelas."
"Udah deh, ini aja namanya. 'Mosqoito larvae'. Lucu tuh." Diserta emoji tertawa diujungnya.
Mahesa membalas dengan emoji tertawa sampai mengeluarkan air mata.
"Kamprettt." balas Daniel sewot.
"Itu nama yang unik tau, ke eropa-eropaan, cocok buat cwk atau cwk."
"Terusin aja, asal kalian semua bahagia." Daniel kembali membalas.
"Cieee ambekan." Abian.
Mahesa hanya membalas emoji tertawa lagi.
"Apaan sih Mahesa." Abian kesal dengan adik ipar bontotnya.
Daniel melempar ponselnya di ranjang Denisa.
"Ada apa? Kok kelihatan kesel."
"Kalo aku boleh milih, aku nggak mau iparan sama Abian."
"Emang kenapa?" Daniel hanya mengendikkan bahunya. "Sayang, aku akan menamakan anak kita dengan 'Danish Reifansyah Danuarta'. Kamu setuju?"
Denisa mengangguk, iya sengaja tidak menyiapkan nama, memberi kesempatan Daniel yang memberikan namanya. "Iya, namanya bagus. Kapan Kakak siapin nama itu?"
"Sejak tahu kamu hamil."
.
.
.
.
...~TAMAT~...
Alhamdulillah, akhirnya bisa terselesaikan juga. Terima kasih banyak untuk pembaca ku yang sudah meluangkan waktunya, like dan komenya, dan juga yang sudah memberikan hadiah bunga, kopi, dan lain sebagainya untuk karya yang sangat-sangat banyak kekurangan ini.
Semoga kalian selalu dilimpahkan rejeki dan sehat yang tak terhingga. Maaf hanya ucapan terima kasih yang bisa aku berikan, tidak bisa memberi apapun. Hanya tuhan yang bisa membalas kebaikan kalian semua.
Semoga ada hikmah yang bisa diambil dari cerita yang lumayan panjang ini. Ambil yang bagusnya, dan buang yang tidak pentingnya. Hehehe kayaknya banyak yang nggak pentingnya ya.
Love you all 😘 😘 sehat-sehat terus ya.
__ADS_1